TintaSiyasi.id -- “Lima sifat yang menakjubkan: Imam as-Suyuthi berkata:
Ada lima sifat pada anak-anak, seandainya sifat itu ada pada orang dewasa dalam hubungannya dengan Tuhan mereka, niscaya mereka termasuk para wali:
1. Mereka tidak gelisah terhadap rezeki.
2. Mereka tidak mengeluh kepada selain Pencipta mereka ketika sakit.
3. Mereka makan bersama-sama (tidak egois).
4. Jika mereka takut, mata mereka mengalirkan air mata.
5. Jika mereka berselisih, mereka segera kembali berdamai.”
Kembali Menjadi “Anak-Anak” di Hadapan Allah
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, manusia dewasa sering merasa paling tahu arah hidupnya. Namun ironisnya, justru dalam banyak hal, kita kehilangan sesuatu yang sangat mendasar—kemurnian jiwa.
Apa yang diungkapkan oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi bukan sekadar nasihat ringan, tetapi sebuah cermin spiritual: bahwa jalan menuju kedekatan dengan Allah bukan hanya melalui banyaknya ilmu, tetapi melalui kesederhanaan hati seperti anak kecil.
1. Tidak Gelisah Tentang Rezeki: Tauhid yang Hidup
Anak kecil tidak pernah berpikir: “Besok aku makan apa?”
Mereka hidup dalam kepercayaan total kepada orang tuanya.
Inilah hakikat tawakal—sebuah maqam tinggi dalam dunia tasawuf.
Orang dewasa sering mengaku beriman, tetapi hatinya dipenuhi kecemasan tentang dunia.
Padahal Allah telah menegaskan: “Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Seorang hamba yang benar-benar mengenal Allah akan merasa cukup dengan jaminan-Nya.
2. Tidak Mengeluh kepada Selain Allah: Adab dalam Ujian
Ketika anak sakit, ia menangis—tetapi ia kembali kepada ibunya.
Ia tidak mencari pelarian ke mana-mana.
Namun manusia dewasa sering mengadu ke sana kemari, bahkan terkadang lupa kepada Allah.
Dalam dunia sufistik, ini disebut sebagai adab terhadap takdir.
Para salihin tidak mengingkari rasa sakit, tetapi mereka menjaga arah keluhannya hanya kepada Allah.
3. Makan Bersama: Jiwa yang Bersih dari Ego
Anak-anak tidak mengenal konsep “ini milikku saja”.
Mereka mudah berbagi, bahkan dalam hal kecil.
Bandingkan dengan orang dewasa—yang sering kali dikuasai oleh sifat tamak dan individualisme.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda: “Makanan untuk satu orang cukup untuk dua orang, dan makanan untuk dua orang cukup untuk empat orang.”
Dalam berbagi, terdapat keberkahan yang tidak terlihat oleh logika dunia.
4. Menangis Saat Takut: Hati yang Hidup
Tangisan anak bukanlah kelemahan, tetapi tanda hati yang masih hidup.
Dalam perjalanan ruhani, menangis karena takut kepada Allah adalah tanda kelembutan hati.
Sebaliknya, hati yang keras tidak lagi tersentuh—even oleh ayat-ayat Allah.
Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa salah satu golongan yang mendapat naungan Allah adalah: “Seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu kedua matanya mengalirkan air mata.”
Tangisan itu bukan sekadar air, tetapi cahaya penyesalan dan cinta.
5. Cepat Berdamai: Hati yang Lapang
Anak-anak bertengkar, tetapi tidak lama kemudian mereka bermain kembali.
Tidak ada dendam yang tersimpan.
Inilah sifat ikhlas dan lapang dada.
Orang dewasa sering menyimpan luka bertahun-tahun, bahkan sampai memutus silaturahim.
Padahal dalam Islam, memaafkan adalah jalan menuju kemuliaan: “Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)
Refleksi Sufistik: Jalan Menuju Wilayah (Kewalian)
Pesan besar dari Imam Jalaluddin as-Suyuthi adalah:
Kewalian bukan hanya hasil dari ritual panjang, tetapi buah dari hati yang bersih dan tulus.
Anak-anak memiliki itu secara alami.
Sedangkan orang dewasa harus berjuang untuk mengembalikannya.
Dalam istilah tasawuf, ini disebut:
Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa)
Takhalli (mengosongkan diri dari sifat buruk)
Tahalli (menghias diri dengan sifat-sifat mulia)
Penutup: Menjadi Kecil untuk Menjadi Besar
Barangkali kita tidak diminta untuk kembali menjadi anak-anak secara usia,
tetapi kita diperintahkan untuk menghidupkan kembali hati anak-anak dalam jiwa kita:
Percaya penuh kepada Allah
Tidak mengeluh kepada selain-Nya
Mudah berbagi
Lembut dan mudah menangis karena-Nya
Cepat memaafkan
Karena dalam dunia spiritual,
semakin seseorang merasa kecil di hadapan Allah, semakin besar derajatnya di sisi-Nya.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)