TintaSiyasi.id -- Militer Israel pada Sabtu (6/9/2025) meminta warga Palestina di Kota Gaza yang merupakan wilayah perkotaan terbesar tersebut untuk mengungsi ke selatan. Militer memperingatkan bahwa operasi berlangsung di seluruh kota. Pasukan Israel telah melancarkan serangan di pinggiran kota bagian utara selama berminggu-minggu, setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer merebut kota itu. Serangan ini mengancam dan menggusur ratusan ribu warga Palestina yang selama hampir dua tahun berlindung di kota itu. Sebelum perang, sekitar satu juta orang atau hampir separuh populasi Gaza tinggal di Kota Gaza. (republika.co.id, 6/9/2025)
Gaza adalah cermin dunia Islam hari ini. Di sana ada keteguhan (sumud) rakyat yang tidak pernah menyerah, ada perlawanan heroik yang bertahan meski diblokade dari darat, laut, dan udara. Namun, Gaza juga sekaligus menyingkap kelemahan umat Islam, terpecah belahnya negeri-negeri Muslim, ketergantungan pada Barat, dan absennya kepemimpinan politik yang berani berdiri sebagai pelindung umat. Padahal, secara potensi, dunia Islam bukanlah entitas lemah. Lebih dari 1,9 miliar Muslim tersebar dari Maroko hingga Indonesia, dengan kekayaan alam yang menguasai sebagian besar minyak, gas, dan jalur perdagangan dunia. Negara-negara Teluk saja memiliki cadangan devisa Triliunan Dolar, sementara Asia Tenggara dan Asia Selatan menyumbang kekuatan demografi terbesar. Secara militer, jika disatukan, dunia Islam mampu menandingi bahkan menyalip kekuatan NATO.
Namun, potensi besar itu tercerai-berai dan di sia-siakan. Kolonialisme Barat meninggalkan warisan perbatasan buatan yakni Nation-state, Nasionalisme, sehingga negeri-negeri Muslim sibuk dengan kepentingan nasional sempit. Lebih parah lagi, para penguasa Arab justru memilih diam, berkompromi, bahkan menjalin normalisasi dengan Israel. Diamnya mereka bukanlah netralitas, melainkan pengkhianatan. Narasi-narasi yang mereka ucapkan hanya sekedar basa-basi dihadapan Umat Islam, sebab dibelakang mereka telah terikat dengan berbagai perjanjian dengan AS atau Zionis.
Sungguh sangat menyakitkan hati umat Islam. Sebab dengan tidak bergerak, mereka memberi jalan bagi Zionis untuk semakin beringas, menumpahkan darah rakyat Gaza tanpa henti, bahkan kini berani terang-terangan merencanakan pengambilalihan penuh wilayah Gaza dengan dukungan Trump dan Barat.
Hari-hari terakhir memperlihatkan bagaimana Zionis kehilangan rasa malu. Serangan ke Gaza kian brutal, jumlah korban anak-anak dan perempuan terus bertambah, rumah sakit dihancurkan, kamp pengungsi dijadikan target. Dan semua itu terjadi di depan mata dunia Islam, sementara penguasanya hanya mengirim kecaman dan bantuan kemanusiaan. Bantuan obat dan makanan memang penting, tapi jelas tidak cukup untuk menghentikan penjajahan ini yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.
Sungguh pemandangan yang membuat malu para penguasa didunia Islam. Armada-armada sipil Internasional tengah berlayar di Laut Mediterania, membawa misi kemanusiaan sekaligus pesan politik. Armada tersebut berlayar untuk menantang blokade Israel atas Jalur Gaza. Inisiatif ini dinamakan Global Sumud Flotilla (GSF), “sumud” berarti keteguhan dalam bahasa Arab. Bagi para pesertanya, istilah itu mencerminkan perlawanan damai menghadapi ketidakadilan (rri.co.id, 2/9/2025).
Jika mereka semua bisa bergerak karena dorongan kemanusiaan, seharusnya penguasa negeri Muslim dan Umat Islam seluruh dunia bisa bersatu karena dorongan akidah Islam yang satu. Maka, seandainya dunia Islam bersatu, Gaza tidak akan menunggu flotila sukarelawan, tetapi akan disokong oleh armada laut dan udara negara-negara Muslim. Tepi Barat tidak akan dikepung, karena dunia Islam akan menganggap serangan pada Palestina sebagai serangan pada seluruh umat. Bayangkan jika Mesir membuka Rafah dengan perlindungan militer, Turki mengerahkan teknologi drone, Iran menguatkan garis suplai, dan Indonesia beserta negeri-negeri Asia lainnya menutup akses laut bagi kapal penjajah. Blokade Gaza akan runtuh dalam hitungan hari.
Inilah saatnya umat Islam menyadari bahwa solusi hakiki bukanlah diplomasi rapuh atau sekadar bantuan kemanusiaan. Umat harus meningkatkan tuntutan kepada para penguasanya untuk menghentikan pengkhianatan, hentikan kompromi, dan kirimkan bantuan militer nyata dengan niat jihad Fii Sabilillah untuk membela Gaza. Semua itu hanya bisa diwujudkan jika umat Islam bersatu menegakkan Khilafah 'ala minhajin nubuwwah. Selama penguasa Muslim hanya berdiam diri, darah Palestina akan terus mengalir. Gaza adalah ujian yang nyata, pengingat, sekaligus membuka tabir pengkhianatan. Selama Khilafah belum terwujud, dunia Islam akan tetap tercerai-berai, tragedi Gaza akan terus berulang. Namun, dengan adanya Khilafah dunia Islam akan keluar dari bayang-bayang Barat, memutus ketergantungan, dan bersatu dalam satu barisan, maka bukan hanya Gaza yang akan bebas—tetapi seluruh umat Islam akan kembali bermartabat dimata dunia.
Hari ini, rakyat Gaza telah menunaikan bagiannya. Mereka bertahan, berjuang dan berkorban. Kini giliran Umat Islam san penguasa-penguasa didunia Islam yang harus menunaikan amanahnya, berhenti berkhianat, menolak tunduk pada sistem global yang zalim, dan bersatu dalam naungan Khilafah agar mampu merealisasikan jihad.
Wallahu a'lam bishshawab. []
Oleh: Hilda Handayani
Aktivis Muslimah