Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Santri di Persimpangan Zaman: Penjaga Nilai atau Sekadar Pencetak Tenaga Kerja?

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:14 WIB Last Updated 2026-10-31T09:15:03Z

TintaSiyasi.id -- Hari Santri dan Harapan Besar bagi Masa Depan Bangsa

Hari Santri kembali menyita perhatian publik. Beragam seremoni digelar, mulai dari upacara dan kirab, pembacaan kitab, hingga festival sinema. Setiap tahun acara tersebut diselenggarakan oleh berbagai pihak untuk merefleksikan peran santri dalam menentukan arah masa depan bangsa. Hari Santri 2026 mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”. Ini menegaskan harapan agar santri menjadi penjaga moral sekaligus pelopor kemajuan. Semangat ini mengingatkan kita pada Resolusi Jihad yang dicetuskan K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 sebagai bagian penting dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Untuk mewujudkan harapan besar tersebut, kita harus melihat potensi kuantitas, potensi keilmuan dan potensi histori dari santri. Potensi santri sangat besar. Data Kementerian Agama RI per Oktober 2026 mencatat 4.634.406 santri yang tersebar di 42.391 pesantren di seluruh Indonesia (mozaik.inilah.com). Jumlah tersebut merupakan kekuatan strategis untuk menggerakkan dakwah, membangun kesadaran umat, dan mendorong perubahan sosial berdasarkan nilai-nilai Islam.

Dari sisi keilmuan, santri dibekali tradisi pengkajian kitab-kitab turats, fikih, usul fikih, ulumul Qur’an, ulumul hadis, serta berbagai disiplin ilmu Islam lainnya. Mereka diharapkan menjadi pewaris tradisi keilmuan ulama (warasatul anbiya) sekaligus rujukan masyarakat dalam menghadapi persoalan kehidupan. Adapun dari sisi historis, kiprah ulama dan santri dalam penyebaran Islam hingga perjuangan melawan penjajahan menunjukkan bahwa pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan semangat perlawanan terhadap kezaliman.

Jauh Panggang dari Api: Ketika Potensi Santri Tidak Sejalan dengan Realitas

Potensi besar tersebut belum tentu sejalan dengan realitas. Orientasi pendidikan yang terlalu menekankan keterampilan teknis, kemandirian ekonomi, dan kebutuhan pasar kerja dikhawatirkan menggeser fokus santri dari pendalaman ilmu agama (tafaqquh fiddin). Akibatnya, keberhasilan pendidikan berisiko hanya diukur dari kemampuan lulusan memperoleh pekerjaan, bukan dari kedalaman ilmu, kematangan akhlak, dan kontribusinya bagi umat.

Padahal, santri idealnya tidak sekadar menjadi tenaga kerja terampil, tetapi juga pribadi yang faqih fiddin, memahami agama secara mendalam, serta mampu menjawab persoalan masyarakat. Peran strategis mereka jangan sampai dimanfaatkan demi kepentingan segelintir pemilik modal atau penguasa. Santri perlu menjadi penggerak perubahan yang berani memperjuangkan keadilan dan menjaga nilai-nilai ilahi di tengah arus modernisasi.

Islam dan Visi Pesantren sebagai Pilar Peradaban

Dalam perspektif Islam, pesantren semestinya menjadi pilar peradaban, bukan sekadar pencetak tenaga kerja.

Pertama, pendidikan harus berlandaskan akidah dan nilai halal-haram yang membimbing perilaku. 

Kedua, pesantren perlu membentuk kepribadian Islam yang memadukan pola pikir berlandaskan akidah dengan sikap yang tunduk pada nilai-nilai syariat. Keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kecerdasan, tetapi juga ketakwaan, adab, dan tanggung jawab sosial.

Ketiga, kurikulum harus menjaga kedalaman ilmu agama sekaligus membekali santri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara perlu mendukungnya melalui pendanaan, fasilitas, sarana penelitian, dan kebijakan pendidikan yang memadai. 

Keempat, kesejahteraan serta kompetensi pendidik harus diperhatikan agar mereka dapat mengajar dan membimbing secara optimal. Metode ta’dib yang menekankan pembentukan adab harus dijalankan tanpa kekerasan, dengan tetap melindungi kehormatan guru dan hak santri.

Kelima, diperlukan dukungan keluarga, masyarakat, dan negara untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat. Dakwah dan amar makruf nahi mungkar harus dijalankan dengan ilmu, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Setiap pelanggaran perlu ditangani secara adil dan proporsional demi melindungi keselamatan serta martabat peserta didik.

Pada akhirnya, Hari Santri harus menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar perayaan. Pesantren perlu menjaga tradisi keilmuan sekaligus menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Santri bukan hanya pewaris sejarah perjuangan, melainkan juga penentu masa depan.

Santri yang dibutuhkan adalah generasi yang kokoh dalam akidah, mendalam dalam ilmu, luhur dalam akhlak, dan berani membawa perubahan. Dari pesantren yang menjaga ilmu dan nilai, diharapkan lahir pengokoh peradaban, penjaga umat, dan pelopor perubahan yang menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa dan dunia.[]


Oleh: Riska Sapitri
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update