TintaSiyasi.id -- Kalian sadar enggak sih, di tengah kondisi ekonomi yang lagi carut-marut, ada suatu kelucuan; atau lebih tepatnya intellectual dishonesty; yang diulang-ulang sama pejabat kita.
"Rupiah melemah terhadap Dolar itu nggak ngaruh ke petani di desa. Kan mereka kalau ke warung atau jual padi transaksinya pakai Rupiah, bukan Dolar."
Sekilas, buat orang awam, logika ini kedengaran masuk akal. Make sense, kan? Tapi mari kita bedah lafadz kalimat ini. Karena kalau kita bongkar pakai akal sehat, dan kita potret pakai kacamata ekonomi yang lebih fundamental, katakanlah, dari apa yang diajarkan oleh Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, maka kita bakal nemuin fakta yang cukup mengerikan. Karena yang terjadi bukan cuma soal pejabat yang kurang literasi, tapi soal pengalihan isu dari sebuah kebobrokan sistemik. Mari kita mulai.
Ilusi "Uang Kertas"
Pernyataan pejabat tadi itu sebenarnya adalah logical fallacy level dewa. Kenapa? Karena dia mengasumsikan ekonomi pedesaan itu hidup di sebuah ruang hampa, terisolasi dari rantai pasok global.
Faktanya? Pak tani memang bayar mendoan di warung pakai Rupiah. Tapi, traktor yang dipakai buat ngebajak sawah itu minumnya solar. Harga minyak dunia patokannya apa? Dolar. Pupuk urea, NPK, pestisida, bahan aktifnya mayoritas impor. Bayarnya pakai apa? Dolar. Ketika Rupiah anjlok, semua biaya produksi di desa itu meledak. Margin atau keuntungan petani habis semua, sementara harga jual gabah ditekan sedemikian rupa biar angka inflasi di kota itu bagus kelihatannya.
Di sinilah Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab An-Nidzam Al-Iqtishadi fil Islam memukul telak konsep Kapitalis ini. Beliau menguliti akar masalahnya, yaitu : Uang Fiat (Fiat Money).
Dalam sistem kapitalis, uang yang kita pegang hari ini nggak punya intrinsic value (nilai bawaan). Nilainya itu cuma ditopang oleh utang, paksaan undang-undang (legal tender), dan dominasi dolar AS sebagai reserve currency-nya. Jadi, ketika nilai tukar bergejolak, yang sebenarnya terjadi adalah kekayaan riil para petani di pelosok Konoha sedang "dirampok" secara tak kasat mata untuk menutupi defisit di level makro.
Gaslighting Berjemaah
Lalu, balik ke pertanyaan: Apakah pejabat itu nggak ngerti ekonomi, atau lagi ngebohongin kita?
Jawabannya: Mayoritas dari mereka sangat ngerti. Mereka punya deretan staf ahli dengan gelar berderet. Tapi mereka memilih melakukan gaslighting. Mereka mereduksi masalah yang kompleks menjadi sangat sederhana hanya untuk menenangkan psikologi massa.
Kalau mereka mengakui bahwa depresiasi Rupiah menghancurkan daya beli petani, mereka secara tidak langsung harus mengakui bahwa fondasi moneter kapitalis yang mereka agung-agungkan selama ini sebenarnya sangat rapuh. Mereka harus mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi yang sering mereka pamerkan itu semu, karena disandarkan pada uang kertas yang nilainya bisa dimanipulasi kapan saja oleh kebijakan The Fed di Amerika sana.
Simpul Permasalahan: Inflasi Adalah by Design
Sistem kapitalis butuh ilusi stabilitas. Di sistem ini, menurut analisis An-Nabhani, inflasi bukanlah sebuah "kecelakaan" ekonomi. Inflasi adalah by design. Mekanisme di mana otoritas bisa mencetak uang tanpa back-up emas atau perak pada akhirnya selalu bermuara pada penurunan daya beli.
Pejabat tadi sedang menjalankan peran moral yang sangat problematik. Di satu sisi dia disumpah untuk melindungi rakyat, di sisi lain dia menjadi tameng dari sistem yang secara perlahan memiskinkan rakyat itu sendiri. Dia berlindung di balik data agregat yang mengabaikan penderitaan di level mikro.
Solusi: Kembali ke Fundamental Nilai
Terus gimana jalan keluarnya? Kalau kita konsisten dengan kerangka ekonomi Islam yang dibawa An-Nabhani, solusinya bukan sekadar ganti pejabat atau mainin suku bunga acuan BI. Itu cuma ngobatin gejalanya saja tanpa menyentuh akar penyakitnya.
Solusi fundamentalnya adalah mengembalikan fungsi uang pada komoditas yang memiliki nilai intrinsik secara universal, yakni emas (Dinar) dan perak (Dirham). Ketika basis mata uangnya jelas dan riil, negara tidak bisa seenaknya mencetak uang dari ketiadaan, dan inflasi akibat selisih kurs yang menyedot darah petani tidak akan pernah terjadi. Rantai dominasi fiat global terputus.
Sikap Kita Menghadapi Depresiasi
Sebagai masyarakat, apa yang harus kita lakukan? Pertama, jangan pernah telan mentah-mentah narasi penguasa yang mengesampingkan realitas di lapangan. Kita harus punya daya kritis untuk melihat rantai pasok ekonomi secara utuh.
Kedua, sadari bahwa selama kita masih bermain di kolam kapitalisme dengan aturan main uang fiat yang sama, kita akan selalu menjadi pihak yang kalah. Kita butuh sebuah kesadaran ideologis bahwa perubahan yang sesungguhnya memerlukan perombakan arsitektur sistem, bukan sekadar mengganti retorika di depan layar kaca.
Perubahan Sistemik Tanpa Kekerasan
Nah, pertanyaannya sekarang: Gimana cara kita mengubah realitas yang udah kadung rusak ini? Apakah dengan turun ke jalan, merusak fasilitas umum, atau melakukan kudeta fisik?
Jawabannya: Tidak.
Perubahan yang ditawarkan dalam kerangka ini adalah perubahan yang bertumpu pada dakwah secara terstruktur, yang sifatnya pemikiran (fikriyah) dan politis (siyasiyah), secara mutlak tanpa kekerasan fisik (la madiyah). Kekerasan hanya melahirkan kekacauan, bukan peradaban.
Dakwah Pemikiran (Fikriyah): Perjuangan ini dimulai dari ide. Kita harus membongkar narasi-narasi cacat dari penguasa dengan data dan logika. Tujuannya adalah membangun arsitektur jiwa manusia yang ideologis di tengah masyarakat sebagai mentalitas tangguh yang tidak mudah disetir oleh oversimplification atau dibohongi oleh angka-angka statistik palsu. Masyarakat harus disadarkan terlebih dahulu bahwa sistem kapitalis ini secara fundamental zalim dan ada alternatif sistem ekonomi Islam yang jauh lebih rasional.
Dakwah Politis (Siyasiyah): Politis di sini bukan berarti sekadar berebut kursi pemilu. Politis artinya memiliki kepedulian tingkat tinggi terhadap urusan umat (ri'ayatu syu'unil ummah). Ini adalah aktivitas mengedukasi publik, membongkar makar dan gaslighting pejabat, serta menelanjangi kegagalan sistemik yang sedang terjadi secara konstitusional dan intelektual.
Kita tidak sedang berusaha sekadar mengganti supir busnya, tapi kita sedang menunjukkan kepada para penumpang bahwa mesin bus ini rusak parah dan kita butuh kendaraan baru dengan perubahan sistemik. Realitas ekonomi hanya bisa diubah ketika masyarakatnya sendiri yang menyadari kerusakan tersebut dan secara kolektif menuntut sistem yang lebih adil melalui adu gagasan yang cerdas, tajam, dan bermartabat. Wallahu a'lam bishshawab. []
Trisyuono Donapaste
(Aktivis Dakwah)