TintaSiyasi.id -- Seruan Sufistik untuk Kebangkitan Amanah dan Keadilan.
Di hamparan bumi yang subur, di bawah langit yang luas, berdirilah sebuah negeri yang oleh para leluhur disebut sebagai “zamrud khatulistiwa.” Negeri yang tanahnya mengandung emas, lautnya menyimpan kekayaan, dan hutannya menjadi paru-paru dunia. Namun di balik semua itu, terselip sebuah ironi yang menggetarkan jiwa: kekayaan melimpah, tetapi sebagian rakyatnya masih hidup dalam kekurangan.
Ini bukan sekadar persoalan ekonomi. Ini adalah cermin dari kondisi ruhani sebuah bangsa.
I. Ketika Amanah Berubah Menjadi Keserakahan
Kepemimpinan dalam Islam bukanlah kursi kekuasaan, melainkan beban amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Namun ketika amanah itu diperalat menjadi sarana memperkaya diri, maka lahirlah pengkhianatan yang paling dalam: pengkhianatan terhadap rakyat.
Korupsi bukan hanya kejahatan hukum—ia adalah penyakit hati.
Ia lahir dari jiwa yang kering dari dzikir, dari hati yang terputus dari rasa takut kepada Allah.
Seorang sufi pernah berkata:
> “Ketika hati dipenuhi cinta dunia, maka kebenaran menjadi kabur, dan keadilan menjadi mahal.”
Maka jangan heran jika:
Yang lemah semakin tertindas
Yang kuat semakin berkuasa
Yang jujur tersingkir, yang culas justru naik
Karena penyakitnya bukan di sistem semata, tetapi di jiwa manusia yang mengendalikan sistem itu.
II. Kekayaan Tanpa Keberkahan
Emas yang keluar dari perut bumi tidak otomatis membawa keberkahan.
Ia hanya menjadi berkah jika dikelola dengan keadilan, didistribusikan dengan amanah, dan digunakan untuk kemaslahatan umat.
Tanpa itu, kekayaan justru menjadi:
Sumber konflik
Alat penjajahan gaya baru
Dan sebab kemiskinan yang terstruktur
Betapa banyak negeri yang kaya, tetapi rakyatnya miskin. Karena kekayaan itu tidak pernah benar-benar “turun” kepada mereka.
Dalam kacamata sufistik, ini adalah tanda terputusnya hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Karena jika hubungan itu kuat, maka:
Pemimpin akan takut berbuat zalim
Pejabat akan gemetar mengambil yang bukan haknya
Kekuasaan akan dipandang sebagai ujian, bukan kesempatan
III. Rakyat yang Terluka, Negeri yang Menangis
Jeritan rakyat miskin bukan hanya suara perut yang lapar.
Ia adalah doa yang menggema ke langit.
Ketika seorang ibu tidak mampu memberi makan anaknya, ketika seorang ayah kehilangan harapan karena sulitnya mencari nafkah, maka sesungguhnya negeri ini sedang menangis—meski tidak terdengar.
Dan dalam hadis disebutkan, doa orang yang terzalimi tidak memiliki penghalang antara dirinya dengan Allah.
Maka berhati-hatilah wahai para pemimpin…
Karena mungkin jabatanmu masih kokoh di dunia, tetapi sudah runtuh di hadapan langit.
IV. Seruan Kesadaran: Kembali ke Jalan Ilahi
Wahai para pemimpin negeri ini…
Sadarlah.
Bahwa kursi yang kalian duduki hari ini, esok akan kalian tinggalkan.
Bahwa tanda tangan yang kalian buat hari ini, kelak akan menjadi saksi di akhirat.
Jangan tukar amanah dengan kenikmatan sesaat.
Jangan jual masa depan rakyat dengan kepentingan sesaat.
Dan wahai rakyat Indonesia…
Jangan hanya mengeluh.
Bangkitlah dengan:
Ilmu yang mencerahkan
Iman yang menguatkan
Persatuan yang menyatukan
Karena perubahan tidak akan turun dari langit, jika manusia tidak berusaha mengubah dirinya.
V. Jalan Sufistik: Revolusi Hati Menuju Perubahan Negeri
Perubahan sejati tidak dimulai dari istana, tetapi dari hati manusia.
Jika hati para pemimpin bersih → lahirlah kebijakan yang adil
Jika hati rakyat kuat → lahirlah ketahanan menghadapi ujian
Jika hati bangsa ini hidup → maka kebangkitan bukan lagi mimpi
Inilah jalan sufistik:
Membersihkan jiwa dari cinta dunia berlebihan
Menanamkan rasa takut kepada Allah
Menghidupkan kesadaran bahwa setiap amal akan dihisab
Karena sejatinya, krisis terbesar bangsa ini bukan krisis sumber daya—
tetapi krisis kejujuran, amanah, dan ketakwaan.
Penutup: Doa untuk Negeri
Ya Allah, jangan Engkau hukum kami karena keburukan pemimpin kami…
Namun bangkitkanlah di tengah kami pemimpin-pemimpin yang takut kepada-Mu…
Yang mencintai rakyatnya, dan Engkau cintai karena keadilannya…
Indonesia tidak kekurangan emas.
Indonesia tidak kekurangan sumber daya.
Yang kita butuhkan adalah manusia-manusia yang berjiwa emas.
Karena ketika jiwa telah mulia,
maka negeri akan sejahtera.
Dan ketika hati telah dekat dengan Allah,
maka keadilan akan turun sebagai rahmat.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)