Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tiga S: What Next?

Minggu, 08 November 2026 | 10:00 WIB Last Updated 2026-11-08T03:00:39Z


TintaSiyasi.id — Beberapa minggu terakhir, timeline kita dipenuhi satu tagar: #IndonesiaSadar. Bukan dari satu kelompok saja. Di Jakarta, mahasiswa UMJ konsolidasi BEM Muhammadiyah se-Indonesia. Di Surabaya, Srikandi Aksi Damai turun ke Taman Apsari. Di Jakarta Pusat, Women's March mengusung tema "Perempuan Lawan Penindasan". Puncaknya nanti di tanggal 10 November 2026, Hari Pahlawan, di DPR/Senayan/Monas: Mahasiswa dan Aktivis 98 berencana membacakan “Maklumat Matraman.”

 

Spanduknya di mana-mana. Tiga kalimat yang terasa menampar:

 

SADAR DIPALAK

SADAR DIBAKAR

SADAR DIMISKINKAN

 

Tiga kalimat ini viral? Karena semua orang merasa mengalaminya. Ini bukan lagi jargon aktivis. Ini curhat rakyat. Pertanyaannya sekarang bukan lagi: Apakah kita sadar? Kita sudah sadar.

 

Pertanyaannya adalah, setelah 3S, What Next? Kalau hanya berhenti di sadar, kita akan kembali ke siklus yang sama: viral, demo, reda, lupa, lalu dipalak lagi, dibakar lagi, dimiskinkan lagi.

 

Pertama. Sadar Dipalak.

 

Dipalak itu bukan cuma pungli di jalanan.

 

Dipalak itu ketika harga naik terus, tapi gaji tidak naik. Ketika rakyat kecil dikejar pajak, denda, dan iuran, sementara konglomerat dapat tax amnesty dan insentif. Ketika urus KTP, urus izin usaha, urus tanah, semua harus ada "uang pelicin".

 

Rakyat dipalak lewat sistem. Negara yang seharusnya jadi pelindung, berubah jadi pemalak lewat aturan yang dibuatnya sendiri.

 

Kedua. Sadar Dibakar.

 

Dibakar itu bukan cuma hutan di Riau dan Kalimantan yang tiap tahun dibakar.

 

Dibakar itu ketika harga pangan dibakar inflasi. Ketika emosi kita dibakar provokasi buzzer dan polarisasi. Ketika masa depan anak kita dibakar oleh sistem pendidikan yang mahal tapi tidak memanusiakan.

 

Dan yang paling literal: lahan gambut dibakar untuk buka kebun sawit. Yang untung korporasi, yang sesak napas kita. Yang membakar petani kecil, yang dicabut izinnya hampir tidak pernah korporasi.

 

Kita dibakar, lalu disuruh membeli masker sendiri.

 

Ketiga. Sadar Dimiskinkan.

Ini yang paling pahit. Indonesia bukan negara miskin. Kita punya nikel, batu bara, sawit, laut, hutan, dan 280 juta manusia. Tapi kenapa 1 dari 4 anak kita stunting? Kenapa ibu-ibu harus gali lubang tutup lubang untuk bayar sekolah anak? Kenapa banyak sarjana jadi pengangguran atau jadi driver ojol?

 

Karena kemiskinan kita bukan kemiskinan alami, karena malas atau bodoh. Tapi kemiskinan kita adalah kemiskinan sistemik. Dibuat oleh sistem yang membiarkan kekayaan alam dikuasai segelintir orang, lalu rakyat hanya kebagian remah-remahnya lewat bansos dan BLT.

 

Lalu, What Next? Di sinilah banyak gerakan berhenti.

 

Biasanya solusinya hanya dua: ganti presiden, atau ganti partai. Lalu 5 tahun kemudian kita demo lagi dengan spanduk yang sama. Karena yang diganti hanya orangnya, bukan sistemnya.

 

Padahal akar dari 3 S itu satu: Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem kapitalisme-sekulerisme mengajarkan bahwa harta adalah milik siapa yang kuat. Bahwa hutan boleh dijual jadi konsesi. Bahwa negara boleh memalak rakyat demi pajak. Bahwa kemiskinan adalah takdir, bukan kezaliman.

 

Selama sistem ini yang dipakai, siapa pun presidennya, 3 S akan terus berulang. Karena itu, what next dari 3 S bukan sekadar ganti pemimpin. What next-nya adalah perubahan hakiki dengan Islam.

 

Allah sudah mengingatkan: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A'raf: 56)

 

Dipalak, dibakar, dimiskinkan adalah bentuk kerusakan itu. Dan kerusakan sistemik tidak bisa diobati dengan tambal sulam. Harus diganti sistemnya dengan sistem yang datang dari Allah, yang memandang manusia sebagai hamba, bukan sebagai konsumen dan objek pajak.

 

Islam menawarkan perubahan hakiki itu:

 

Pertama, harta milik umum tidak boleh dikuasai swasta. Dalam Islam, hutan, tambang, laut, adalah milik umum (milkiyah 'ammah). Haram dikuasai korporasi. Negara hanya mengelola, hasilnya kembali ke rakyat dalam bentuk pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan harga pangan murah.

 

Kedua, pemimpin adalah perisai, bukan pemalak. Rasulullah bersabda, “Imam adalah perisai, tempat berlindung di belakangnya.” Pemimpin Islam tidak memalak rakyat. Ia menjaga rakyat dari pemalakan.

 

Ketiga, kemiskinan diberantas dengan sistem, bukan dengan belas kasihan. Islam menyelesaikan dengan zakat, bukan bansos musiman. Islam punya baitul mal, bukan APBN yang bocor. Islam melarang riba yang membuat orang miskin semakin miskin dan orang kaya semakin kaya.

 

Itulah perubahan hakiki. Bukan sekadar sadar, tapi mengganti akar masalahnya.

 

Perubahan Hakiki dengan Mengikuti Langkah Dakwah Nabi.

 

Rasulullah tidak mengubah Mekah dengan demo sehari atau dengan ikut pemilu Quraisy. Beliau mengubah dengan thariqah yang jelas, yang sampai hari ini tetap wajib kita teladani:

 

1. Tatsqif - Membina dan Mencerdaskan Umat

Rasulullah memulai dari Darul Arqam. Membina para sahabat agar paham Islam kaffah. Tugas kita hari ini sama: jangan biarkan #IndonesiaSadar hanya jadi tagar. Jadikan kajian tentang sistem yang menerapkan Islam kaffah.

 

Sadar harus naik kelas menjadi paham. Dari paham 3 S, menjadi paham solusi Islam.

 

2. Tafa'ul - Berinteraksi dengan Umat

Rasulullah tidak berdakwah di gua. Beliau turun ke pasar, ke kabilah, ke masyarakat. Tugas kita: bawa opini Islam ke tengah umat. Tulisan, ngobrol, buat konten, dampingi ibu-ibu yang dipalak harga, yang sesak asap, yang tercekik cicilan. Dakwah harus terasa manfaatnya di kehidupan nyata.

 

3. Tathbiq ahkamul Islam - menerapkan hukum Islam dengan  jalan Umat

Ketika mayoritas umat sudah paham dan mendukung penerapan Islam kaffah, di Madinah. Rasulullah SAW. Hijrah lalu Islam bisa diterapkan secara sistemik di Madinah.

 

Artinya, perubahan hakiki tidak cukup dengan kesadaran individu. Harus ada kekuatan politik yang menerapkan Islam sebagai sistem.

 

Inilah what next yang sebenarnya.

 

Sadar dipalak harus berlanjut menjadi menolak sistem pemalak.

Sadar dibakar harus berlanjut menjadi menolak sistem pembakar.

Sadar dimiskinkan harus berlanjut menjadi menolak sistem yang memiskinkan , lalu membangun sistem yang memuliakan.

 

Jangan sampai dialihkan. Suara rakyat jangan sampai tenggelam. Kita sudah sadar. Sekarang saatnya bergerak untuk perubahan hakiki. #IndonesiaSadar #3SWhatNext

 

 

Opini

×
Berita Terbaru Update