TintaSiyasi.id -- Pengamat Ekonomi Pusat Kajian dan Analisa Data (PKAD) Ismail Izzuddin, mengatakan, dibawah payung kapitalisme ruang gerak negara sangat terbatas.
"Mengapa kebijakan fiskal dalam sistem hari ini terasa begitu menyesakkan? Dibawah payung kapitalisme ruang gerak negara sebenarnya sangat terbatas," ungkapnya di akun TikTok ismail.pkad, Jumat (22/5/2026).
Ia menjelaskan, mayoritas pendapatan negara bersandar pada pajak yang ditarik dari kantong rakyat, sehingga saat rupiah tertekan dan capital outflow terjadi akibat suku bunga The Fed yang tinggi, negara berada dititik nadir.
"Daya beli kita terjepit, sementara harga bahan baku impor melonjak drastis, menghantam produktivitas dalam negeri," jelasnya.
Ia mengatakan, rakyat dipaksa bekerja lebih keras hanya untuk mendapatkan nilai yang lebih kecil. Dia menjelaskan, jika pendapatan terus menurun namun kebutuhan negara tetap tinggi, maka akan negara terjatuh ke dalam lubang defisit fiskal.
Solusi instan yang diambil biasanya adalah utang, namun, kata dia, celakanya, utang tersebut sering kali dalam bentuk dolar dan berbunga atau riba. Inilah jebakannya, saat mata uang rupiah melemah, nilai utang itu membengkak secara otomatis. Negara tidak hanya membayar pokoknya tetapi juga bunga yang terus menggulung.
Dalam siklus ini, katanya, negara terjebak dalam kesulitan finansial yang kronis, dan pada akhirnya rakyatlah yang menjadi korban melalui pemotongan subsidi atau kenaikan pajak lebih lanjut.
"Sebuah lingkaran setan yang sulit diputus jika fondasinya tidak kita ubah," ucapnya.
Jika pos pendapatan negara tidak lagi mengejar pajak rakyat, melainkan bersumber sepenuhnya dari pengelolaan mandiri sumber daya alam yang melimpah, sistem moneter negara tidak lagi berbasis kertas yang rapuh melainkan berbasis emas yang stabil nilainya.
"Dan yang paling fundamental bagaimana jika bunga ditiadakan sepenuhnya?" Tanyanya.
Dalam kondisi itu, kata dia, pendapatan negara akan melonjak tinggi. Defisit fiskal bisa dihindari tanpa menyentuh utang luar negeri, tanpa beban bunga dan fluktuasi mata uang yang liar. Produktivitas barang dan jasa akan stabil, lapangan kerja akan terbuka luas, daya beli masyarakat akan terjaga karena nilai uangnya tetap.
Ketika ekonomi stabil dan rakyat sejahtera, maka kesadaran spiritual untuk berbagi melalui zakat, infaq, dan sedekah akan meningkat secara alami.
"Kemiskinan bukan lagi masalah yang mustahil diatasi dan kemakmuran bukan lagi sekedar angka di atas kertas APBN. Melainkan nyata di meja makan setiap rumah. Ini adalah sebuah visi besar tentang tata kelola negara yang memanusiakan manusia," pungkasnya.[] Alfia