Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Banyak Rezim Hari Ini Hanya Menjalankan Kepentingan Kolonial

Kamis, 09 April 2026 | 22:12 WIB Last Updated 2026-04-09T15:12:10Z

TintaSiyasi.id -- Ulama Ustaz Arief B Iskandar, mengatakan banyak rezim hari ini sesungguhnya hanya menjalankan fungsi administratif dalam tatanan politik global menjaga kepentingan kolonial meski dibayar darah umat.

"Banyak rezim hari ini sesungguhnya hanya menjalankan fungsi administratif dalam tatanan politik global, menjaga agar arus kepentingan kolonial tetap stabil, meski harus dibayar dengan darah umat sendiri," ungkapnya di akun Telegram Arief B Iskandar, Senin (6/4/2026).

Ia mengatakan, setiap kali Amerika Serikat tersudut dalam krisis yang dia ciptakan sendiri, selalu saja muncul tangan-tangan sigap dari sebagian penguasa negeri Muslim yang siap menawarkan jalan keluar. Bukan untuk menghentikan kezaliman dari akarnya, melainkan untuk memastikan agar kekuatan kolonial itu tidak jatuh terlalu dalam ke jurang kegagalannya. Begitulah yang kembali tampak pasca-serangan militer Amerika dan entitas Yahudi terhadap Iran. 

"Saat situasi kawasan masih bergetar oleh ancaman eskalasi, media-media Amerika justru memberitakan bagaimana Turki dan Mesir begitu sigap untuk menghidupkan kembali jalur diplomasi yang tersendat. Bahkan Istanbul Istanbul disebut-sebut sebagai tempat yang disiapkan bagi kemungkinan perundingan langsung antara Washington dan Teheran," paparnya. 

Secara lahiriah, langkah itu dibungkus dengan bahasa damai, stabilitas dan de-eskalasi. Akan tetapi, dalam politik internasional, sering kata-kata yang paling lembut justru menyembunyikan tujuan yang paling keras.

Kemudian, yang sedang berlangsung sesungguhnya bukan sekadar mediasi, melainkan upaya sistematis untuk menyiapkan pintu keluar terhormat bagi Amerika dari kebuntuan yang mulai menghimpitnya.

Ia menjelaskan, sesudah Pakistan memainkan peran serupa, kini giliran Ankara dan Kairo bergerak cepat. Pergantian peran itu terlalu rapi untuk dianggap spontan. Seolah ada estafet pengabdian yang terus bergulir: satu rezim selesai menjalankan tugas, rezim lain segera mengambil posisi.

"Mereka memahami benar bahwa setiap guncangan terhadap dominasi Amerika di kawasan akan berimbas langsung pada ketahanan kursi kekuasaan mereka sendiri. Sebabnya, sejak lama, sebagian besar rezim di Dunia Islam tidak dibangun di atas kemandirian politik, tetapi bertahan melalui jaring perlindungan geopolitik Barat, khususnya AS," jelasnya. 

Karena itu tatkala Washington membutuhkan penyelamatan, respon mereka selalu cepat. Jauh lebih cepat daripada ketika kaum Muslim membutuhkan pembelaan, seperti Palestina. 

"Di sinilah letak ironi yang nyaris tak lagi dapat disembunyikan. Saat Jalur Gaza terus diguyur api, rumah-rumah dihancurkan, anak-anak dikuburkan di bawah reruntuhan, dan ribuan nyawa melayang dalam pembantaian yang berkepanjangan, dunia hanya disuguhi pernyataan-pernyataan diplomatik yang dingin. Tidak ada kegentingan politik yang setara. Tidak ada kesibukan luar biasa yang diarahkan untuk menghentikan pelaku kejahatan. Para penguasa Muslim cenderung diam. Tidak ada aksi spontan yang berarti, selain kecaman dan retorika basi," cecarnya. 

Padahal, ia menjelaskan, Dunia Islam memiliki semua perangkat yang diperlukan: jumlah penduduk besar, kekuatan ekonomi, posisi strategis, jalur energi dan tentara-tentara dalam jumlah sangat besar. Akan tetapi, semua itu seperti dibekukan oleh para penguasa Muslim sendiri.

"Tentara tetap tinggal di barak. Armada tetap diam. Batas-batas politik dijaga jauh lebih serius daripada menjaga kehormatan umat. Bahkan terhadap Masjidil Aqsha—yang hampir setiap pidato disebut sebagai kehormatan umat dan garis merah—yang tampak justru sebatas retorika tanpa daya paksa. Sebaliknya, ketika Amerika menghadapi kerumitan baru akibat konfrontasi dengan Iran, saluran diplomasi segera dipanaskan," paparnya. 

Maka dari itu, ia mengingatkan, wajar jika umat bertanya: mengapa kecepatan yang sama tidak pernah tampak saat darah kaum Muslim ditumpahkan? Jawabannya sesungguhnya sederhana: karena orientasi politik rezim-rezim itu bukan bertumpu pada kepentingan umat, tetapi pada kesinambungan kekuasaan mereka sendiri.

"Dalam konteks inilah, peran Recep Tayyip Erdogan menjadi makin kontras. Hampir setiap hari publik disuguhi narasi besar tentang kedaulatan nasional, kebesaran negara dan peran global Turki. Akan tetapi, ketika momentum menentukan tiba, yang muncul bukan langkah strategis untuk membela umat, melainkan posisi sebagai perantara yang membantu meredakan tekanan terhadap kekuatan kolonial," urainya. 

Lebih ironis lagi, Istanbul—kota yang dulu menjadi simbol kepemimpinan Islam berabad-abad di bawah Khilafah Utsmaniyah—kini hendak dijadikan panggung negosiasi bagi agenda yang secara substantif justru memperpanjang napas dominasi pihak yang selama ini menopang penjajahan atas dunia Islam.

"Ini bukan sekadar pergeseran fungsi kota. Ini simbol perubahan arah sejarah. Dulu dari kota itu keputusan-keputusan besar diambil untuk menjaga wilayah umat. Kini namanya dipanggil untuk memfasilitasi keselamatan pihak yang berkali-kali menjadi sumber petaka bagi kaum Muslim," tegasnya. 

Ia mengingatkan, selama orientasi kekuasaan tetap bergantung pada restu asing, umat tidak akan pernah memperoleh perlindungan sejati. Mereka yang menjadikan Amerika sebagai kiblat politik dan mencari kemuliaan di hadapannya, pada akhirnya hanya akan mewarisi kehinaan sejarah. 

"Nama-nama mereka mungkin hari ini masih disebut dengan gelar kehormatan kenegaraan, tetapi sejarah sering lebih jujur daripada protokol kekuasaan. Ia mencatat siapa yang berdiri di sisi umat, dan siapa yang sibuk menyelamatkan musuh umat," tegasnya. 

Hari ini, ia menekankan, kebutuhan umat bukan sekadar perubahan kebijakan, melainkan perubahan mendasar dalam struktur kepemimpinan politiknya: kepemimpinan yang lahir dari akidah umat sendiri, tidak tunduk pada tekanan kolonial, tidak takut kehilangan legitimasi Barat, dan berani menjadikan kehormatan Islam sebagai pusat keputusan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

Sesungguhnya imam itu adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya. (HR al-Bukhari dan Muslim).

"Karena itu, di tengah pengkhianatan yang terus berulang, umat makin membutuhkan kehadiran kembali kepemimpinan Islam global yang benar-benar melindungi. Kepemimpinan Islam global itu tidak lain Khilafah 'alaa minhaaj an-Nubuwwah," pungkasnya.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update