TintaSiyasi.id — Hari Santri Nasional (HSN) senantiasa diperingati setiap 22 Oktober. Pada peringatan HSN 2026 Kementerian Agama RI mengangkat tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas", sebagaimana tercantum dalam panduan resmi kementerian. Nahdlatul Ulama (NU) mengangkat tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”. Pemerintah berharap banyak terhadap santri tetapi faktanya kehidupan dan hukum di negeri ini tidak mengondisikan agar lahir santri-santri yang mampu membawa perubahan.
Kondisi kehidupan dan sistem pendidikan yang ada di negeri ini malah membentuk santri makin jauh dari jati dirinya sebagai seorang muslim. Sebagai seorang santri mereka adalah calon ulama yang akan menjadi the leader of change (pemimpin perubahan). Para santri tidak hanya membuat perubahan ke arah Islam tetapi mereka adalah pemimpin perubahan. Oleh karena itu, PR besar bersama mengembalikan peran santri sebagai the leader of change. Terlebih di tengah krisis yang menerpa negeri ini. Baik krisis moral, ekonomi, lingkungan, dan sebagainya.
Menyorot Peran Santri yang Kehilangan Jati Diri sebagai The Leader of Change
Hari ini, Islam hanya dipelajari sebagai ilmu yang mengatur ibadah semata padahal Islam dibawa oleh Nabi Muhammad saw. untuk mengatur segala aspek kehidupan. Bukan hanya soal ibadah mahdah saja, tetapi juga untuk mengatur segala aspek kehidupan seperti pengaturan urusan ekonomi, kesehatan, pendidikan, hukum, politik, bahkan kenegaraan. Islam adalah akidah aqliyah yang melahirkan peraturan kehidupan. Ketika meyakini Islam sebagai akidah, konsekuensi keimanan adalah ketaatan dalam segala hal. Inilah yang belum dipahami dan dikondisikan untuk kaum muslim hari ini.
Santri hari ini dididik dengan pola asuh pendidikan sekuler. Dalam sistem kehidupan sekuler kapitalisme mereka menempatkan Islam hanya sebagai pengatur ibadah ritual saja. Sistem kehidupan sekuler kapitalisme adalah sistem kehidupan yang memisahkan antar Islam dan kehidupan, sehingga dalam konteks kehidupan sistem ini bersifat liberalisme (serba bebas). Sistem sangat membenci Islam karena Islam memiliki aturan yang sangat detail dalam mengatur kehidupan, dalam tataran praktik, sistem sekuler kapitalisme senantiasa anti-Islam dan tidak memberikan Islam untuk diterapkan dalam segala aspek kehidupan.
Inilah yang menjadi dasar kebanyakan santri kehilangan jati dirinya yakni sekularisme menjauhkannya dari potret Islam sejati. Padahal santri sejatinya adalah the leader of change, mereka adalah calon ulama. Tugas besar ulama adalah amar makruf nahi mungkar, mereka tidak hanya menggunakan ilmu untuk dirinya sendiri, tetapi juga mendakwahkan tsaqafah Islam di tengah-tengah umat. Santri sebagai pemimpin perubahan senantiasa menjadikan Islam sebagai qaidah fikriyyah (landasan berpikir) dan qiyadah fikriyyah (kepemimpinan berpikir) dalam kehidupannya. Begitulah profil santri sebagai the leader of change.
Jika sistem pendidikan hari ini belum mampu melahirkan santri sebagai pemimpin perubahan, sudah saatnya kaum muslim menyadari dan mengambil peran untuk menjadikan mereka sebagai pemimpin perubahan. Bagaimana pun juga, masa depan akan diteruskan oleh mereka. Estafet kepemimpinan Islam yang meneruskan adalah para santri. Oleh karena itu, Islam harus didakwahkan tidak hanya sebagai pengatur ibadah ritual tetapi didakwahkan sebagai pengatur segala aspek kehidupan. Selain itu, Islam akan membawa rahmat seluruh alam jika mampu diwujudkan dalam segala aspek kehidupan.
Dampak Santri yang Kehilangan Jati Dirinya terhadap Aspek Pendidikan dan Politik
Tiga tahun terakhir ada beberapa kasus yang membuat pilu dunia santri yakni kasus kekerasan atau perundungan. Di Mojo Kediri pada Februari 2024 ada santri dirundung hingga meninggal. Santri dirundung dengan disumpal cabai dan seluruh tubuhnya dilumuri cabai terjadi di Aceh September 2024. Pada Oktober 2025, santri dikeroyok dan dipukuli hingga luka parah karena dituduh mencuri. Awal 2026 di Lombok Tengah, santri Dibakar hingga mengalami luka yang serius. Pada 2025—2026 di Magelang, Jakarta Timur, dan Lombok Tengah ada kasus pelecehan seksual yang menimpa santri.
Permasalahan perundungan atau kekerasan seksual sebenarnya tidak hanya menimpa dunia santri tetapi juga terjadi di dunia pendidikan saat ini. Tata kelola kehidupan sekuler kapitalistik membuat negeri ini tidak mampu melahirkan generasi unggul dan mereka kehilangan jati diri. Dampak santri kehilangan jati diri terhadap aspek pendidikan dan politik adalah sebagai berikut. Pertama, dampak pendidikan, tujuan pendidikan nasional yang melahirkan insan beriman dan bertakwa tidak terwujud di tengah sistem kehidupan sekularisme. Santri menjadi terkonaminasi dengan pemikiran liberal dan sekuler sehingga mereka jauh dari syariat Islam.
Kedua, dampak politik, negara dijajah dengan pemikiran sekuler-liberal, sehingga kehilangan generasi beriman dan bertakwa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan. Penguasa di negeri ini banyak yang kehilangan adab dan zalim kepada rakyatnya. Mereka memikirkan kepentingannya sendiri dan menindas rakyat dengan berbagai hukum. Mereka membebani rakyat dengan berbagai pungutan pajak di tengah tekanan ekonomi yang sulit. Masyarakat disuruh berjuang sendirian menghadapi berbagai kebijakan yang tidak adil.
Penjajahan hari ini memang tidak menggunakan moncong senjata, tetapi dengan berbagai pemikiran yang merusak generasi dari dalam. Akibatnya, generasi menjadi mesin kapitalisme yang dijadikan target pasar kapitalalisme global. Mereka dilemahkan secara pemikiran dengan dijauhkan dari akidah dan syariat Islam, mereka menjadi penikmat gaya hidup bebas dan konsumtif. Parahnya, mereka alergi dengan Islam. Pemikiran moderasi beragama yang dikampanyekan Barat, membuat santri alergi dengan diksi jihad dan khilafah. Alhasil, lahirnya generasi yang lemah dan tunduk kepada kepentingan Barat. Di sinilah negara kehilangan generasi yang berani berjuang dan berjihad memerdekaan bangsanya dari penjajahan sistemis yang dilakukan Barat dan sekutunya.
Strategi Melahirkan Santri The Leader of Change
Islam menjelaskan, akar utama ketaatan kepada Allah Swt. adalah kristalisasi akidah Islam ke diri kaum muslim sejak dini. Dalam sistem pendidikan Islam, output pendidikannya adalah mencetak generasi Rabbani yang berkarakter Islam. Karakter Islam dapat diwujudkan apabila kaum muslim memiliki aqliyah dan nafsiyah Islam. Hal tersebut tidak bisa diraih dengan cara instan tetapi melalui keistikamahan dalam menuntut ilmu dan pengkondisian negara agar lahir generasi the leader of change. Selain itu, tugas seorang muslim tidak hanya belajar tsaqafah Islam, tetapi ia harus menjadi penerus lisan Rasulullah saw. yakni menyebarkan dakwah Islam. Perjuangan mendakwakan Islam juga harus diiringi dengan sabar dan ikhlas, sembari terus bersungguh-sungguh mengkaji Islam secara kaffah.
Ulama dan penulis, Ustaz Arief B. Iskandar menyampaikan, Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober berakar pada peristiwa Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini, katanya, menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dan melawan kembalinya penjajahan. Seruan tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu pemantik perjuangan kaum santri dan umat Islam yang kemudian memuncak dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. “Sejarah ini menegaskan bahwa santri bukan sekadar penuntut ilmu di pesantren, melainkan bagian dari perjuangan umat. Ilmu agama harus melahirkan keberanian, pengorbanan dan kepedulian terhadap persoalan kehidupan,” paparnya.
Ustaz Yuana Ryan Tresna menyampaikan, problem kehidupan yang datang silih berganti dan penderitaan muslim Palestina yang terus berlanjut, merupakan tamparan keras untuk kita bahwa umat ini sangat lemah dan tak berdaya. “Selain harus memiliki mental pembelajar, para santri juga harus memiliki mental pejuang. Karena akidah Islam adalah akidah yang menuntut perjuangan dan pengorbanan. Begitulah teladan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan para Rasul sebelum Beliau. Sunatullah pengemban kebenaran akan berhadapan dengan kebatilan,” katanya.
Untuk mengembalikan peran santri agar memiliki mental yang tangguh yang harus dilakukan bersama adalah kaum muslim terus mendakwahkan Islam dan terus bersungguh-sungguh mengkaji Islam. Dakwah yang dilakukan bukan sekedar menyeru mereka untuk beribadah kepada Allah Swt dalam aspek individu, tapi juga mengajak masyarakat dan negara untuk beribadah kepada Allah Swt dengan menerapkan syariat Islam secara keseluruhan sehingga kehidupan Islam dapat diwujudkan secara paripurna. Hal itu tidak bisa dilakukan sendirian, melainkan bisa diwujudkan dengan dakwah bersama-sama sehingga kehidupan Islam mewujud dalam bentuk kekhilafahan Islamiah.
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.
Pertama. Jika sistem pendidikan hari ini belum mampu melahirkan santri sebagai pemimpin perubahan, sudah saatnya kaum muslim menyadari dan mengambil peran untuk menjadikan mereka sebagai pemimpin perubahan. Bagaimana pun juga, masa depan akan diteruskan oleh mereka. Estafet kepemimpinan Islam yang meneruskan adalah para santri. Oleh karena itu, Islam harus didakwahkan tidak hanya sebagai pengatur ibadah ritual tetapi didakwahkan sebagai pengatur segala aspek kehidupan. Selain itu, Islam akan membawa rahmat seluruh alam jika mampu diwujudkan dalam segala aspek kehidupan.
Kedua. Penjajahan hari ini memang tidak menggunakan moncong senjata, tetapi dengan berbagai pemikiran yang merusak generasi dari dalam. Akibatnya, generasi menjadi mesin kapitalisme yang dijadikan target pasar kapitalalisme global. Mereka dilemahkan secara pemikiran dengan dijauhkan dari akidah dan syariat Islam, mereka menjadi penikmat gaya hidup bebas dan konsumtif. Parahnya, mereka alergi dengan Islam. Pemikiran moderasi beragama yang dikampanyekan Barat, membuat santri alergi dengan diksi jihad dan khilafah. Alhasil, lahirnya generasi yang lemah dan tunduk kepada kepentingan Barat. Di sinilah negara kehilangan generasi yang berani berjuang dan berjihad memerdekaan bangsanya dari penjajahan sistemis yang dilakukan Barat dan sekutunya.
Ketiga. Untuk mengembalikan peran santri agar memiliki mental yang tangguh yang harus dilakukan bersama adalah kaum muslim terus mendakwahkan Islam dan terus bersungguh-sungguh mengkaji Islam. Dakwah yang dilakukan bukan sekedar menyeru mereka untuk beribadah kepada Allah Swt. dalam aspek individu, tapi juga mengajak masyarakat dan negara untuk beribadah kepada Allah Swt dengan menerapkan syariat Islam secara keseluruhan sehingga kehidupan Islam dapat diwujudkan secara paripurna. Hal itu tidak bisa dilakukan sendirian, melainkan bisa diwujudkan dengan dakwah bersama-sama sehingga kehidupan Islam mewujud dalam bentuk kekhilafahan Islamiah.[]
Oleh. Ika Mawarningtyas (Direktur Mutiara Umat Institute)
MATERI KULIAH ONLINE UNIOL 4.0 DIPONOROGO. Sabtu, 24 Oktober 2026. Di bawah asuhan Prof. Dr. Suteki, S.H., M. Hum. #Lamrad #LiveOpperessedOrRiseAgainst
