Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pernyataan Prabowo Soal Dolar Dinilai sebagai Cerminan Penguasa yang Gagal

Sabtu, 23 Mei 2026 | 04:47 WIB Last Updated 2026-05-22T21:47:02Z

Jurnalis Joko Prasetyo menilai bahwa pernyataan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang menyebut 'rakyat desa enggak menggunakan dolar' sebagai bentuk cerminan penguasa yang gagal memahami kapitalisme yang bekerja menindas rakyat.

 

"Pernyataan seperti ‘rakyat desa enggak pakai dolar’ bukan sekadar kekeliruan teknis ekonomi, tetapi cerminan penguasa yang gagal memahami bagaimana kapitalisme bekerja menindas rakyat hingga ke desa-desa," ucapnya kepada TintaSiyasi.ID pada Ahad (17/05/2026).

 

Ia menilai pernyataan tersebut terdengar menenangkan, tetapi sesungguhnya menyingkap cara pandang yang berbahaya bahwa seolah krisis nilai tukar tidak menyentuh rakyat kecil.

 

"Padahal dalam sistem ekonomi kapitalis global hari ini, rakyat desa sekali pun tetap menjadi korban ketika rupiah anjlok," ungkapnya.

 

Lanjutnya, ia membeberkan memang petani di desa tidak bertransaksi memakai dolar. Tetapi pupuk, BBM, obat, mesin pertanian, logistik, hingga harga pangan sangat dipengaruhi kurs dolar.

 

"Ketika rupiah melemah, biaya impor naik, harga produksi melonjak, lalu beban akhirnya ditimpakan kepada rakyat. Jadi yang tidak memegang dolar justru paling merasakan dampaknya," terangnya.

 

Alhasil, ia memandang ucapan Presiden RI itu menunjukkan paradigma kapitalistik yang hanya melihat ekonomi dari permukaan transaksi, bukan dari struktur sistem.

 

“Dalam kapitalisme, mata uang nasional tunduk pada pasar global, spekulasi, utang luar negeri, dan dominasi dolar AS,” ulasnya.

 

"Negara-negara berkembang dijadikan pasar sekaligus objek permainan finansial internasional. Akibatnya, nasib rakyat ikut terguncang setiap kali rupiah diguncang,” jelasnya.

 

Ironisnya, lanjutnya, solusi yang ditawarkan tetap berada dalam kerangka kapitalisme yang sama yakni menjaga investasi, ekspor, hubungan dagang, dan stabilitas pasar.

 

"Padahal akar masalahnya adalah sistem ekonomi ribawi yang menjadikan uang sebagai komoditas spekulasi, bukan alat tukar yang stabil dan adil," tambahnya.

 

Adapun, Joko menekankan, di dalam Islam memandang mata uang bukan sekadar simbol ekonomi, tetapi bagian dari penjagaan harta rakyat. “Sehingga khilafah Islam dahulu dan mendatang menggunakan dinar serta dirham berbasis emas hingga perak yang memiliki nilai intrinsik, bukan uang kertas fiat yang mudah dimainkan oligarki finansial global,” bebernya.

 

"Dalam sistem Islam, negara wajib menjaga kestabilan mata uang dan melarang praktik riba, spekulasi, serta ketergantungan ekonomi kepada kekuatan asing," tandasnya.

 

"Saat ini rakyat mungkin tidak memegang dolar di tangan mereka, tetapi hidup tetap dijajah oleh sistem dolar," tutupnya.[] Taufan


Opini

×
Berita Terbaru Update