TintaSiyasi.id -- Terinspirasi dari QS. Surat Al-Mulk ayat 15.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, QS. Surat Al-Mulk ayat 15:
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya kamu kembali.”
Ayat ini bukan sekadar perintah untuk berjalan secara fisik di muka bumi, tetapi juga panggilan spiritual agar manusia menebarkan manfaat, mencari ilmu, memperluas ukhuwah, dan menghadirkan cahaya dakwah di mana pun berada. Dari dalamnya semangat muhibah dakwah dan keilmuan ke Lombok menemukan maknanya.
Pulau Lombok tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga sebagai bumi seribu masjid, tempat tumbuhnya tradisi keislaman yang kuat, ramah, dan penuh adab. Perjalanan dakwah menuju Lombok sejatinya bukanlah perjalanan wisata biasa, melainkan perjalanan ruhani, perjalanan ilmu, dan perjalanan pengabdian.
Hikmah QS. Al-Mulk Ayat 15 Menurut Para Mufassir
1. Tafsir Ibnu Katsir: Perintah Menjelajah untuk Mengambil Manfaat
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memudahkan bumi agar manusia dapat berjalan, berdagang, mencari rezeki, menuntut ilmu, dan melakukan berbagai aktivitas yang membawa kemaslahatan.
Dalam konteks dakwah, ayat ini menjadi dorongan agar seorang dai tidak hanya diam di satu tempat. Dakwah harus bergerak, menyapa umat, hadir di tengah masyarakat, dan menyentuh hati manusia dengan hikmah.
Muhibah dakwah ke Lombok berarti menghidupkan kembali sunnah para ulama terdahulu yang rela menempuh perjalanan jauh demi menyebarkan ilmu dan menguatkan iman umat.
2. Tafsir Al-Qurthubi : Menjelajah dengan Tanggung Jawab Spiritual
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa manusia diperintahkan berjalan di muka bumi, namun tidak boleh lupa bahwa semua perjalanan akan berakhir kepada Allah SWT.
Artinya, perjalanan dakwah bukanlah ajang kesombongan, popularitas, atau pencarian dunia semata. Dakwah harus dilandasi keikhlasan. Langkah kaki para penyeru agama harus menjadi jalan menuju ridha Allah.
Maka ketika seseorang datang ke Lombok untuk berdakwah dan menebarkan ilmu:
lisannya membawa hikmah,
akhlaknya membawa keteduhan,
dan kehadirannya membawa persatuan umat.
3. Tafsir Al-Maraghi : Menahan Ilmu, Peradaban, dan Dakwah
Ahmad مصطفى Al-Maraghi menjelaskan bahwa ayat ini juga mengandung isyarat agar manusia membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan, interaksi sosial, dan kerja sama antarmanusia.
Oleh karena itu, muhibah keilmuan memiliki nilai yang sangat tinggi:
mempererat silaturahmi ulama,
memperkuat jaringan pendidikan Islam,
mengubah pengalaman dakwah,
dan membangun kebangkitan umat berbasis ilmu dan akhlak.
Perjalanan dakwah ke Lombok dapat menjadi momentum kebangkitan spiritual dan intelektual umat Islam di era modern.
Lombok: Tanah Dakwah dan Spiritualitas
Lombok dikenal sebagai “Masjid Pulau Seribu.” Di sana, gema adzan menyatu dengan keindahan alam. Tradisi Islam hidup dalam budaya masyarakatnya. Pesantren tumbuh subur. Majelis ilmu tersebar di berbagai penjuru desa dan kota.
Muhibah dakwah ke Lombok bukan sekedar perjalanan fisik, tetapi:
menyambung sanad keilmuan,
mempererat ukhuwah Islamiyah,
memperkuat semangat dakwah,
dan menyatukan hati umat.
Betapa banyak ulama besar dahulu melakukan rihlah ilmiah dari satu negeri ke negeri lain demi mencari satu hadis, satu hikmah, dan satu cahaya ilmu. Maka perjalanan dakwah hari ini adalah kelanjutan dari jejak mulia para pewaris nabi.
Semangat Rihlah dalam Tradisi Islam
Dalam khazanah Islam, perjalanan ilmu disebut rihlah. Para ulama salaf melakukan perjalanan panjang demi mendapatkan keberkahan ilmu.
Imam Bukhari menempuh jarak ribuan kilometer untuk mengumpulkan hadis.
Imam Syafi'i hijrah dari Makkah, Madinah, Yaman, Irak hingga Mesir demi memperdalam ilmu.
Oleh karena itu, muhibah dakwah dan keilmuan bukanlah tradisi baru. Ia adalah warisan peradaban Islam.
Hikmah Muhibah Dakwah dan Keilmuan
1. Menghidupkan Ukhuwah Islamiyah
Perjalanan dakwah mempertemukan hati-hati kaum muslimin. Perbedaan daerah, budaya, dan bahasa menjadi ciri khas dalam ikatan iman.
2. Menebarkan Cahaya Ilmu
Ilmu yang disampaikan dengan hikmah mampu mengubah masyarakat. Satu majelis ilmu bisa menjadi sebab hidayah bagi banyak orang.
3. Melatih Keikhlasan dan Kesebaran
Perjalanan dakwah tidak selalu mudah. Ada lelah, lelah, dan tantangan. Namun di situlah nilai dakwah jihad.
4. Menguatkan Semangat Kebangkitan Umat
Umat yang kuat adalah umat yang terhubung oleh ilmu, akhlak, dan visi peradaban Islam.
Renungan Sufistik
Sesungguhnya setiap perjalanan menuju dakwah adalah perjalanan menuju Allah.
Langkah kaki seorang dai yang ikhlas lebih mulia daripada perjalanan duniawi yang dipenuhi ambisi.
Boleh jadi seseorang datang ke Lombok untuk memberi ilmu, namun justru ia pulang membawa pelajaran kehidupan:
tentang ketulusan,
tentang khalayak,
tentang ukhuwah,
dan tentang cinta kepada Allah SWT.
Karena hakikat dakwah bukan sekedar menyampaikan kata-kata, namun menghadirkan cahaya akhlak dan kasih sayang di tengah umat.
Penutup
QS. Al-Mulk ayat 15 mengajarkan bahwa bumi ini dibentangkan Allah untuk dijelajahi dengan iman, ilmu, dan amal. Muhibah dakwah dan keilmuan ke Lombok menjadi simbol gerakan Islam yang hidup:
bergerak dengan ilmu,
berdakwah dengan hikmah,
dan membangun umat dengan kasih sayang.
Semoga setiap langkah perjalanan dakwah menjadi saksi amal di hadapan Allah SWT.
Semoga setiap majelis ilmu menjadi cahaya yang mencapai umat.
Dan semoga perjalanan ini tidak hanya membawa keberkahan bagi Lombok, tetapi juga bagi seluruh negeri Indonesia.
“Berjalanlah di muka bumi, lalu lihatlah bagaimana Allah menumbuhkan kehidupan dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.”
Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)