Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

MSCI Telanjangi Kerentanan Finansial, HILMI: Bangun Kedaulatan Informasi Nasional

Jumat, 30 Oktober 2026 | 13:38 WIB Last Updated 2026-10-30T06:38:15Z

TintaSiyasi.id — Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menilai peringatan lembaga investasi global Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap integritas pasar modal nasional kian menelanjangi rapuhnya struktur ekonomi kapitalistik yang mudah didikte oleh sentimen spekulan internasional.

 

“Peringatan lembaga investasi global Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap integritas pasar modal nasional kian menelanjangi rapuhnya struktur ekonomi kapitalistik yang mudah didikte oleh sentimen spekulan internasional,” serunya.

 

“Ketika MSCI menyoroti masalah transparansi kepemilikan saham, likuiditas, dan aksesibilitas pasar modal Indonesia, peringatan tersebut langsung memicu kegelisahan pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),” tutur HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

“Berbeda dengan bencana alam yang bersifat fisik, peringatan di pasar finansial sekuler memiliki sifat memantul balik (reflexivity), di mana ekspektasi kepanikan investor dapat seketika menjatuhkan harga dan merusak stabilitas moneter dalam negeri,” tandas HILMI, Kamis (29/10/2026).

 

Di dalam rilis Letter to Intellectuals No. 034 bertajuk Ketika Peringatan Dini Tidak Diikuti Tindakan: Dari Banjir dan Karhutla hingga Ancaman Krisis Pasar Modal, HILMI mengingatkan pemerintah agar tidak terjebak dalam dua sikap ekstrem.

 

“Sangat keliru menganggap penilaian lembaga asing sebagai titah mutlak yang harus dipatuhi tanpa syarat hingga mengorbankan kepentingan ekonomi nasional, tetapi sama kelirunya jika menutup mata dan mencapnya semata-mata sebagai konspirasi eksternal,” paparnya.

 

Sebaliknya, HILMI mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan audit independen serta pembenahan internal yang transparan tanpa bergantung pada dikte korporasi pemeringkat Barat.

 

“Ketergantungan struktural pada indeks global membuktikan lemahnya kedaulatan informasi finansial bangsa ini di hadapan hegemoni kapitalisme global,” lugasnya.

 

“Kepentingan modal asing jangka pendek tidak pernah selaras dengan kebutuhan ekonomi riil rakyat banyak yang menginginkan stabilitas dan pemerataan,” imbuhnya.

 

HILMI menggarisbawahi bahwa pasar modal konvensional pada hakikatnya merupakan arena transaksi nonriil yang sarat spekulasi, perputaran dana maya, dan ilusi likuiditas semu yang rentan memicu krisis sistemik.

 

“Sistem keuangan Islam mengharamkan perjudian spekulatif (gharar dan maysir) serta mewajibkan seluruh perputaran harta bersandar kuat pada sektor riil dan komoditas fisik yang halal,” jelasnya.

 

“Kedaulatan ekonomi hanya akan terwujud apabila negara memiliki kapasitas analitik yang mandiri, tidak gamang diombang-ambingkan kabar angin pasar, dan berani melepaskan diri dari jeratan pasar bebas,” ulasnya.

 

Oleh karena itu, HILMI menyerukan perlunya transformasi menyeluruh dari ketergantungan pada sistem finansial kapitalistik menuju tata kelola ekonomi Islam yang berkeadilan dan mandiri.

 

“Kedaulatan hakiki menuntut negara mampu menguji, memverifikasi, dan mengendalikan informasinya sendiri demi kemaslahatan publik, bukan terus-menerus disandera oleh kepentingan kartel pemodal asing,” urai HILMI.

 

“Hanya dengan berpijak pada prinsip syariat yang adil dan sektor riil yang kukuh, bangsa ini dapat terbebas dari siklus krisis buatan yang diciptakan oleh keserakahan pasar finansial global,” tutup HILMI.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update