Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tanggung Jawab Hijab Bukan Hanya Terletak pada Individu

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:56 WIB Last Updated 2026-10-31T13:56:57Z

TintaSiyasi.id — Ketika merespons isu larangan berhijab di Azerbaijan, Syafinaz Safar menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga hijab tidak hanya terletak pada individu Muslimah, tetapi juga melibatkan masyarakat dan negara.

 

"Pemakaian hijab, menutup aurat ini adalah tanggung jawab diri sendiri, individu yang sudah dibebani dengan beban hukum atas kita. Masyarakat sekitar juga harus menjalankan ataupun memberikan dorongan lebih untuk berhijab. Tapi ketika negara pula yang mengambil tanggung jawab ini, hal itu akan memberikan dampak yang lebih efektif," katanya.

 

Menurutnya, apabila negara mengambil tanggung jawab tersebut dengan serius, kebijakan yang diterapkan dapat memberikan dampak langsung terhadap pemakaian Muslimah dalam masyarakat.

 

"Kalau negara itu yang mengambil tindakan, mengambil tanggung jawab itu dengan serius, maka pemakaian hijab itu bisa menjadi suatu kebolehanlah (izin yang sah). 'Boleh pakai hijab karena apa?'. 'Negara menyuruh'," katanya menggambarkan dampak perintah negara dalam ketaatan berhijab.


Aktivis Muslimah Malaysia itu dalam dalam menjelaskan tanggung jawab pemerintah pada program Open Circle Muslimah Online bertajuk Larangan Berhijab: Dampak Sekularisme terhadap Muslimin, Sabtu (24/10/2026), turut menjadikan Rasulullah saw. sebagai teladan dalam menjaga kehormatan Muslimah.

 

"Sebagai seorang Islam, kita hendaklah menjadikan Rasulullah sebagai teladan utama kita," katanya sambil merujuk sirah beliau sebagai seorang pemimpin.

 

Peristiwa Bani Qainuqa adalah contoh terbaik yang menggambarkan kewibawaan kepemimpinan Rasulullah saw. “Konflik terjadi ketika seorang wanita Muslimah dipermainkan hingga auratnya tersingkap ketika berada di sebuah toko milik orang Yahudi,” ujarnya.

 

"Ada orang Yahudi dari belakang Muslimah ini, dia melakukan apa, dia mengikat pakaian Muslimah itu sehingga ketika Muslimah ini berdiri, auratnya tersingkap, terlihat kakinya. Orang-orang Yahudi ini tertawa terbahak-bahak sambil menghina Muslimah yang tersingkap auratnya ini," ceritanya.

 

Insiden itu yang disebutnya kemudian memicu pertikaian hingga seorang lelaki Muslim dan seorang lelaki Yahudi terbunuh, sebelum perkara tersebut sampai kepada pengetahuan Rasulullah saw.

 

"Rasulullah pun mendengar tentang peristiwa itu langsung keluar bersama orang Muslim yang lain dan mengepung Bani Qainuqa. Rasulullah tahu perkara ini terjadi disebabkan Yahudi Qainuqa ini mengganggu Muslimah kita sampai tersingkap auratnya," jelasnya.

 

Syafinaz menggunakan peristiwa tersebut untuk menegaskan pandangannya bahwa pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk melindungi kehormatan dan aurat wanita Muslimah.

 

"Aurat itu adalah suatu perkara yang wajib dilindungi. Wanita ini wajib dilindungi, wajib dihormati dalam Islam," tegasnya.

 

Pemimpin Muslim, menurutnya, tidak sepatutnya berkompromi terhadap tindakan yang menjatuhkan kehormatan wanita Muslimah.

 

"Tidak ada kompromi kepada siapa pun yang mencoba menjatuhkan kepercayaan atau kehormatan wanita dengan memaksa wanita untuk membuka hijab. Ini sepatutnya yang dilakukan oleh seorang pemimpin terhadap umatnya, kepada warga negaranya," tegasnya.[] Aliya Ab Aziz

Opini

×
Berita Terbaru Update