Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

KDMP untuk Ekonomi Rakyat, Jurnalis: Prosesnya Berpeluang Terjadi Korupsi

Minggu, 24 Mei 2026 | 21:45 WIB Last Updated 2026-05-24T14:45:44Z

TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menilai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang disebut pemerintah sebagai solusi ekonomi rakyat, namun dalam prosesnya seperti membuka peluang terjadinya korupsi.

 

"Yang paling rawan dari KDMP adalah pola pembangunan yang sangat ๐‘ก๐‘œ๐‘ ๐‘‘๐‘œ๐‘ค๐‘›. Program dirancang dari pusat, target ditentukan dari atas, lalu desa tinggal menjalankan. Model seperti ini membuka peluang korupsi," ujarnya kepada TintaSiyasi.ID pada Jumat (22/05/2026).

 

Lanjutnya, ia memandang berkaca dari berbagai rekam jejak proyek besar selama ini, semakin besar dana digelontorkan, semakin banyak pengadaan dilakukan, dan semakin panjang rantai birokrasi, maka semakin besar pula potensi mark up, vendor titipan, laporan fiktif, dan permainan proyek. Terlebih dalam budaya politik yang masih sarat pencitraan dan transaksi kepentingan.

 

"Namun pertanyaannya, apakah benar untuk menyejahterakan rakyat, atau sekadar memperluas proyek dan pasar hingga ke desa? Faktanya, banyak konsep KDMP justru lebih mirip minimarket modern ketimbang lembaga pemberdayaan rakyat. Fokusnya sibuk pada gerai, rak dagangan, pengadaan barang, perangkat digital, dan berbagai proyek fisik lainnya," jelasnya.

 

"Padahal akar kemiskinan rakyat bukan karena kurang toko. Rakyat susah hidup karena pendidikan mahal, kesehatan mahal, pupuk mahal, lapangan kerja sulit, hasil panen murah, dan kekayaan alam justru lebih banyak dikuasai korporasi besar," tambahnya.

 

Alhasil, ia menyayangkan di balik narasi pemberdayaan rakyat KDMP juga membuka ruang simpan-pinjam berbunga. Padahal bunga dalam Islam termasuk riba dan riba bukan sekadar urusan ekonomi tetapi dosa besar.

 

"Akibat sistem ribawi, rakyat kecil yang kesulitan justru makin terjerat cicilan dan utang berkepanjangan. Inilah watak kapitalisme, menolong dengan tangan kanan, tetapi menjerat dengan tangan kiri," jelasnya.

 

Lebih lanjut, ia melihat permasalahan rakyat tidak akan selesai hanya dengan mengganti nama toko menjadi koperasi. Selama sistem ekonomi masih kapitalistik, selama sumber daya alam dikuasai oligarki, dan selama riba dilegalkan, maka rakyat hanya akan dipindahkan dari satu proyek ke proyek lain.

 

"Hari ini koperasi. Besok program baru. Lusa ganti slogan lagi. Namun kemiskinan tetap diwariskan selama sistem tidak berganti," bebernya.

 

Pria yang akrab disapa Om Joy itu menjelaskan, di dalam Islam memiliki paradigma berbeda. "Islam tidak membangun kesejahteraan dengan memperbanyak tempat konsumsi, tetapi dengan membangun manusia bertakwa, jujur, amanah, rajin bekerja, dan takut hisab Allah," tuturnya.

 

"Korupsi dan riba bukan hanya pelanggaran hukum yang wajib ditindak tegas, tetapi dosa yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat," tegasnya.

 

Adapun, ia menerangkan Islam juga mewajibkan negara menjamin kebutuhan dasar rakyat seperti pendidikan dan kesehatan yang murah bahkan gratis. Pembiayaannya berasal dari pengelolaan kepemilikan umum (milkiyyah ammah) seperti tambang, minyak, gas, laut, dan hutan yang hasilnya dikembalikan untuk rakyat, bukan dikuasai segelintir elite.

 

"Islam juga memiliki sistem ekonomi tanpa riba, sistem moneter berbasis emas dan perak (dinar-dirham), serta sistem sosial berbasis zakat, wakaf, sedekah, dan ๐‘ก๐‘Ž๐‘Ž๐‘ค๐‘ข๐‘›. Belum lagi pemasukan Baitul Mal dari kharaj, fai’, dan sumber syar’i lainnya yang Insyaallah cukup untuk menyejahterakan rakyat secara nyata," paparnya menjelaskan.

 

Sehingga, ia menekankan sistem dalam Islam tidak dapat diterapkan setengah-setengah, Islam harus diterapkan secara kaffah dalam naungan institusi pemerintahan Islam yakni khilafah. Serta menegakkan khilafah bukan sekadar wacana politik, melainkan fardhu kifayah agar syariat Allah benar-benar tegak mengurus kehidupan manusia. Tanpa sistem Islam, solusi hanya berubah menjadi proyek dan slogan.

 

"Sebab kehidupan tidak berhenti pada jabatan dan pencitraan, tetapi berlanjut menuju hisab, surga, atau neraka. Dan hisab Allah tidak pernah bisa dimanipulasi," pungkasnya.[] Taufan

 

 

Opini

×
Berita Terbaru Update