TintaSiyasi.id -- Renungan Dakwah Ideologis-Sufistik dari Hikmah Izzuddin bin Abdussalam
Di zaman modern ini manusia menghadapi krisis yang sangat halus tetapi berbahaya, yakni krisis keberanian untuk taat. Banyak manusia mengetahui kebenaran, tetapi tidak segera melaksanakannya. Mereka memahami kewajiban agama, tetapi menundanya dengan alasan belum siap, belum sempurna, belum bersih hatinya atau belum pantas menjadi orang saleh.
Fenomena ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan penyakit ruhani dan ideologis yang sangat dalam sebab setan tidak selalu mengajak manusia meninggalkan agama secara terang-terangan. Kadang ia membisikkan kesempurnaan palsu agar manusia menunda amal dan akhirnya tidak pernah melakukannya.
Di sinilah relevansi nasihat agung Izzuddin bin Abdussalam, Sultanul Ulama, seorang faqih, mujahid, dan pembimbing ruhani umat Islam:
“Jangan menelantarkan kewajiban hanya karena engkau belum mampu melaksanakannya secara sempurna.”
Kalimat ini bukan sekadar nasihat akhlak, tetapi prinsip besar dalam tarbiyah ruhiyah, perjuangan dakwah, dan pembangunan peradaban Islam.
Hakikat Manusia: Lemah tetapi Tetap Dibebani Amanah
Islam tidak pernah memandang manusia sebagai makhluk sempurna. Manusia diciptakan dengan kelemahan, kelalaian, syahwat, rasa takut, dan keterbatasan.
Allah Swt., berfirman:
“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa: 28).
Namun, kelemahan bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban. Justru karena manusia lemah, Allah menurunkan syariat sebagai penuntun kehidupan.
Banyak manusia modern terjebak dalam cara berpikir perfeksionistik:
• ingin khusyuk sempurna baru mau shalat
• ingin suci total baru mau berhijrah
• ingin alim dahulu baru mau berdakwah
• ingin bebas dosa dahulu baru mau mendekat kepada Allah.
Padahal, jika syarat taat harus sempurna terlebih dahulu, maka tidak ada seorang pun yang akan beribadah karena seluruh manusia adalah hamba yang sedang berproses.
Rasulullah Saw., bersabda:
“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi).
Hadis ini menghancurkan kesombongan spiritual sekaligus menghancurkan keputusasaan. Islam bukan agama malaikat, melainkan agama perjuangan manusia menuju Allah.
Tipu Daya Setan dalam Kesempurnaan Palsu
Salah satu tipu daya setan yang paling berbahaya adalah membuat manusia menunda ketaatan dengan alasan idealisme.
Setan berkata dalam bisikan halus:
• “Nanti saja mengaji kalau sudah tenang.”
• “Nanti saja berhijab kalau sudah benar-benar baik.”
• “Nanti saja memperbaiki shalat kalau hidup sudah mapan.”
• “Nanti saja berdakwah kalau sudah sempurna ilmunya.”
Akhirnya manusia hidup dalam penundaan tanpa akhir.
Padahal, umur terus berjalan, kematian terus mendekat, sedangkan hati semakin keras karena terlalu lama menolak panggilan Allah.
Inilah jebakan spiritual yang menghancurkan banyak jiwa: mereka tidak meninggalkan agama secara total, tetapi mereka terus menunda kebaikan sampai maut datang tanpa kesiapan.
Allah Saw., berfirman:
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Hasyr: 19).
Ketika manusia terlalu lama menunda taat, ia akhirnya kehilangan sensitivitas ruhani. Hatinya tidak lagi peka terhadap dosa, nasihat, maupun panggilan akhirat.
Kewajiban Lebih Utama daripada Kesempurnaan
Dalam pandangan syariat, melaksanakan kewajiban meskipun belum sempurna jauh lebih mulia daripada meninggalkannya sama sekali. Shalat yang belum khusyuk masih lebih baik daripada meninggalkan shalat.
Sedekah sedikit lebih baik daripada tidak bersedekah. Tilawah yang terbata-bata lebih baik daripada meninggalkan Al-Qur’an.
Dakwah sederhana lebih baik daripada diam terhadap kemungkaran.
Karena Allah mencintai hamba yang berjalan menuju-Nya meskipun perlahan.
Rasulullah Saw., bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam tasawuf, istikamah lebih bernilai daripada ledakan semangat sesaat.
Orang yang berjalan pelan, tetapi terus mendekat kepada Allah lebih mulia dibanding orang yang hanya memiliki cita-cita besar, tetapi tidak pernah melangkah.
Penyakit Perfeksionisme Ruhani
Sebagian manusia tidak sadar bahwa keinginan menjadi sempurna kadang berasal dari ego tersembunyi. Ia ingin terlihat sangat saleh sebelum beramal. Ia ingin tampil suci sebelum berdakwah. Ia ingin menjadi manusia tanpa cela sebelum mengajak kepada kebaikan. Padahal, kesucian mutlak hanya milik para nabi.
Perfeksionisme ruhani sering melahirkan:
• putus asa
• rasa tidak layak
• kemalasan spiritual
• bahkan kebencian kepada diri sendiri
Padahal, Allah tidak pernah memerintahkan manusia menjadi sempurna seketika.
Allah hanya meminta:
• taubat
• perjuangan
• kesungguhan
• dan istikamah.
Dalam perjalanan menuju Allah, jatuh bukanlah kegagalan terbesar. Kegagalan terbesar adalah berhenti berjalan.
Perspektif Ideologis: Umat Tidak Akan Bangkit Jika Menunggu Sempurna
Nasihat Izzuddin bin Abdussalam juga memiliki dimensi ideologis dan peradaban yang sangat besar.
Keruntuhan umat Islam hari ini salah satunya disebabkan budaya pasif dan penundaan.
Banyak orang:
• tahu Islam harus diperjuangkan
• tahu umat harus dibela
• tahu ilmu harus disebarkan
• tahu generasi harus dididik
• tetapi tidak bergerak karena merasa dirinya belum ideal.
Akhirnya, medan dakwah kosong. Padahal, sejarah Islam dibangun oleh manusia-manusia yang terus memperbaiki diri sambil berjuang. Para sahabat Nabi bukan manusia tanpa kesalahan. Mereka adalah manusia yang hatinya hidup dan terus bergerak menuju Allah. Islam tidak menunggu hadirnya generasi sempurna untuk bangkit. Islam bangkit melalui manusia-manusia yang:
• ikhlas
• terus belajar
• mau bertaubat
• dan berani memikul amanah.
Jalan Sufistik: Bergerak Menuju Allah dalam Keadaan Penuh Kekurangan
Tasawuf sejati bukan mengasingkan diri dari perjuangan hidup, melainkan membersihkan hati sambil tetap menjalankan amanah kehidupan. Seorang hamba sejati tidak menunggu dirinya suci untuk mendekat kepada Allah. Justru ia mendekat agar disucikan Allah. Ia menangis dalam shalat karena sadar dirinya penuh dosa. Ia terus membaca Al-Qur’an meski hatinya kadang lalai. Ia tetap berdzikir meski pikirannya sering berantakan. Ia terus berjuang karena yakin rahmat Allah lebih luas daripada dosa-dosanya.
Inilah maqam ubudiyah yang sebenarnya:
kesadaran total bahwa manusia lemah, tetapi Allah Maha Pengasih.
Allah Swt., berfirman:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222).
Perhatikan ayat ini:
Allah mencintai orang yang bertaubat, bukan hanya orang yang sudah suci. Artinya jalan menuju Allah dibangun oleh pengakuan dosa, kerendahan hati, dan perjuangan terus-menerus.
Jangan Menunggu Hati Bersih untuk Beribadah
Sebagian orang berkata:
• “Saya belum pantas ke masjid.”
• “Saya masih banyak dosa.”
• “Nanti saja belajar agama kalau sudah baik.”
Ini adalah kesalahan fatal.
Justru masjid adalah tempat membersihkan hati.
Justru ilmu agama hadir untuk memperbaiki manusia berdosa.
Justru ibadah adalah obat bagi jiwa yang sakit.
Tidak ada manusia yang menjadi baik dengan menjauhi cahaya Allah.
Imam-imam besar dalam sejarah Islam menjadi mulia bukan karena mereka tanpa perjuangan, tetapi karena mereka terus kembali kepada Allah setiap kali jatuh.
Kemenangan Ruhani Dimulai dari Langkah Kecil
Jangan remehkan amal kecil:
• satu ayat yang dibaca dengan ikhlas
• satu sedekah sederhana
• satu sujud taubat di malam hari
• satu nasihat kepada keluarga
• satu perjuangan melawan hawa nafsu.
Karena Allah melihat hati dan kejujuran perjuangan.
Kadang amal kecil yang dilakukan terus-menerus lebih berat di timbangan Allah dibanding amal besar yang dipenuhi riya’.
Maka mulailah:
• dari shalat tepat waktu
• dari memperbaiki akhlak
• dari menjaga lisan
• dari memperbanyak dzikir
• dari mencintai Al-Qur’an
• dari memperjuangkan Islam sesuai kemampuan.
Jangan menunggu sempurna.
Kesempurnaan adalah hasil dari perjalanan panjang bersama Allah.
Penutup: Teruslah Berjalan Menuju Allah
Nasihat Izzuddin bin Abdussalam mengandung cahaya tarbiyah yang sangat mendalam bagi umat Islam modern.
Bahwa kewajiban tidak boleh ditinggalkan hanya karena kita belum sempurna.
Karena:
• manusia memang lemah
• perjalanan ruhani memang panjang
• dan Allah mencintai hamba yang terus kembali kepada-Nya.
Maka:
• shalatlah meski belum khusyuk
• berhijrahlah meski perlahan
• berdakwahlah meski sederhana
• belajarlah meski terbata-bata
• dan bertaubatlah meski berkali-kali jatuh.
Sebab, Allah tidak meminta kita menjadi malaikat. Allah hanya meminta agar kita tidak berhenti berjalan menuju-Nya. Dan bisa jadi, langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas akan mengantarkan seorang hamba menuju kemuliaan besar di sisi Allah Swt.
Dr. Nasrul Syarif M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo