TintaSiyasi.id -- Founder Political Youth Movement Ustaz Ipank F. Abdullah, menjelaskan, ketika ketaatan didahulukan pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak diduga.
"Sejarah telah membuktikan ketika ketaatan didahulukan pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak kita duga," ungkapnya dalam acara Kisah Khilafah #6 Usamah Bin Zaid: Panglima Perang Termuda Terbaik Pilihan Rasulullah! Di Akun Youtube RayahTV, Kamis (25/2/2026).
Ia menceritakan, Madinah sedang berduka, goncang, kacau, sebagian kabilah murtad, sebagian lagi penuh kesempatan untuk menyerang, dan diperbatasan utara emperium Romawi sedang mengawasi, secara militer, secara politik, secara logika, ini adalah momen paling berbahaya dalam sejarah Islam.
"Lalu di tengah kondisi itu ada satu keputusan yang membuat para sahabat gemetar, Abu Bakar berkata 'kita tetap kirim pasukan Usamah'," ceritanya
Ia menjelaskan, situasinya pasukan terbaik Madinah sudah disiapkan Rasulullah SAW untuk menghadapi Romawi di wilayah Syam, panglimanya Usamah bin Zaid usianya 18 tahun, 18 tahun memimpin pasukan yang di dalamnya ada Abu Ubaidah, Saad bin Abi Waqqas para sahabat senior.
"Sejak awal sudah ada yang bertanya kenapa anak muda dan Rasulullah SAW menjawab 'jika kalian mencela kepemimpinannya, kalian juga mencela kepemimpinan ayahnya, dia layak memimpin', ini dalil yang tegas legitimasi langsung dari nabi tetapi pasukan ini belum berangkat karena Rasulullah SAW wafat," ungkapnya.
Ia melanjutkan, kabilah Arab murtad, ancaman datang dari segala arah, logika militer tarik pasukan jangan tinggalkan Madinah kosong, selamatkan pusat pemerintahan, bahkan Umar Bin Khattab termasuk yang mengusulkan agar pasukan Usamah dibatalkan.
"Ini bukan penentangan, ini ijtihad, ini analisis keamanan, tetapi Abu Bakar menjawab dengan kalimat yang mengguncang sejarah 'demi Allah walaupun aku tahu binatang buas akan menerkam aku tetap akan mengirim pasukan Islam sebagaimana perintah Rasulullah SAW",' paparnya.
"Coba kita renungkan secara strategi keputusan ini beresiko, Madinah bisa diserang pasukan terbaik keluar, musuh internal sedang banyak tetapi Abu Bakar melihat sesuatu yang tidak semua orang lihat, ini bukan sekedar ekspedisi militer, ini soal wibawa wahyu, ini seorang ketaatan pada pemerintahan nabi, jika perintah Rasulullah SAW dibatalkan karena tekanan situasi maka pesan yang sampai ke seluruh Jazirah adalah Islam sudah lemah, pemerintah goyah, perintah nabi bisa dinegosiasi, dan itu jadi lebih berbahaya daripada kehilangan pasukan, inilah ketika kepemimpinan bukan hanya membaca medan tetapi membaca dampak psikologis umat," tegasnya.
Kemudian, ia berkisah, saat pasukan berangkat terjadi adegan yang sangat kuat, Usamah naik kendaraan Abu Bakar berjalan kaki, Usamah berkata 'wahai Khalifah Rasulullah naiklah dan aku yang turun', Abu Bakar menjawab 'engkau jangan turun aku tidak akan naik tidak apa-apa, kakiku berdebu di jalan Allah'.
"Ini bukan simbol biasa, ini pesan kepemimpinan, pemimpin melayani pasukannya pemimpin menghormati amanah nabi, pemimpin tidak mencari posisi tetapi mencari ridha Allah," ungkapnya.
Sebelum pasukan berangkat, ia menjelaskan, Abu Bakar memberikan sepuluh wasiat, jangan berkhianat, jangan menipu, jangan membunuh anak kecil, jangan membunuh wanita, jangan membunuh orang tua, jangan merusak pohon, jangan membakar kebun, jangan menyembelih hewan kecuali untuk dimakan.
"Ini bukan sekadar aturan perang, ini dalil bahwa jihad dalam Islam punya etika, batas, moral. Di saat dunia mengenal perang tanpa aturan, Islam datang dengan nilai-nilai aturan, pasukan berangkat cepat, tepat, terukur, mereka menyerang wilayah target di sekitar Mu’tah, mengguncang sekutu-sekutu Romawi membantu kabilah yang masih loyal lalu kembali tanpa korban," paparnya.
Ia menambahkan, sejarah mencatat tidak ada pasukan yang lebih selamat daripada pasukan Usamah. Dan dampaknya luar biasa, Romawi terkejut pemimpin mereka baru saja mati, tetapi mereka menyerang kabilah-kabilah Arab yang ingin memberontak langsung mengurungkan niat.
"Di bawah Daulah Islam bangkit kembali, satu keputusan yang awalnya dianggap berbahaya ternyata menjadi pondasi stabilitas politik. Ini bukan kisah tentang perang, ini kisah tentang generasi, Usamah adalah hubbu Rasulullah, kesayangannya Rasulullah, anak dari Zaid bin Haritzah sahabat yang sangat dicintai nabi, ia tunggu di dalam rumah kenabian dididik ummu Aiman, wanita yang disebut nabi bagian dari keluargaku," jelasnya.
"Diusia 18 tahun dia memimpin pasukan yang berisi para senior, ini pesan penting Islam tidak menunggu tua untuk memberi amanah, Islam melihat kapasitas bukan sekedar usia," tambahnya.
Dari kisah Usamah, ia melanjutkan, umat belajar tiga hal besar. Pertama, ketaatan pada wahyu lebih tinggi dari logika situasional, bukan berarti anti strategi tetapi wahyu adalah kompas.
Kedua, dibawah kepemimpinan dibangun dari konsistensi, jika perintah nabi ditaati umat percaya musuh gentar.
Ketiga, regenerasi itu wajib. "Jika Usamah tidak diberi ruang umat kehilangan masa depan. Hari ini kita sering berkata kondisi tidak memungkinkan, situasi tidak mendukung, belum waktunya, padahal Abu Bakar mengambil keputusan disaat paling berbahaya, bukan karena nekat tetapi karena yakin pada janji Allah. Maka pertanyaan yang sekarang apakah kita mengambil keputusan berdasarkan tekanan keadaan atau berdasarkan ketaatan," tegasnya.
Dari seorang pemuda 18 tahun umat belajar jangan tunggu tua untuk berkontribusi, jangan tunggu aman untuk taat, jangan tunggu siap untuk bergerak, karena kemenangan bukan milik yang paling kuat tetapi milik yang paling patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.[] Alfia