TintaSiyasi.id -- Palestina adalah negeri kaum Muslim yang diberkahi. Sebelum institusi Islam khilafah runtuh, Palestina terus terjaga dan keberkahan sistem Islam khilafah menaungi seluruh umat manusia. Sang Khalifah tidak akan membiarkan siapa pun merebut dan mencabik-cabik persatuan dan kesatuan kaum Muslim termasuk Palestina. Meskipun kondisi negara Islam (khilafah) pada saat itu sudah lemah sekalipun, mempertahankan kedaulatan negara sebagai negara yang bersyariah adalah yang paling utama.
Tapi, semenjak tahun 1948 Masehi, wilayah Barat Palestina (Gaza) telah dikuasai oleh zionis Yahudi. Hal ini terjadi disebabkan institusi penjaga Islam khilafah telah diruntuhkan pada Maret 1924 M. Setelah keruntuhan itu umat dipimpin oleh sistem kufur buatan manusia kafir kapitalisme demokrasi sekuler.
Semenjak itu warga Palestina terus menderita. Jumlah rakyat dan wilayah Palestina saat ini hanya tinggal beberapa persen saja. Dan serangan zionis dan sekutunya juga sudah "menyapa" didaerah yang berdekatan dengan wilayah Palestina. Peristiwa Palestina telah melampaui perkara agama. Kalau dulu hanya dibela oleh kalangan Muslim saja, tapi saat ini Palestina dibela oleh seluruh agama dunia.
Berbagai solusi telah dilakukan, baik gencatan senjata, boikot produk yang berafiliasi dengan zionis Yahudi dan sekutunya, solusi dua negara, memberikan berbagai bantuan kemanusiaan, dan sebagainya. Tapi tak satupun solusi tersebut bisa menyelesaikan permasalahan Palestina.
Karena, sejatinya problem Palestina itu kondisinya dijajah oleh zionis Yahudi yang dibekingi oleh penguasa ideologi kapitalisme sekuler (AS). Setelah khilafah runtuh, penjajah dengan mudah masuk dengan bantuan penguasa ideologi kapitalisme dan merampas tanah kelahiran mereka. Merampas kemerdekaan dan kebahagiaan mereka. Maka dari itu solusi yang bisa menyelesaikan masalah Palestina adalah dengan mengusir kembali zionis Yahudi dari wilayah itu dan menegakkan kembali sistem Islam khilafah.
Sebab hadirnya zionis Yahudi karena khilafah tiada, maka untuk mengusir Yahudi wajib dengan mengembalikan khilafah. Karena, tanpa khilafah zionis Yahudi akan tetap berada disana dan akan terus menjajah Palestina. Apalagi dengan bantuan negara pengusung kapitalisme sekuler Dengan lembaga PBB nya tidak mau kalau Yahudi keluar dari sana.
Dengan khilafah negeri-negeri kaum Muslim akan disatukan kembali menjadi negara kesatuan yang berdaulat yang pernah ditakuti musuh-musuh Islam. Dan Khalifah akan mengerahkan seluruh pasukan dan menyediakan segala bentuk kekuatan yang bisa digunakan untuk mengusir zionis Yahudi dari bumi Palestina.
Dan dengan khilafah pula segala macam solusi yang sebelumnya dilakukan, seperti boikot produk yang berafiliasi dengan zionis dan sekutunya akan lebih mudah dilakukan, sebab yang melakukannya adalah negara. Ekonomi zionis dan sekutunya akan lumpuh total tanpa mempersulit rakyat untuk memenuhi kebutuhannya yang selama ini banyak dipenuhi oleh produk-produk dari sana.
Karena khilafah akan menyediakan segala kebutuhan rakyatnya dengan mudah dan dengan harga semurah mungkin. Karena, memenuhi kebutuhan hidup rakyat adalah kewajiban bagi penguasa dalam islam. Serta bantuan kemanusiaan akan lebih mudah sampai ketempat tujuan. Sehingga, Palestina bisa dibangun kembali dengan mudah dan secepat mungkin, setelah zionis Yahudi di usir dari Palestina.
Karena, kalau tanpa khilafah, pembangunan kembali Palestina dan segala macam bentuk pengembalian kondisi Palestina, tanpa pengusiran Yahudi dari sana, hanya seperti mengobati tempat yang luka, tapi membiarkan kembali dilukai ditempat yang lain.
Semua solusi diatas memang penting. Tapi, tanpa adanya sistem pemerintah Islam khilafah, maka tidak akan mampu untuk menyelesaikan permasalahan Palestina. Karena itu, fokus dengan solusi yang tidak bisa menyelesaikan problem Palestina, bukan hanya menambah panjangnya penderitaan bagi Palestina, tapi juga menambah dosa karena banyaknya nyawa yang akan terus dikorbankan.
Faktanya, sudah berapa kali seruan gencatan senjata dilakukan, tetap zionis Yahudi lah yang pertama kali melanggarnya. Yahudi adalah makhluk yang terkenal tidak pernah memenuhi janji dan terkenal pengkhianatannya dari masa sebelum Rasulullah diutus, hingga di masa Rasulullah pun begitu.
Karena itu, sebagai Muslim tentu tidak boleh lagi menjadikan gencatan senjata sebagai solusi bagi Palestina. Sebagai mana Rasulullah melarang untuk jatuh ke lubang yang sama kesekian kalinya. Sementara, sudah berapa puluh resolusi gencatan senjata terhadap mereka.
Berapa kali juga rakyat sudah memboikot produk mereka. Karena yang memboikot hanyalah rakyat jelata, itupun cuma bisa dari produk konsumsi masyarakat sehari-hari yang harganya tidaklah seberapa, walaupun sempat membuat sedikit ekonomi AS dan Yahudi guncang. Sementara negara tetap membelinya, membiarkan pabriknya tetap berproduksi di negerinya, memfasilitasi bahan baku dan tempatnya, bahkan tetap mengekspor minyak yang menjadi sumber utama kekuatan zionis dan sekutunya.
Begitu juga bantuan kemanusiaan, buktinya hanya sedikit yang bisa sampai ke rakyat Palestina. Berjuta ton bantuan dikirim, tapi kondisi hari-hari Palestina tetap saja kelaparan, kehausan, kekurangan air bersih, tidak punya pakaian dan selimut diwaktu dingin, tidak bisa berobat ketika sakit, tidak punya tempat tinggal. Dikarenakan bantuan tersebut harus melewati wilayah otoritas zionis. Berbagai bangunan dan Rumah sakit Indonesia yang dibangun oleh rakyat dan pemerintah negeri ini justru diambil alih oleh zionis dan menjadi basecamp bagi pasukannya.
Apalagi solusi dua negara selain mustahil untuk memberikan kemerdekaan hakiki bagi Palestina, juga merupakan bentuk tipu daya lembaga internasional PBB dan pengkhianatan pemimpin kaum Muslim atau siapapun yang sependapat dengan solusi ini terhadap Palestina. Bagaimana logikanya penjajah wajib dikasih tanah dan ranah untuk mengatur Palestina?
Apalagi, hanya sekedar kecaman dan doa saja tanpa reaksi nyata. Dan ini justru menggambarkan lemahnya kondisi umat Islam, bukan hanya lemah kebijakan, lemah kedaulatan, tapi juga lemah iman. Tidak ada satupun kebijakan yang dilakukan oleh pemimpin kaum Muslim untuk kepentingan Islam dan kaum Muslim terkhususnya Palestina. Dan mengutuk dalam hati dan berdoa saja dalam mencegah kemungkaran (zionis Yahudi dan sekutunya) serta diamnya para pemimpin kaum Muslim justru bentuk selemah-lemahnya iman. Sebagai mana hadits Rasulullah Saw.
"Barang siapa yang tidak mampu (dengan kekuatan dan lisan), maka ubahlah dengan hati (mengingkarinya). Dan itulah (pengingkaran kezhaliman dengan hati) adalah selemah-lemah iman". (HR. Bukhari Muslim).
Padahal Rasulullah Saw bersabda sebelumnya dalam hadits yang sama bagi penguasa yang memiliki kekuatan untuk mencegah kemungkaran dengan kekuatan apa saja yang ia miliki untuk membebaskan Palestina. "Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya (dengan kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya)".
Tentu sebagai seorang pemimpin negara yang punya kebijakan, pasukan/tentara dan persenjataan lengkap akan lebih mudah untuk menghentikan penjajahan. Tapi sayang hal ini tidak dilakukan oleh pemimpin Muslim dimanapun. Justru mayoritas mereka menjalin erat hubungan dan bersekutu bahkan ada yang mendukung aksi zionis dan sekutunya untuk menggenosida Palestina dan pendukungnya.
Sebagai rakyat biasa yang tidak punya kekuatan dan kekuasaan, bukan berarti boleh diam. Rakyat bisa menggunakan lisannya baik secara langsung ataupun tidak langsung (tulisan), berbagai komentar, memberikan berbagai kritik dan solusi yang sesuai dengan syari'at terhadap masalah Palestina. Menyuarakan khilafah sebagai satu-satunya solusi yang bisa membebaskan Palestina. Sebagai mana lanjutan hadits Rasulullah Saw diatas. "Jika tidak mampu (tidak punya kekuatan atau kekuasaan untuk membebaskan Palestina), maka ubahlah dengan lisan (dakwah/seruan)".
Maka dari itu setelah sekian lama penderitaan Palestina, akankah kita masih konsisten memberikan solusi yang telah terbukti tidak dapat membebaskan Palestina yang sudah puluhan tahun terjajah? Karena itu, saatnya umat satu suara menyerukan penegakan kembali sistem Islam khilafah dan mencampakkan sekat-sekat nasionalisme yang dibuat oleh kafir penjajah yang telah membuat umat Islam lemah dan terpecah-belah. Wallahu a'lam bishshawab.[]
Fadhilah Fitri, S.Pd.I
Aktivis Muslimah