TintaSiyasi.id -- Konflik antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi meluas hingga mengganggu kabel bawah laut di kawasan Laut Merah dan Teluk. Infrastruktur ini merupakan jalur vital komunikasi global yang menopang lebih dari 90 persen lalu lintas data dunia. Jika terganggu, bukan hanya satu negara yang terdampak, melainkan hampir seluruh sistem komunikasi internasional.
Pakar dari Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP), Hamidin, mengatakan kabel bawah laut merupakan tulang punggung komunikasi digital dunia.
Ia mengatakan, Jika kabel-kabel tersebut terputus akibat sabotase, konflik bersenjata, atau kecelakaan, dunia berisiko mengalami apa yang bisa disebut sebagai kegelapan digital.
Gangguan terhadap kabel bawah laut tidak hanya berdampak pada internet, tetapi juga dapat menghambat transaksi perbankan internasional, pasar keuangan, sistem logistik global, hingga komunikasi pertahanan antarnegara.(konteks.co.id, 16/3/2026)
Fenomena ini menegaskan bahwa perang modern telah bergeser. Ia tidak lagi sekadar ditentukan oleh kekuatan militer konvensional, tetapi juga oleh kemampuan menguasai dan jika perlu mengganggu infrastruktur strategis global.
Kabel bawah laut, yang selama ini tersembunyi di dasar samudra, kini menjadi salah satu titik paling krusial dalam percaturan geopolitik dunia.
Namun, berbeda dengan senjata konvensional, gangguan terhadap kabel bawah laut memiliki karakter unik, yaitu ia merupakan senjata penghancur dua arah. Setiap upaya untuk melumpuhkan jaringan ini tidak hanya berdampak pada pihak lawan, tetapi juga pada pelaku itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh sifat sistem global yang saling terhubung dan saling bergantung.
Dalam konteks ekonomi, gangguan terhadap kabel bawah laut dapat melumpuhkan sistem perbankan internasional, memperlambat transaksi lintas negara, serta mengganggu distribusi logistik global. Dalam konteks komunikasi, hal ini berpotensi memutus koordinasi antarnegara, baik dalam sektor sipil maupun militer.
Bahkan, gangguan parsial sekalipun dapat memicu efek domino yang meluas ke berbagai kawasan. Indonesia, sebagai bagian dari jaringan global tersebut, tidak berada di luar risiko. Ketergantungan pada sistem kabel internasional seperti jalur Asia–Timur Tengah–Eropa menjadikan Indonesia rentan terhadap gangguan eksternal.
Jika konflik di kawasan strategis tersebut benar-benar berdampak pada infrastruktur digital, maka konsekuensinya dapat dirasakan dalam bentuk melambatnya akses internet internasional, terganggunya transaksi ekonomi digital, hingga melemahnya stabilitas sektor keuangan.
Situasi ini memperlihatkan satu realitas yang tidak dapat diabaikan bahwa dunia modern yang tampak canggih sesungguhnya berdiri di atas fondasi yang rapuh.
Ketergantungan pada sistem global yang terpusat dan saling terhubung menjadikan satu titik gangguan berpotensi meluas menjadi krisis global.
Lebih jauh, kondisi ini bukan semata persoalan teknis atau geopolitik, melainkan mencerminkan problem mendasar dalam sistem kehidupan yang dianut saat ini, yaitu sistem kapitalis.
Infrastruktur vital dunia dikelola dalam kerangka kepentingan politik dan ekonomi, bukan dalam kerangka kemaslahatan umat manusia secara menyeluruh.
Akibatnya, infrastruktur yang seharusnya menjadi sarana kemudahan justru dapat berubah menjadi alat tekanan dan bahkan ancaman.
Dalam perspektif Islam, persoalan ini harus dilihat dari akar yang lebih mendasar. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa sistem kehidupan manusia seharusnya dibangun di atas akidah Islam, yang menjadikan seluruh aspek kehidupan (termasuk pengelolaan infrastruktur) berorientasi pada ketaatan kepada Allah dan kemaslahatan umat.
Islam tidak memandang kekuatan sebagai alat dominasi yang merusak, melainkan sebagai amanah yang harus digunakan untuk menjaga keamanan dan kesejahteraan manusia.
Negara dalam sistem Islam berkewajiban memastikan bahwa seluruh fasilitas publik, termasuk infrastruktur strategis, tidak dijadikan alat untuk menekan atau menghancurkan pihak lain.
Lebih dari itu, Islam juga menekankan pentingnya kemandirian. Ketergantungan yang berlebihan pada sistem global yang dikendalikan oleh kepentingan tertentu hanya akan melahirkan kerentanan.
Oleh karena itu, negara wajib membangun sistem yang mandiri dan kokoh, yang tidak mudah terguncang oleh konflik eksternal.
Hal ini sejalan dengan tujuan penciptaan manusia sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an,
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Dengan orientasi ini, manusia tidak akan menjadikan kekuasaan dan dominasi sebagai tujuan, melainkan ketaatan dan kemaslahatan sebagai prioritas utama.
Ancaman terhadap kabel bawah laut pada akhirnya menjadi simbol dari dunia hari ini bahwa dunia yang terhubung secara teknologi, tetapi rapuh secara sistem.
Selama sistem yang mendasarinya masih dibangun di atas kepentingan material dan kekuasaan, maka potensi konflik dan kerusakan akan terus menghantui.
Dengan demikian, solusi hakiki tidak cukup hanya pada penguatan infrastruktur atau mitigasi teknis. Ia menuntut perubahan mendasar pada cara manusia mengatur kehidupan. Tanpa itu, setiap kemajuan teknologi justru berpotensi menjadi sumber ancaman baru bagi peradaban manusia.
Oleh: Nabila Zidane
Jurnalis