Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Hutan Menjadi Abu, Generasi Menanggung Pilu

Rabu, 04 November 2026 | 22:11 WIB Last Updated 2026-11-04T15:11:27Z

TintaSiyasi.id -- Sudah berbulan-bulan Karhutla terjadi, hutan telah menjadi abu dan generasi harus menanggung pilu. Sungguh memprihatinkan, puluhan ribu balita terserang ISPA. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dilansir dari mediaindonesia.com (22-10-2026), sebanyak 333.470 anak terserang ISPA, diantaranya 75.172 terjadi pada kelompok balita dan 258.298 terjadi pada kolompok di atas balita. 

Selain dampak kesehatan, ada dampak jangka panjang yang mengancam. Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) mengkhawatirkan akan terjadi lost generation karena Karhutla hampir terjadi setiap tahun. Ini dapat mengancam kesehatan dan tumbuh kembang anak. Berpotensi terjadi penurunan kecerdasan, produktivitas, serta kualitas hidup akibat terus menerus terpapar asap Karhutla sejak dini. 

Menurut data yang dihimpun dalam laporan 'Karhutla 2026: From Situation Analysis to Action Plan', bencana Karhutla pada 1997 mengakibatkan janin dan anak yang terpapar asap Karhutla tumbuh 3,3 cm lebih pendek atau stunting di usia 17 tahun. Selain itu, dampaknya telah mengakibatkan 15.600 kematian pada bayi. (dpr.go.id, 21-10-2026)

Ribuan Balita Jadi Tumbal Kapitalisme

Upaya negara belum memadai untuk menanggulagi Karhutla. Khususnya pada anak-anak yang sangat rentan karena saluran pernapasannya masih dalam masa pertumbuhan. Mereka banyak menghirup udara beracun yang berdampak pada kesehatannya. Ini menunjukkan negara lalai menjaga generasi yang digadang menjadi generasi emas masa depan bangsa.

Karhutla bukanlah bencana alam murni, tapi bencana akibat pembiaran ulah para korporat. Setiap tahun polanya sama, musim kemarau dijadikan modus kebakaran hutan. Padahal banyak peneliti yang mengungkap hutan sengaja dibakar untuk perluasan lahan perusahaan. Pejabat seakan tutup mata dan rakyat yang menanggung derita.

Negara telah memberikan izin konsesi hutan yang begitu luas pada korporat. Negara telah menyerahkan pengelolaan hutan yang seharusnya menjadi milik umum dan dijaga negara kepada swasta yang berorientasi untung. Inilah buah dari sistem Kapitalistik. Hutan bukan lagi dipandang sebagai paru-paru dunia yang harus dijaga, tapi menjadi komoditas yang diperjualbelikan untuk keuntungan segelintir orang. 

Ribuan balita akhirnya menjadi tumbal. Tumbuh kembang mereka terganggu akibat menghirup asap Karhutla. Masa depan mereka terancam hanya karena keserakahan korporat yang dibiarkan oleh negara. Sudah saatnya harus membuka mata. ISPA yang diderita ribuan balita ini bukan sekadar masalah kesehatan. Itu adalah alarm keras bahwa negara abai menjaga generasi. Selama masih mempertahankan sistem Kapitalisme, berapa ribu balita lagi yang harus sesak napas menjadi tumbalnya?

Islam Menyelamatkan Generasi dari Karhutla

Nyawa manusia merupakan sesuatu yang sangat berharga sehingga harus dijaga. Sabda Rasulullah Saw, "Hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak." (HR Nasa'i). Selain itu, terwujudnya generasi sehat dan kuat lebih dicintai Allah Swt daripada generasi yang lemah. Negara bertanggung jawab atas itu semua. 

Oleh karena itu, dalam menghadapi Karhutla negara dalam sistem Islam (Khilafah) menempatkan penyelamatan nyawa dan kesehatan warga sebagai prioritas utama. Sebagai pengurus rakyat, negara akan memaksimalkan upaya memadamkan kebakaran dan segera mengungsikan warga yang terdampak ke tempat yang aman. 

Negara akan memprioritaskan anggaran untuk penanggulangan Karhutla hingga tuntas. Baitulmal mengalokasikan pos pengeluaran dari harta fai, kharaj, dan milik umum. Jika belum mencukupi, negara berhak memungut dharibah (pajak temporer) karena kondisi darurat untuk mengatasi Karhutla. Jika dana telah mencukupi, pungutan dharibah dihentikan. Dengan demikian, negara cepat tanggap dengan anggaran maksimal demi keselamatan warga negaranya. 

Selain itu, negara akan memberikan sanksi tegas bagi siapa pun yang terlibat dalam Karhutla. Hutan adalah milik umum yang tidak boleh dikuasi oleh individu maupun korporasi. Hanya negara yang boleh mengelola hutan untuk kesejahteraan rakyat. Jadi negara tidak akan memberikan konsesi hutan kepada perusahaan seperti yang terjadi pada sistem saat ini. 

Negara juga memberikan edukasi untuk menjaga bumi melalui sistem pendidikan sehingga terwujud kesadaran bersama untuk menjaga kelestarian hutan. Adapun preventif primer juga digiatkan untuk mencegah balita terpapar asap Karhutla dengan memperkuat daya tahan balita denga pemberian makanan bergizi dan suplemen lainnya. 

Demikian negara dalam sistem Islam menjalankan fungsinya sebagai raa'in (pengurus rakyat) dan junnah (pelindung rakyat) dari segala bentuk ancaman, baik fisik, sosial, maupun ekologis. Dengan sistem Islam yang diterapkan secara kafah, generasi terlindungi dari siklus bencana yang berulang berupa Karhutla. 
Wallahualam bissawab.


Oleh: Eni Imami, S.Si,S.Pd. 
(Pendidik dan Pegiat Literasi)

Opini

×
Berita Terbaru Update