TintaSiyasi.id -- Komunikasi dalam Islam tidak hanya bersifat horizontal (antar manusia), tetapi juga vertikal (antara manusia dan Allah). Ia membentuk jaringan makna yang menghubungkan ilahiah, kenabian, dan kemanusiaan. Dari sinilah lahir tiga bentuk utama komunikasi dalam Islam:
1. Komunikasi Ilahiah,
2. Pola komunikasi manusia dengan Penciptanya,
3. Pola komunikasi antarmanusia (pilihan dan umum).
Semua ini berpuncak pada satu tujuan: mendekatkan manusia kepada Allah dan menuntun kehidupan menuju kebenaran.
I. Komunikasi Ilahiah: Wahyu sebagai Cahaya Langit
Komunikasi ilahiah adalah komunikasi langsung dari Allah SWT kepada manusia melalui wahyu. Ini adalah bentuk komunikasi paling murni, absolut, dan bebas dari kesalahan.
Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Asy-Syura ayat 51:
“Tidaklah Allah berbicara kepada manusia kecuali melalui wahyu, atau dari balik tabir, atau melalui utusan (malaikat)...”
Bentuk Komunikasi Ilahiah:
1. Wahyu Langsung (Ilqa’)
• Ditanamkan langsung ke dalam hati nabi
• Contoh: ilham kepada Nabi Musa dan ibunya
2. Dari Balik Tabir
• Seperti dialog Allah dengan Nabi Musa di Bukit Thur
3. Melalui Malaikat Jibril
• Cara paling umum, terutama kepada Nabi Muhammad
Makna Ideologis:
• Wahyu adalah sumber kebenaran absolut
• Menjadi dasar akidah, syariat, dan akhlak
Makna Sufistik:
• Wahyu adalah cahaya yang menerangi hati
• Menghubungkan langit (ilahiah) dengan batin manusia
II. Pola Komunikasi Manusia dengan Penciptanya
Jika wahyu adalah komunikasi dari Allah kepada manusia, maka ibadah adalah komunikasi dari manusia kepada Allah.
1. Komunikasi Verbal: Doa dan Dzikir
Sebagaimana dalam QS. Ghafir ayat 60:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan…”
Makna:
• Doa adalah dialog spiritual
• Dzikir adalah pengingat yang menghidupkan hati
Dimensi Sufistik:
Doa bukan hanya permintaan, tetapi pengakuan kehambaan.
Dzikir bukan sekadar lafaz, tetapi kehadiran hati bersama Allah.
2. Komunikasi Nonverbal: Ibadah dan Amal
• Shalat, puasa, zakat, dan amal saleh
• Semua adalah “bahasa tindakan” kepada Allah
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 45:
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu…”
Makna:
• Ibadah adalah ekspresi cinta dan ketundukan
• Amal adalah bukti komunikasi yang jujur
3. Komunikasi Kontemplatif: Tafakkur dan Muhasabah
• Merenungi ciptaan Allah
• Berdialog dengan hati
Dalam sufisme:
“Hati yang diam lebih fasih daripada lisan yang banyak bicara.”
III. Pola Komunikasi dengan Manusia Pilihan (Para Nabi dan Orang Saleh)
Manusia pilihan (para nabi dan wali) memiliki pola komunikasi khusus karena kedekatan mereka dengan Allah.
Karakteristik:
1. Komunikasi Berbasis Wahyu dan Ilham
• Para nabi menerima wahyu
• Orang saleh menerima ilham (bukan wahyu)
2. Komunikasi yang Penuh Hikmah
• Ucapan mereka singkat, tetapi dalam
• Mengandung makna luas dan menyentuh jiwa
Contoh dari Nabi Muhammad:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”
3. Komunikasi sebagai Keteladanan
• Mereka berbicara melalui tindakan
• Hidup mereka adalah pesan itu sendiri
Dimensi Sufistik:
• Hati mereka menjadi “cermin ilahi”
• Kata-kata mereka memiliki ruh (spirit)
IV. Pola Komunikasi dengan Manusia Biasa
Ini adalah komunikasi sosial sehari-hari antar manusia, yang tetap diatur oleh nilai-nilai Islam.
Prinsip-Prinsipnya:
1. Qaulan Sadida (Perkataan yang Benar)
Dalam QS. Al-Ahzab ayat 70:
“Berkatalah dengan perkataan yang benar.”
2. Qaulan Layyina (Lemah Lembut)
Contoh ketika Allah memerintahkan Nabi Musa berbicara kepada Fir’aun dengan lembut.
3. Qaulan Baligha (Efektif dan Membekas)
• Kata-kata yang tepat sasaran
• Tidak bertele-tele
4. Qaulan Ma’rufa (Baik dan Santun)
• Tidak menyakiti
• Menjaga adab
5. Qaulan Karima (Mulia)
• Menghormati orang lain, terutama orang tua
Dimensi Ideologis:
• Komunikasi membangun tatanan sosial Islami
• Menjaga nilai keadilan dan kebenaran
Dimensi Sufistik:
• Setiap kata adalah cermin hati
• Lisan yang terjaga adalah tanda hati yang hidup
V. Integrasi: Dari Wahyu ke Realitas Kehidupan
Ketiga bentuk komunikasi ini saling terhubung:
• Komunikasi Ilahiah → memberi petunjuk
• Komunikasi dengan Allah → menguatkan iman
• Komunikasi antar manusia → mewujudkan nilai Islam
Jika terputus salah satunya, maka keseimbangan hidup akan terganggu.
Penutup: Menjadi Hamba yang Pandai Berkomunikasi
Wahai pencari kebenaran…
Belajarlah berkomunikasi seperti Al-Qur’an:
• Tegas dalam kebenaran
• Lembut dalam penyampaian
• Dalam dalam makna
Berkomunikasilah dengan Allah melalui doa yang tulus,
dan dengan manusia melalui kata yang penuh kasih.
Sebab pada akhirnya, komunikasi dalam Islam bukan sekadar kata…
Ia adalah jalan menuju Allah.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)