Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mengatasi Kecanduan Judol dalam Perspektif Al-Qur'an

Minggu, 27 September 2026 | 08:57 WIB Last Updated 2026-09-27T01:57:29Z
TintaSiyasi.id -- Judi online (judol) bukan hanya persoalan kehilangan uang. Ia dapat menjadi persoalan nafsu, kecanduan, ilusi mendapatkan kekayaan secara cepat, dan hilangnya kendali diri. Al-Qur'an memberikan prinsip yang sangat tegas sekaligus jalan pembebasan dari perilaku tersebut.

1. Sadari bahwa judi memang dilarang

Allah SWT berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, judi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung."
QS. Al-Ma'idah: 90

Perhatikan kata فَاجْتَنِبُوهُ — fajtanibūhu: jauhilah.

Bukan sekadar:

"Jangan terlalu banyak berjudi."

Tetapi menjauh dari judi dan jalan yang mengantarkan kepadanya.

Karena itu, bagi orang yang sudah kecanduan judol, targetnya bukan mengurangi taruhan, tetapi memutus siklus perjudian.

2. Pahami bahwa judol menjual ilusi "kaya cepat"

Judi bekerja dengan sebuah harapan:

"Sekali lagi mungkin menang."

Kemudian ketika kalah:

"Saya harus balik modal."

Ketika kalah lagi:

"Sekali lagi saja."

Inilah jebakan yang sangat berbahaya.

Allah mengingatkan:

 وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ

"Setan bermaksud menghalangi kamu dari mengingat Allah dan dari salat."
QS. Al-Ma'idah: 91

Judi tidak hanya mengambil uang.

Ia dapat mengambil:

ketenangan,

waktu,

konsentrasi,

hubungan keluarga,

produktivitas,

bahkan kedekatan seseorang dengan Allah.

3. Jangan mengejar "balik modal"

Ini salah satu prinsip terpenting.

Orang yang kalah Rp5 juta berpikir:

"Saya harus bermain lagi supaya kembali Rp5 juta."

Padahal uang yang sudah hilang bukan alasan untuk mempertaruhkan uang berikutnya.

Ubah pola pikir:

"Uang yang sudah hilang adalah pelajaran. Jangan kehilangan uang kedua hanya karena ingin mengejar uang pertama."

Dalam bahasa spiritual:

Jangan mencoba menyembuhkan luka dengan membuka luka yang lebih besar.

4. Putus akses, bukan hanya niat

Kalau sudah kecanduan, jangan hanya berkata:

"Saya kuat. Saya tidak akan bermain lagi."

Buat sistem yang membantu diri sendiri:

Hapus aplikasi → blokir situs → matikan notifikasi → jangan simpan saldo digital berlebihan → batasi akses rekening → minta pasangan/keluarga membantu mengawasi keuangan.

Ini sejalan dengan prinsip menjauhi dalam QS. Al-Ma'idah: 90.

Karena godaan yang terus berada di depan mata akan membuat proses berhenti jauh lebih sulit.

5. Ganti sensasi "menang" dengan keberhasilan yang halal

Judol memberikan sensasi:

deposit → menunggu → menang/kalah → ingin mengulang.

Maka jangan hanya menghilangkan kebiasaan. Ganti dengan aktivitas yang memberikan rasa pencapaian.

Misalnya:

bekerja,

berdagang,

olahraga,

belajar,

menulis,

berkarya,

membantu keluarga,

bersedekah,

membangun usaha halal.

Allah berfirman:

 وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

"Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya."
QS. An-Najm: 39

Ini adalah paradigma yang sangat berbeda:

Judol: ingin mendapatkan hasil tanpa proses produktif.

Islam: hasil mengikuti ikhtiar yang halal.

6. Ketika dorongan berjudi muncul, lakukan "jeda 15 menit"

Jangan langsung mengikuti dorongan.

Ketika muncul keinginan membuka judol:

STOP → ambil wudhu → tinggalkan HP → berjalan/beraktivitas → dzikir → hubungi orang yang dipercaya.

Katakan kepada diri sendiri:

"Saya tidak harus mengikuti setiap keinginan yang muncul dalam pikiran saya."

Dorongan adalah sesuatu yang bisa berlalu.

7. Gunakan shalat sebagai "rem spiritual"

Allah berfirman:

 إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

"Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
QS. Al-'Ankabut: 45

Jadikan lima waktu sebagai checkpoint kehidupan.

Setelah Subuh:

"Hari ini saya tidak berjudi."

Setelah Zuhur:

"Saya tetap istiqamah."

Setelah Ashar:

"Saya tidak mengejar kekalahan."

Setelah Maghrib:

"Saya menjaga keluarga dan harta saya."

Setelah Isya:

"Alhamdulillah, hari ini saya menang melawan diri sendiri."

8. Taubat harus konkret

Allah berfirman:

 قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ

"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah."
QS. Az-Zumar: 53

Jangan berpikir:

 "Saya sudah terlalu jauh. Allah pasti tidak menerima saya."

Justru ayat ini membuka pintu pulang.

Taubat dari judol:

1. Berhenti berjudi.

2. Menyesali perbuatan.

3. Bertekad tidak mengulanginya.

4. Memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan.

5. Mengembalikan hak orang lain jika ada.

6. Membangun sistem agar tidak kembali.

9. Jika sudah kecanduan berat, jangan berjuang sendirian

Ini penting.

Jika seseorang sudah:

berutang karena judol,

menggunakan uang keluarga,

berbohong demi bermain,

tidak mampu berhenti meskipun sudah berkali-kali mencoba,

mengalami gangguan pekerjaan atau keluarga,

maka persoalannya sudah membutuhkan dukungan serius, bukan sekadar nasihat agama.

Libatkan pasangan, keluarga yang amanah, ustaz/pembimbing yang bijaksana, dan profesional kesehatan mental atau layanan kecanduan bila diperlukan.

Meminta bantuan bukan tanda kelemahan.

Justru itu bagian dari ikhtiar.

Formula "HIJRAH DARI JUDOL"

Saya menyarankan sebuah formula sederhana:

SADAR → PUTUS → TAUBAT → GANTI → BANGKIT

SADAR
Saya sedang diperbudak oleh sebuah kebiasaan.

PUTUS
Putus aplikasi, akses, rekening/saldo yang mudah digunakan, dan lingkungan pemicu.

TAUBAT
Kembali kepada Allah dan tinggalkan perjudian.

GANTI
Ganti sensasi judi dengan kerja, karya, ibadah dan aktivitas produktif.

BANGKIT
Bangun kembali keuangan, keluarga, pekerjaan dan harga diri.

Renungan

Judol menjanjikan kemenangan, tetapi sering mengambil ketenangan.

Ia membisikkan:

"Coba sekali lagi."

Al-Qur'an mengajarkan:

 فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Maka jauhilah agar kamu beruntung."
QS. Al-Ma'idah: 90

Maka kemenangan yang sesungguhnya bukan ketika seseorang menang taruhan.

Kemenangan sejati adalah ketika ia mampu memenangkan dirinya sendiri.

Ketika tangan yang dahulu membuka aplikasi judol kini membuka mushaf.

Ketika uang yang dahulu dibakar untuk taruhan kini digunakan untuk keluarga.

Ketika waktu yang dahulu habis mengejar kemenangan semu kini digunakan untuk bekerja dan beribadah.

Dan ketika hati yang dahulu bergantung kepada "jackpot" kembali bergantung kepada Allah SWT.

Berhenti hari ini. Jangan menunggu kalah lebih banyak. Jangan menunggu keluarga hancur. Jangan menunggu utang menumpuk.

Pulang kepada Allah sekarang.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Pengasuh Pondok Digital dan Entrepreneurship Fikrul Mustanir

Opini

×
Berita Terbaru Update