TintaSiyasi.id -- Dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah ﷻ, terdapat dua jalan besar yang harus ditempuh dengan seimbang: kewajiban (fardhu) dan tambahan (sunnah). Jika kewajiban adalah fondasi, maka sunnah adalah keindahan, penyempurna, sekaligus penguat bangunan ruhani seorang mukmin.
Hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menjadi poros utama dalam memahami maqam ini. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa
Allah ﷻ berfirman:
“Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya…”
1. Fardhu: Pondasi, Sunnah: Jalan Cinta
Banyak orang terjebak dalam kesalahan persepsi: merasa cukup dengan kewajiban, atau sebaliknya, sibuk dengan sunnah tetapi lalai pada yang wajib. Padahal, urutan spiritual itu jelas:
• Fardhu → dicintai Allah
• Sunnah → mengundang cinta Allah
Di sinilah letak rahasia. Amal wajib adalah tanda ketaatan. Tetapi amal sunnah adalah bukti kerinduan.
Dalam perspektif tasawuf, kewajiban itu ibadah orang yang takut kepada Allah, sedangkan sunnah adalah ibadah orang yang jatuh cinta kepada Allah.
2. Ketika Allah Mencintai Seorang Hamba
Hadits itu berlanjut dengan ungkapan yang sangat dalam secara makna spiritual:
“Aku menjadi pendengarannya… penglihatannya… tangannya… dan kakinya…”
Ini bukan berarti Allah menyatu dengan makhluk (sebagaimana disalahpahami), tetapi menunjukkan bahwa:
• Pendengarannya hanya untuk kebaikan
• Penglihatannya terjaga dari maksiat
• Tangannya hanya bergerak dalam ketaatan
• Langkahnya selalu menuju ridha Allah
Inilah maqam wilayah (kedekatan khusus). Seorang hamba tidak lagi hidup untuk dirinya, tetapi hidup bersama Allah dalam setiap geraknya.
3. Sunnah: Penambal Kekurangan Amal Wajib
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa pada hari kiamat, amal pertama yang dihisab adalah shalat. Jika terdapat kekurangan, maka Allah ﷻ berfirman:
“Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah…”
Sunnah bukan sekadar tambahan, tetapi:
• Penutup kekurangan
• Penyempurna cacat ibadah
• Penyelamat dari kerugian akhirat
Betapa banyak shalat kita yang secara lahir sah, tetapi secara batin kosong. Maka sunnah hadir sebagai rahmat Allah untuk menambal kelemahan kita.
4. Ragam Amalan Sunnah: Jalan Menuju Kedekatan
Dijelaskan oleh Abu Hamid al-Ghazali bahwa amalan sunnah terbagi menjadi:
• Sunnah Muakkadah: yang sering dilakukan Nabi (rawatib, witir, dhuha)
• Mustahabb: dianjurkan tetapi tidak rutin dilakukan Nabi
• Tathawwu’: amalan tambahan bebas yang dilakukan karena cinta
Semua ini disebut nawafil, yaitu tambahan yang membawa seorang hamba naik derajatnya di sisi Allah.
Contoh Sunnah yang Sangat Dianjurkan:
• Rawatib 12 rakaat → dijanjikan rumah di surga
• 2 rakaat sebelum Subuh → lebih baik dari dunia dan isinya
• Shalat Dhuha → dicukupkan kebutuhan hidup
• Qiyamul Lail → cahaya dalam kegelapan ruh
5. Sunnah Adalah Bukti Kejujuran Cinta
Seseorang yang mencintai Allah tidak akan puas hanya dengan kewajiban. Ia akan mencari cara untuk lebih dekat:
• Bangun malam saat manusia tidur
• Berdzikir saat manusia lalai
• Bersedekah saat orang lain kikir
Karena cinta tidak mengenal batas minimal. Cinta selalu mencari tambahan.
6. Spiritualitas Sunnah: Dari Ibadah Menuju Ma’rifat
Amalan sunnah bukan sekadar gerakan fisik, tetapi jalan menuju:
• Tazkiyatun nafs (penyucian jiwa)
• Hudhur qalb (kehadiran hati)
• Ma’rifatullah (mengenal Allah)
Semakin banyak sunnah, semakin halus hati.
Semakin halus hati, semakin dekat kepada Allah.
Penutup: Menjadi Hamba yang Dicintai Allah
Hidup ini bukan sekadar menjalankan kewajiban, tetapi mencari cinta Allah.
Jika kita hanya mengerjakan yang wajib, kita selamat.
Namun jika kita memperbanyak sunnah, kita dicintai.
Dan ketika Allah mencintai seorang hamba:
• Doanya tidak tertolak
• Hidupnya penuh keberkahan
• Akhirnya husnul khatimah
Maka, mari kita bertanya pada diri:
Apakah kita hanya ingin selamat… atau ingin dicintai Allah?
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)