"Ulama itu pewaris para nabi
dan nabi terakhir Nabi Muhammad itu yang membawa risalah. Harusnya seperti itu
peran ulama menegakkan aqidah dan mewujudkan pelaksanaan syariah, tapi hari ini
justru ulama mau-maunya dijadikan tameng pemerintah untuk melegitimasi dan
melegalisasi apa yang disebut perang melawan radikalisme," ucapnya di
kanal YouTube UIY Official: Resolusi Jihad, Relevansi Kini, Ahad
(25/10/2026).
Lanjutnya, ia menekankan sosok
ulama sudah seharusnya menghidupkan kembali spirit Islam sebagai solusi atas
berbagai krisis bangsa. “Terlebih bangsa ini tengah mengalami banyak
permasalahan, di antaranya kebakaran hutan serta maraknya praktik korupsi yang
melibatkan tokoh-tokoh agama,” ujarnya.
"Korupsi dilakukan oleh
agamawan atau tokoh agama yang sayangnya lagi kiai-kiai ini justru malah minta
abolisi. Umpamanya meminta abolisi ya nunggu proses peradilan selesai, dihukum
dinyatakan bersalah baru minta abolisi. Ini masih berjalan persidangan minta
abolisi dan ada nuansa seolah-olah tidak bersalah," keluhnya.
"Kalau tidak bersalah kok
bisa sekelas KPK berani menjerat dia dengan segala macam tuduhan yang banyak
saksi," sambungnya menambahkan.
UIY menyoroti ironi bahwa di
tengah kondisi negara yang sudah porak-poranda dan maraknya kasus hukum yang
menjerat oknum tokoh agama, perayaan Hari Santri tetap diselenggarakan begitu
saja.
“Adapun saat ini hanya Hari
Santri yang merupakan satu-satunya hari besar nasional dan keagamaan yang masih
melekat dengan spirit keislaman setelah banyak hari bersejarah lainnya yang
nilai religiusnya telah dipangkas,” sebutnya.
"Hari buruh tidak ada (nilai
keislaman), hari kebangkitan nasional tidak ada juga, kecuali hari besar Islam
itu pasti ada. 10 November aja sudah dilepaskan dari spirit Islam, mestinya ini
dimunculkan yang ada spirit Islamnya," tegasnya.
Lebih lanjut, ia berpandangan
bahwa peringatan Hari Santri seharusnya tidak dirayakan sekadar menjadi
kegiatan seremonial tahunan belaka, yang hanya berisi upacara dan apel. “Tidak
dimungkiri budaya bangsa ini memang lekat dengan seremoni-seremoni,” lugasnya.
"Seremoni biasa untuk bangsa
ini dan bangsa ini kan emang penuh dengan seremoni-seremoni. Dan mustinya hari
santri itu diganti jadi hari ulama, hari fatwa jihad atau lebih lugas lagi hari
jihad," tutupnya.[] Taufan
