TintaSiyasi.id -- Menanggapi pasca eskalasi Amerika Serikat dan Iran, dunia hari ini tidak hanya melihat pergeseran diplomasi melainkan senjakala dari sebuah era hegemoni, Analis Ekonomi dari Pusat Kajian dan Analisa Data (PKAD) Ismail Izzuddin, mengatakan dunia hari ini sedang kosong kepemimpinan yang stabil.
"Dunia hari ini sesungguhnya sedang berada dalam kekosongan kepemimpinan yang stabil," ungkapnya di akun TikTok ismail.pkad, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan, lanskap global hari ini Amerika Serikat pemain tunggal lama mulai kehilangan cengkeraman. Sekutu tradisional di Timur Tengah hingga Eropa mulai menjaga jarak, mencari poros baru yang lebih menjanjikan.
"Disisi lain, poros Beijing dan Moskow tampak menguat, menarik negara-negara berkembang ke dalam orbit mereka," ungkapnya.
Namun, meski demikian, jangan terkelabui oleh statistik permukaan, di balik kesan perkasa itu Cina sedang bergelut dengan guncangan domestik dari isu over production kendaraan listrik hingga hantaman perang tarif yang mencekik. Rusia pun setali tiga uang, ekonomi mereka babak belur di bawah beban perang Ukraina yang belum menemui titik akhir.
Namun di tengah kerapuhan para raksasa ini, Ismail mengatakan, ada potensi yang selama ini terfragmentasi dunia Muslim. "Secara geopolitik, kita adalah pemegang kunci nadi dunia bayangkan kendali atas chokepoints strategis mulai dari Selat Hormuz di Iran, Selat Bosphorus di Turki, Terusan Suez di Mesir, hingga Selat Malaka di Indonesia," ungkapnya.
"Kita menguasai jalur perdagangan sekaligus cadangan energi global. Lebih strategis lagi mayoritas negeri muslim relatif berada dalam posisi stabil karena tidak terlibat langsung dalam palagan perang besar saat ini," tambahnya.
Namun, ia menjelaskan yang menjadi pertanyaannya sampai kapan dunia Islam hanya menjadi penyedia sumber daya bagi kepentingan adidaya lain? Bagaimana jika Indonesia mengambil inisiatif membangun aliansi strategis dengan negeri-negeri ini yang diikat bukan sekedar diplomasi, melainkan oleh mata uang tunggal berbasis emas?
"Sistem moneter emas adalah jawaban atas ketergantungan kita pada volatilitas mata uang kertas yang sering kali dijadikan alat kontrol politik dengan integrasi sumber daya dan kemandirian moneter, lahirnya adidaya baru dari dunia muslim bukan lagi sekedar utopia melainkan keniscayaan sejarah, Indonesia dengan posisi geografis dan demografisnya memiliki modal moral untuk memimpin narasi besar ini," pungkasnya.[] Alfia