Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Cendekiawan: Ulama Adalah Pewaris Nabi, Bukan Penjilat atau Alat Legitimasi Kekuasaan

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 18:57 WIB Last Updated 2026-10-31T11:57:44Z

TintaSiyasi.id — Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) memandang bahwa ulama adalah pewaris Nabi yang bertugas menegakkan akidah dan syariat, bukan perisai atau alat untuk melegitimasi kekuasaan, serta posisi ulama harus tetap kokoh di atas ajaran Islam dan tidak menyalahgunakan perannya demi menyenangkan penguasa.

 

"Ulama itu pewaris para nabi dan nabi terakhir Nabi Muhammad itu yang membawa risalah. Harusnya seperti itu peran ulama menegakkan aqidah dan mewujudkan pelaksanaan syariah, tapi hari ini justru ulama mau-maunya dijadikan tameng pemerintah untuk melegitimasi dan melegalisasi apa yang disebut perang melawan radikalisme," ucapnya di kanal YouTube UIY Official: Resolusi Jihad, Relevansi Kini, Ahad (25/10/2026).

 

Lanjutnya, ia menekankan sosok ulama sudah seharusnya menghidupkan kembali spirit Islam sebagai solusi atas berbagai krisis bangsa. “Terlebih bangsa ini tengah mengalami banyak permasalahan, di antaranya kebakaran hutan serta maraknya praktik korupsi yang melibatkan tokoh-tokoh agama,” ujarnya.

 

"Korupsi dilakukan oleh agamawan atau tokoh agama yang sayangnya lagi kiai-kiai ini justru malah minta abolisi. Umpamanya meminta abolisi ya nunggu proses peradilan selesai, dihukum dinyatakan bersalah baru minta abolisi. Ini masih berjalan persidangan minta abolisi dan ada nuansa seolah-olah tidak bersalah," keluhnya.

 

"Kalau tidak bersalah kok bisa sekelas KPK berani menjerat dia dengan segala macam tuduhan yang banyak saksi," sambungnya menambahkan.

 

UIY menyoroti ironi bahwa di tengah kondisi negara yang sudah porak-poranda dan maraknya kasus hukum yang menjerat oknum tokoh agama, perayaan Hari Santri tetap diselenggarakan begitu saja.

 

“Adapun saat ini hanya Hari Santri yang merupakan satu-satunya hari besar nasional dan keagamaan yang masih melekat dengan spirit keislaman setelah banyak hari bersejarah lainnya yang nilai religiusnya telah dipangkas,” sebutnya.

 

"Hari buruh tidak ada (nilai keislaman), hari kebangkitan nasional tidak ada juga, kecuali hari besar Islam itu pasti ada. 10 November aja sudah dilepaskan dari spirit Islam, mestinya ini dimunculkan yang ada spirit Islamnya," tegasnya.

 

Lebih lanjut, ia berpandangan bahwa peringatan Hari Santri seharusnya tidak dirayakan sekadar menjadi kegiatan seremonial tahunan belaka, yang hanya berisi upacara dan apel. “Tidak dimungkiri budaya bangsa ini memang lekat dengan seremoni-seremoni,” lugasnya.

 

"Seremoni biasa untuk bangsa ini dan bangsa ini kan emang penuh dengan seremoni-seremoni. Dan mustinya hari santri itu diganti jadi hari ulama, hari fatwa jihad atau lebih lugas lagi hari jihad," tutupnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update