TintaSiyasi.id — Ketika merespons isu larangan berhijab di Azerbaijan, Syafinaz Safar menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga hijab tidak hanya terletak pada individu Muslimah, tetapi juga melibatkan masyarakat dan negara.
"Pemakaian hijab, menutup
aurat ini adalah tanggung jawab diri sendiri, individu yang sudah dibebani
dengan beban hukum atas kita. Masyarakat sekitar juga harus menjalankan ataupun
memberikan dorongan lebih untuk berhijab. Tapi ketika negara pula yang
mengambil tanggung jawab ini, hal itu akan memberikan dampak yang lebih
efektif," katanya.
Menurutnya, apabila negara mengambil tanggung
jawab tersebut dengan serius, kebijakan yang diterapkan dapat memberikan dampak
langsung terhadap pemakaian Muslimah dalam masyarakat.
"Kalau negara itu yang
mengambil tindakan, mengambil tanggung jawab itu dengan serius, maka pemakaian
hijab itu bisa menjadi suatu kebolehanlah (izin yang sah). 'Boleh pakai hijab
karena apa?'. 'Negara menyuruh'," katanya menggambarkan dampak perintah
negara dalam ketaatan berhijab.
Aktivis Muslimah Malaysia itu
dalam dalam menjelaskan tanggung jawab pemerintah pada program Open Circle
Muslimah Online bertajuk Larangan Berhijab: Dampak Sekularisme terhadap
Muslimin, Sabtu (24/10/2026), turut menjadikan Rasulullah saw. sebagai
teladan dalam menjaga kehormatan Muslimah.
"Sebagai seorang Islam, kita
hendaklah menjadikan Rasulullah sebagai teladan utama kita," katanya
sambil merujuk sirah beliau sebagai seorang pemimpin.
Peristiwa Bani Qainuqa adalah
contoh terbaik yang menggambarkan kewibawaan kepemimpinan Rasulullah saw. “Konflik
terjadi ketika seorang wanita Muslimah dipermainkan hingga auratnya tersingkap
ketika berada di sebuah toko milik orang Yahudi,” ujarnya.
"Ada orang Yahudi dari
belakang Muslimah ini, dia melakukan apa, dia mengikat pakaian Muslimah itu
sehingga ketika Muslimah ini berdiri, auratnya tersingkap, terlihat kakinya.
Orang-orang Yahudi ini tertawa terbahak-bahak sambil menghina Muslimah yang
tersingkap auratnya ini," ceritanya.
Insiden itu yang disebutnya kemudian
memicu pertikaian hingga seorang lelaki Muslim dan seorang lelaki Yahudi
terbunuh, sebelum perkara tersebut sampai kepada pengetahuan Rasulullah saw.
"Rasulullah pun mendengar
tentang peristiwa itu langsung keluar bersama orang Muslim yang lain dan
mengepung Bani Qainuqa. Rasulullah tahu perkara ini terjadi disebabkan Yahudi
Qainuqa ini mengganggu Muslimah kita sampai tersingkap auratnya,"
jelasnya.
Syafinaz menggunakan peristiwa
tersebut untuk menegaskan pandangannya bahwa pemerintah mempunyai tanggung
jawab untuk melindungi kehormatan dan aurat wanita Muslimah.
"Aurat itu adalah suatu
perkara yang wajib dilindungi. Wanita ini wajib dilindungi, wajib dihormati
dalam Islam," tegasnya.
Pemimpin Muslim, menurutnya,
tidak sepatutnya berkompromi terhadap tindakan yang menjatuhkan kehormatan wanita
Muslimah.
"Tidak ada kompromi kepada
siapa pun yang mencoba menjatuhkan kepercayaan atau kehormatan wanita dengan
memaksa wanita untuk membuka hijab. Ini sepatutnya yang dilakukan oleh seorang
pemimpin terhadap umatnya, kepada warga negaranya," tegasnya.[] Aliya
Ab Aziz
