Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Islam Bukan Hanya untuk Mati, tetapi untuk Menata Kehidupan

Jumat, 08 Mei 2026 | 11:33 WIB Last Updated 2026-05-08T04:33:37Z
TintaSiyasi.id -- Renungan Ideologis-Sufistik tentang Makna Menjadi Muslim Kaffah

Di tengah kehidupan modern yang semakin jauh dari nilai-nilai Ilahi, ada fenomena yang sering terjadi namun jarang direnungkan secara mendalam: banyak manusia ingin mati secara Islam, tetapi enggan hidup dengan aturan Islam.

Ketika ajal mendekat, hampir semua orang ingin:

dituntun membaca kalimat tauhid,

dimandikan secara syariat,

dikafani dengan kain putih,

dishalatkan oleh kaum muslimin,

lalu dikuburkan secara Islam.

Namun anehnya, ketika masih hidup:

syariat Allah dianggap berat,

hukum Allah dianggap kuno,

ajaran Rasulullah ﷺ dianggap tidak relevan,

bahkan sebagian merasa risih ketika Islam hadir mengatur kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, dan politik.

Padahal Islam bukan agama ritual kematian. Islam adalah manhaj kehidupan. Islam datang bukan sekadar mengurus liang kubur, tetapi untuk menyelamatkan manusia sebelum masuk kubur.

Allah SWT berfirman:

> “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh), dan jangan mengikuti langkah-langkah setan.”
(QS. Al-Baqarah: 208)

Ayat ini bukan sekadar ajakan ibadah individual. Ini adalah seruan ideologis dan spiritual agar manusia menjadikan Islam sebagai jalan hidup totalitas.

Krisis Umat: Islam Simbolik Tanpa Ruh

Hari ini kita menyaksikan fenomena “Islam simbolik”:

bangga dengan identitas muslim,

tetapi malu dengan syariat,

cinta lafaz Allah,

tetapi membenci hukum Allah,

ingin keberkahan akhirat,

tetapi menikmati sistem kehidupan yang menjauh dari nilai wahyu.

Masjid dibangun megah, tetapi akhlak runtuh.
Kajian ramai, tetapi hati kering dari keikhlasan.
Kalimat tauhid dipajang di dinding, tetapi hawa nafsu menjadi penguasa hati.

Inilah yang oleh para ulama sufi disebut sebagai:

> “Jasad amal tanpa ruh keikhlasan.”

Imam Al-Ghazali رحمه الله menjelaskan bahwa penyakit terbesar manusia bukanlah lemahnya pengetahuan, tetapi matinya hati. Hati yang mati tetap bisa berbicara agama, tetapi tidak merasakan kehadiran Allah.

Maka lahirlah manusia yang:

ingin dipanggil muslim,

tetapi enggan tunduk sepenuhnya kepada Islam.

Islam Kaffah: Jalan Kehidupan Para Nabi

Islam kaffah bukan ekstremisme. Islam kaffah adalah kepatuhan total kepada Allah dalam seluruh dimensi kehidupan.

Nabi Ibrahim AS tidak hanya beribadah kepada Allah, tetapi juga menjadikan seluruh hidupnya untuk Allah.

Allah mengabadikan doa beliau:

> “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-An’am: 162)

Perhatikan ayat ini:

bukan hanya shalatku,

tetapi hidupku dan matiku.

Inilah hakikat Islam sejati.

Seorang mukmin sejati tidak memilih-milih syariat:

ketika untung ia taat,

ketika rugi ia meninggalkan Allah.

Ia sadar:

> “Aku milik Allah sepenuhnya.”

Tasawuf Sejati: Membersihkan Hati Agar Tunduk Total kepada Allah

Tasawuf sejati bukan melarikan diri dari kehidupan. Tasawuf adalah proses membersihkan hati agar dunia tidak menghalangi manusia dari Allah.

Para ulama sufi besar seperti Imam Al-Ghazali, Jalaluddin Rumi, dan Sayyid Abdul Qadir al-Jailani tidak pernah mengajarkan Islam yang lepas dari syariat.

Mereka justru menegaskan:

> “Hakikat tanpa syariat adalah kesesatan, sedangkan syariat tanpa hakikat adalah kekeringan.”

Artinya:

syariat membimbing lahiriah,

tasawuf membersihkan batiniah.

Keduanya harus berjalan bersama.

Seseorang mungkin rajin ibadah, tetapi masih sombong, riya, rakus, dan cinta dunia. Maka tasawuf hadir untuk menyucikan hati agar ibadah melahirkan cahaya ruhani.

Karena inti perjalanan menuju Allah bukan sekadar banyaknya amal, tetapi bersihnya hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mengapa Banyak Orang Sulit Diatur oleh Islam?

Jawabannya karena hawa nafsu lebih dicintai daripada Allah.

Al-Qur’an menggambarkan:

> “Pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)

Hari ini manusia modern sering merasa bebas:

bebas berbicara,

bebas berpakaian,

bebas bergaul,

bebas bertransaksi,

bebas menentukan halal-haram menurut logikanya sendiri.

Padahal kebebasan tanpa wahyu akan melahirkan kehancuran ruhani.

Manusia modern maju secara teknologi, tetapi banyak yang:

kehilangan ketenangan,

kehilangan arah hidup,

kehilangan makna,

bahkan kehilangan Tuhan dalam hatinya.

Karena hati manusia tidak akan tenang tanpa Allah.

Kematian Adalah Cermin Kehidupan

Seseorang biasanya meninggal sesuai kebiasaannya ketika hidup.

Orang yang hidup dekat dengan Al-Qur’an, insyaAllah akan dimudahkan husnul khatimah.
Orang yang hidup dalam maksiat tanpa taubat, berada dalam bahaya besar.

Maka para ulama berkata:

> “Barangsiapa hidup di atas sesuatu, ia akan mati di atas sesuatu itu pula.”

Jangan sampai kita:

hidup mengikuti hawa nafsu,

tetapi berharap wafat penuh cahaya.

Karena husnul khatimah bukan sulap menjelang kematian. Ia adalah buah dari perjalanan panjang menuju Allah.

Dakwah Islam: Menyelamatkan Manusia dari Kegelapan

Dakwah bukan sekadar ceramah. Dakwah adalah usaha membangunkan hati manusia agar kembali mengenal Tuhannya.

Umat hari ini tidak hanya membutuhkan hiburan agama, tetapi membutuhkan:

kebangkitan iman,

kesadaran ruhani,

keberanian hidup dalam syariat,

dan keteguhan melawan arus sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan.

Islam harus hadir:

di rumah,

di sekolah,

di pasar,

di media sosial,

di dunia ekonomi,

bahkan dalam cara berpikir umat.

Karena Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.

Jalan Pulang kepada Allah

Jika hari ini kita masih jauh dari Allah, maka pintu taubat masih terbuka.

Tidak ada manusia suci tanpa dosa. Yang ada hanyalah manusia yang mau kembali kepada Allah.

Mulailah perlahan:

perbaiki shalat,

perbaiki makanan halal,

perbaiki akhlak,

perbaiki hati,

perbaiki hubungan dengan Al-Qur’an.

Jangan hanya ingin mati secara Islam.
Hiduplah juga secara Islam.

Karena kemuliaan seorang mukmin bukan hanya pada cara ia dikuburkan, tetapi pada bagaimana ia menjalani hidupnya dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT menjadikan kita:

hamba yang istiqamah,

hati yang lembut,

jiwa yang tenang,

lisan yang berdzikir,

dan akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

( Dr. Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )

Opini

×
Berita Terbaru Update