Jalan Islam Menenangkan Jiwa dan Memulihkan Makna Hidup
Pendahuluan: Penyakit Zaman Bernama Overthinking
TintaSiyasi.id -- Salah satu penyakit jiwa paling senyap di zaman modern adalah overthinking. Ia tidak menampakkan luka di tubuh, tetapi menggerogoti ketenangan batin. Ia tidak membuat seseorang tampak sakit, tetapi perlahan melemahkan semangat hidup, merusak fokus ibadah, dan mengaburkan makna takdir.
Ironisnya, overthinking sering menyerang orang-orang yang:
• Punya tanggung jawab besar,
• Ingin hidupnya benar,
• Takut mengecewakan orang lain,
• Berusaha taat dan berhati-hati.
Maka overthinking bukan semata kelemahan iman, tetapi tanda jiwa yang lelah dan pikiran yang berjalan tanpa sandaran ruhani.
Islam, sebagai agama yang memahami manusia secara utuh—akal, hati, dan ruh—tidak membiarkan manusia tenggelam dalam kegelisahan seperti ini. Al-Qur’an, Sunnah, dan nasihat para ulama telah lama menawarkan jalan pemulihan jiwa.
1. Memahami Overthinking: Antara Akal dan Waswas
Dalam psikologi modern, overthinking dikenal sebagai rumination, yaitu kebiasaan memikirkan sesuatu secara berulang tanpa menghasilkan solusi. Dalam Islam, kondisi ini sangat dekat dengan waswas—bisikan yang melemahkan hati dan menumbuhkan kecemasan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku atas apa yang terlintas dalam hati mereka selama tidak diucapkan dan tidak dilakukan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menenangkan:
lintasan pikiran bukan dosa, selama tidak diyakini dan ditindaklanjuti.
Masalah muncul ketika pikiran:
• Dipelihara,
• Diputar ulang,
• Dijadikan kebenaran.
Di sinilah overthinking berubah dari sekadar lintasan menjadi beban jiwa.
2. Akar Overthinking: Hilangnya Tawakkal dalam Ikhtiar
Banyak orang berpikir keras, tetapi lupa berserah. Mereka berusaha, namun enggan melepaskan hasil kepada Allah. Akhirnya pikiran terus bekerja bahkan ketika kewajiban ikhtiar telah selesai.
Islam mengajarkan keseimbangan yang indah:
“Apabila engkau telah bertekad, maka bertawakkallah kepada Allah.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini menunjukkan bahwa:
• Berpikir dan merencanakan adalah kewajiban,
• Mengontrol hasil adalah kesombongan tersembunyi.
Overthinking lahir ketika ikhtiar tidak diakhiri dengan tawakkal.
3. Al-Qur’an sebagai Obat Jiwa yang Gelisah
Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang hukum dan akidah, tetapi juga penyembuhan batin manusia.
Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada.”
(QS. Yunus: 57)
Overthinking adalah penyakit dada—bukan karena kurang informasi, tetapi karena hati kehilangan cahaya petunjuk.
Mereka yang dekat dengan Al-Qur’an:
• Berpikir, tetapi tidak larut,
• Merencanakan, tetapi tidak cemas berlebihan,
• Berusaha, tetapi tetap tenang.
Karena Al-Qur’an mengajarkan satu hal penting:
Allah Maha Mengatur, manusia hanya diminta berusaha.
4. Mengingat Allah: Terapi Ketenangan yang Paling Dalam
Di tengah pikiran yang riuh, Islam tidak menawarkan pelarian, tetapi penyelarasan hati melalui dzikir.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Dzikir bukan sekadar ritual lisan, melainkan:
• Menghadirkan kesadaran bahwa Allah dekat,
• Mengingatkan bahwa hidup tidak sendirian,
• Menenangkan pikiran dengan makna ilahiah.
Orang yang berdzikir tidak kehilangan masalah, tetapi kehilangan kegelisahan.
5. Mengubah Pola Pikir: Dari Kekhawatiran ke Tindakan
Overthinking selalu dipenuhi pertanyaan:
• “Bagaimana jika gagal?”
• “Bagaimana jika salah?”
• “Bagaimana jika masa depan buruk?”
Islam mengalihkan fokus dari kemungkinan yang belum terjadi ke tanggung jawab hari ini.
Rasulullah ﷺ mengajarkan:
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu.”
(HR. Muslim)
Artinya:
• Fokus pada yang bisa dilakukan,
• Ambil langkah kecil yang nyata,
• Tinggalkan pikiran yang tidak produktif.
Tindakan kecil yang jelas lebih menenangkan daripada pikiran besar yang kabur.
6. Menerima Takdir: Puncak Kematangan Jiwa
Salah satu penyebab utama overthinking adalah keengganan menerima bahwa:
• Tidak semua bisa dikendalikan,
• Tidak semua berjalan sesuai rencana.
Islam tidak mematikan usaha, tetapi menenangkan hati setelah usaha.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apa yang ditakdirkan akan menimpamu tidak akan meleset darimu.”
(HR. Tirmidzi)
Menerima takdir bukan menyerah, melainkan titik damai antara usaha dan iman.
7. Overthinking dan Dakwah: Menyembuhkan, Bukan Menghakimi
Dalam dakwah, orang yang overthinking tidak butuh:
• Ceramah keras,
• Tuduhan iman lemah,
• Nasihat instan.
Mereka butuh:
• Empati,
• Keteladanan,
• Dakwah yang menenangkan.
Rasulullah ﷺ berdakwah dengan hikmah karena beliau memahami jiwa manusia lebih rapuh daripada yang tampak.
Penutup: Ketenangan Adalah Buah Kedekatan dengan Allah
Overthinking tidak selalu hilang dalam sehari. Ia berkurang seiring:
• Kedekatan dengan Allah,
• Kedalaman iman,
• Kematangan jiwa.
Tenangkan pikiran dengan ikhtiar,
ringankan hati dengan tawakkal,
dan hidupkan jiwa dengan Al-Qur’an.
Di situlah manusia menemukan kembali dirinya—
bukan sebagai pengendali takdir,
tetapi sebagai hamba yang tenang dalam rencana Allah.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)