Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Santri, Kader Ulama Pembangunan Peradaban Islam ‎‎

Rabu, 04 November 2026 | 22:15 WIB Last Updated 2026-11-04T15:15:28Z

‎TintaSiyasi.id -- ‎Melalui sistem pendataan By Name By Address (BNBA) oleh Pusdatin, Kemenag mendata sebanyak 4.634.406 santri di ribuan pondok pesantren Indonesia, di mana angka tersebut sifatnya belum final dan terus dimutakhirkan.
‎
‎Lewat surat edaran resminya, Kemenag RI menetapkan “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” sebagai tema utama Hari Santri Nasional 2026. Makna tema ini menegaskan komitmen santri untuk membangun negeri melalui tiga poin utama: kemandirian ekonomi, penguasaan ilmu pengetahuan, dan peningkatan kualitas SDM.(kemenag.go.id, 18/10/2026)
‎
‎Momentum Hari Santri 2026 difokuskan untuk melejitkan keterlibatan generasi pesantren dalam pembangunan nasional. Santri masa kini tidak lagi sekadar menjadi penjaga tradisi keilmuan Islam, melainkan juga dipersiapkan sebagai motor penggerak yang kreatif, produktif, dan multi-talenta. Aktivitas tersebut diharapkan meluas ke bidang iptek dan ekonomi mandiri, dengan tetap menyeimbangkan kepekaan sosial serta penerapan norma agama dan kebangsaan di tengah masyarakat.
‎
‎Santri di Pusaran Kapitalisme 
‎
‎Dorongan keterlibatan santri dalam pembangunan nasional secara tidak langsung mereduksi esensi mereka sebagai penerus ulama. Fokus generasi pesantren terancam bergeser pada praktis sistem sekuler demi tuntutan moder. Hal ini tentu mengorbankan waktu berharga yang seharusnya digunakan untuk memperkuat fondasi keagamaan mereka melalui pendalaman ilmu Islam.
‎
‎Kondisi ini menempatkan santri dalam posisi serba salah ketika dihadapkan pada rancangan kemandirian ekonomi yang menyalahi syariat. Sebagaimana para ulama sebelumnya, mereka cenderung bungkam dan kehilangan kebebasan. Adapun nama dan kedudukan mereka hanya dijadikan tameng pendukung di tengah sistem sekarang.
‎
‎Perayaan Hari Santri sejauh ini sering kali terjebak dalam rutinitas seremonial serta berbagai perlombaan seni, olahraga, dan keterampilan. Aktivitasnya tentu saja positif, tetapi yang menjadi persoalan serius apabila agenda hiburan ini lebih mendominasi acara. Akibatnya, nilai-nilai substansial seperti penanaman pemahaman Islam yang mendalam dan penguatan kaderisasi ulama justru kerap terpinggirkan.
‎
‎Dalam sistem sekuler, pengamalan nilai agama dan kebangsaan hanya mengarahkan pada nasionalisme spiritual yang sempit. Pergeseran orientasi ini terjadi tanpa melihat apakah proses tersebut benar-benar memuliakan, atau justru menurunkan marwah dan menghilangkan fungsi santri yang sesungguhnya di tengah peradaban saat ini. Hal ini tercermin dari fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa perayaan Hari Santri kini mulai bergeser sekadar menjadi rutinitas dan formalitas belaka.
‎
‎Menjaga Kemurnian Peran Santri dibawah Naungan Islam
‎
‎Misi fundamental seorang santri adalah mencetak diri sebagai calon ulama masa depan, bukannya terjebak dalam arus pembangunan, terlebih demi menyokong perputaran ekonomi di bawah sistem kapitalisme yang kerap menabrak rambu-rambu syariat. Kendati penguasaan keterampilan umum dan praktis tidak dilarang, porsinya sama sekali tidak boleh menggeser identitas utama mereka. Namun, mereka harus tegak sebagai pembawa dan penjaga nilai-nilai Islam, baik di dalam pesantren maupun di tengah kehidupan masyarakat luas.
‎
‎Santri harusnya diberi pembinaan dan dipersiapkan untuk menjadi pemimpin dan berjuang untuk membangun kembali peradaban islam didunia. Sebagaimana yang terjadi dimasa Rasulullah dan para sahabatnya. Pemudanya fokus membangun fondasi agar dapat menguatkan identitasnya sebagai muslim melalui pembinaan. Salah satunya adalah dengan menanamkan aqidah Islam serta membentuk kepribadian yang Islam. maka, untuk mengokohkan para santri tersebut, agar keimanannya terjaga, dibutuh sebuah kepemimpinan yang kuat, dan sesuai syariat Islam.
‎
‎Islam menyatukan umat manusia atas dasar akidah, sebuah persaudaraan universal yang melampaui batas-batas kebangsaan dan nasionalisme modern. Penerapan tersebut menuntut adanya kesatuan sistemik, yang diwujudkan melalui satu kepemimpinan politik dan spiritual tertinggi di tangan seorang Khalifah, serta satu institusi pemerintahan universal yang mengayomi seluruh umat (Khilafah). 
‎
‎Maka, dengan demikian peran santri akan tetap kokoh dan kuat dengan pembinaan Islam, dan kepribadian akan terbentuk secara alami. karena hanya Islam satu-satunya ideologi yang sempurna, dan mampu membawa manusia kedalam kesejahteraan yang hakiki, dan kepemimpinan tersebut sudah terbukti dalam sejarah sampai berabad-abad lamanya. Wallahu alam bissawab
‎

Oleh: Dwi Anjani
‎Aktivis Muslimah
‎
‎

Opini

×
Berita Terbaru Update