Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Begini Hebatnya Mata Uang Emas dan Dinar

Rabu, 20 Mei 2026 | 04:28 WIB Last Updated 2026-05-19T21:28:13Z
Tintasiyasi.id.com -- Dilansir dari cnbcindonesia.com (16/5/2026) nilai tukar Rupiah kembali menyentuh titik yang mengkhawatirkan. Dolar Amerika Serikat kini telah menembus angka Rp17.600 per USD, menjadi salah satu pelemahan terdalam dalam sejarah perjalanan Rupiah modern. 

Kondisi ini bukan sekadar persoalan angka di layar pasar keuangan, melainkan alarm keras bagi rapuhnya sistem ekonomi kapitalistik yang selama ini bergantung pada mata uang fiat dan dominasi Dolar global.

Pelemahan Rupiah selalu membawa efek domino yang berat bagi negara berkembang seperti Indonesia. Sebab hampir seluruh aktivitas ekonomi strategis terhubung dengan Dolar. Mulai dari impor bahan baku industri, pangan, obat-obatan, teknologi, BBM, hingga pembayaran utang luar negeri. 

Ketika Dolar menguat, maka biaya hidup rakyat ikut melonjak tanpa ampun. Harga barang impor akan naik karena transaksi internasional dilakukan menggunakan Dolar. Industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri otomatis menaikkan harga produksi. Dampaknya menjalar ke pasar tradisional, toko kelontong, hingga meja makan rakyat biasa.

Kenaikan kurs juga membuat utang luar negeri semakin membengkak. Negara berkembang akhirnya dipaksa mengalokasikan anggaran lebih besar hanya untuk membayar cicilan dan bunga utang. 

Akibatnya, subsidi dipangkas, pajak dinaikkan, dan rakyat kembali menjadi pihak yang paling menanggung penderitaan.

Inilah wajah asli sistem ekonomi kapitalisme global. Mata uang fiat yang tidak memiliki nilai intrinsik membuat perekonomian sangat mudah diguncang spekulasi, kepentingan politik, hingga permainan elite finansial dunia. Nilai uang dapat melemah drastis hanya karena sentimen pasar atau kebijakan bank sentral negara besar.

Solusi Islam

Dalam Islam, persoalan mata uang telah memiliki solusi yang sangat jelas dan kokoh sejak lebih dari 14 abad lalu.

Syaikh dalam kitab An-Nizham Al-Iqtishadi fil Islam menjelaskan bahwa Islam menetapkan emas dan perak sebagai standar mata uang negara. Dinar digunakan berbasis emas, sedangkan dirham berbasis perak. Sistem ini bukan sekadar tradisi sejarah, melainkan mekanisme syariat untuk menjaga kestabilan ekonomi masyarakat.

Beliau menjelaskan bahwa emas dan perak memiliki nilai hakiki yang stabil dan tidak mudah dimanipulasi penguasa maupun pasar global. Berbeda dengan uang kertas modern yang nilainya hanya bergantung pada kepercayaan dan kekuatan politik negara penerbitnya.

Kehebatan dinar dan dirham terlihat nyata dalam kestabilan nilainya lintas zaman.
Pada masa Rasulullah Saw, seekor kambing berkualitas baik dapat dibeli dengan 1 dinar emas.

1 dinar setara sekitar 4,25 gram emas murni. Jika hari ini harga emas berada di kisaran Rp2 juta per gram, maka nilai 1 dinar sekitar,

4,25 gram × Rp2.000.000 = Rp8.500.000.

Menariknya, dengan nominal sekitar Rp8–9 juta saat ini, seseorang masih bisa membeli seekor kambing berkualitas baik untuk aqiqah atau kurban.
Artinya, dari zaman Rasulullah hingga era modern dan Generasi Alpha hari ini, daya beli 1 dinar relatif tetap.
Maa sya Allah.

Ini menunjukkan bahwa emas memiliki kestabilan nilai yang luar biasa. Ia tidak mudah runtuh dimakan inflasi, tidak hancur karena pergantian rezim, dan tidak bergantung pada permainan spekulasi pasar global.

Bandingkan dengan Uang Kertas

Puluhan tahun lalu, Rp50 ribu mampu memenuhi banyak kebutuhan rumah tangga. Namun hari ini nilainya terus menyusut akibat inflasi. Nominal uang mungkin tetap terlihat besar, tetapi daya belinya semakin kecil.
Inilah bentuk “Perampokan halus” dalam sistem ekonomi kapitalisme. Rakyat bekerja lebih keras, tetapi nilai uang mereka terus tergerus tanpa disadari.

Islam datang bukan hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga menghadirkan sistem ekonomi yang adil dan stabil. Mata uang berbasis emas dan perak menjaga keseimbangan transaksi, melindungi daya beli rakyat, serta menghalangi negara mencetak uang secara berlebihan demi menutup utang dan kepentingan politik.

Lebih dari itu, sistem ekonomi Islam juga melarang riba yang menjadi akar krisis global hari ini. Negara dalam Islam tidak bergantung pada utang luar negeri berbunga, melainkan mengelola sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat.

Karena itu, solusi Islam bukan sekadar tambalan sementara, tetapi solusi mendasar yang menyentuh akar persoalan.
Aturan Allah SWT adalah aturan paling sempurna. Sebab Sang Pencipta manusia tidak memiliki kepentingan pribadi, kepentingan politik, ataupun ambisi kekuasaan sebagaimana manusia. Allah Swt Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Berbeda dengan sistem kapitalisme yang dibuat manusia dan sarat kepentingan elite, syariat Islam justru hadir untuk menjaga kemaslahatan seluruh umat manusia.

Hari ini dunia boleh membanggakan kecanggihan teknologi finansial, digital banking, hingga transaksi virtual. Namun jika mata uang terus rapuh dan inflasi terus merampas kesejahteraan rakyat, maka semua itu hanyalah kemajuan semu dan semakin dunia dilanda krisis demi krisis, semakin terlihat bahwa solusi Islam bukanlah utopia. Justru Islam adalah jawaban nyata bagi kegagalan sistem ekonomi kapitalisme modern.[]

Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

Opini

×
Berita Terbaru Update