Tintasiyasi.id.com -- Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar wa lillahilham. Gema takbir saling bersahutan, sebagai hadiah perayaan kemenangan atas penempaan diri umat selama Ramadan. Sebulan penuh umat Islam belajar menahan diri dari lapar dan dahaga. Melindungi dari hawa nafsu dan melatih kesabaran.
Namun sejatinya Ramadan tidak hanya berhenti pada aspek-aspek tersebut. Ia adalah bulan perjuangan, pembentukan, penguatan baik secara spiritual ataupun tekad dalam memperjuangkan kalimatul haq.
Namun ketika takbir masih berkumandang, dunia pun tak henti-hentinya berguncang dengan konflik dan ketegangan. Panggung politik global telah menggerus hati umat, terutama ketika mendengar sejumlah negara Arab menunjukkan keberpihakan yang sejalan dengan Amerika Serikat dalam menyikapi konflik dengan Iran, saudara Muslim mereka.
Yang mengikat sikap politik banyak negeri Muslim hari ini bukan lagi aqidah, melainkan kepentingan dan keuntungan. Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) telah mengkhianati umat.
Bukan sekadar pengkhianatan berupa keterpecahan negeri-negeri ini dalam sekat Nasionalisme, tetapi juga kenyataan bahwa para pemimpinnya berdiri dalam barisan yang sama dengan musuh Allah dan Rasul-Nya.
Di sinilah letak ironi itu menyayat. Umat yang disebut sebagai khoiru ummah, justru belum mampu menghadirkan kekuatan terbaiknya untuk menyelamatkan negeri-negeri yang terjajah.
Umat saling menggigit dan mencabik satu sama lain, hingga tangan mereka berlumuran darah yang terus mengalir. Padahal potensi umat sangatlah nyata. Jumlahnya besar, sumber dayanya melimpah, posisinya pun strategis di dunia.
Namun potensi itu tak berbuah, ia tercerai tanpa arah, tanpa kepemimpinan yang menyatukan, dan tanpa visi yang mengikat. Tanpa hadirnya satu kepemimpinan tunggal yang akan meri’ayah dan membawanya pada tujuan eksistensinya, yaitu penghambaan total pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Masalah umat hari ini bukan kekurangan kekuatan, tetapi kehilangan arah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan kita:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS. Ali ‘Imran: 103)
Maka, pasca madrasah Ramadan ini, umat perlu menyadari bahwa perjuangan tidak cukup berhenti pada ritual atau ranah individual. Momen Idul Fitri ini harus menjadi awal dari langkah yang lebih besar.
Menjadi titik balik untuk menyusun kekuatan, membangun kesadaran politik yang berlandaskan Islam kaffah, dan menyadari pentingnya persatuan hakiki. Umat membutuhkan kesadaran ideologis yang akan membawanya menuju kebangkitan. Tanpa itu, mereka akan terus terjebak dalam pendekatan praktis dan pragmatis yang tak pernah menyentuh akar masalah.
Perjuangan ini bukan jalan yang singkat. Ia membutuhkan kesungguhan, kejelasan arah, dan barisan yang terorganisir. Perjuangan dengan basis ideologi Islam yang sahih, bukan sekedar semangat. Bertujuan mengembalikan kehidupan Islam dan mencapai izzul Islam wal Muslimin.
Sudah saatnya umat Islam bangkit dari keterpecahan, membangun kesadaran politik ideologis, dan menyadari urgensi persatuan dalam satu kepemimpinan. Bukan berlandaskan kompromi atau kepentingan. Karena kemenangan sejati bukan sekadar dirayakan dalam takbir, tetapi diwujudkan dalam perjuangan.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.[]
Oleh: Ainur Robiatul Adawiyah
(Aktivis Muslimah)