Tintasiyasi.id.com -- Mahasiswa FK Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 gedung kampus pada Kamis (10/9/2026).
Hotline pencegahan bunuh diri Healing http://119.id mencatat klien didominasi kelompok usia 21–30 tahun, menunjukkan krisis kesehatan mental paling banyak menimpa generasi muda.
Data tersebut mengindikasikan kelompok usia produktif awal tengah menghadapi tekanan berlapis, mulai dari transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja, ketidakpastian ekonomi, hingga tekanan sosial di media sosial.
Buah Pahit Sistem Pendidikan Sekuler dan Ekonomi Kapitalis
Sekularisme sangat berbahaya, merusak akidah seorang mukmin sehingga generasi kehilangan pegangan saat menghadapi tekanan hidup. Ketika agama hanya ditempatkan di ruang privat dan tidak dijadikan sebagai sistem yang mengatur kehidupan, manusia tidak lagi memiliki kerangka makna yang utuh untuk memahami ujian.
Tanpa iman yang kokoh sebagai benteng, kesulitan terasa berat dan berujung pada keputusasaan. Tekanan akademik, masalah ekonomi, dan ekspektasi sosial dihadapi hanya dengan kekuatan diri sendiri. Tidak ada keyakinan tentang pertolongan Allah, pahala atas kesabaran, dan hakikat bahwa hidup adalah ujian. Akibatnya, masalah yang sejatinya sementara dirasakan sebagai akhir dari segalanya.
Kapitalisme tidak hanya melahirkan sistem ekonomi, tetapi juga membentuk watak masyarakat yang individualistik. Melalui budaya toxic positivity dan
hustle culture yang mengagungkan kesuksesan personal, setiap individu didorong untuk berjuang sendiri demi pencapaian materi dan citra diri yang positif.
Akibatnya, ikatan sosial kolektif seperti gotong royong dan solidaritas komunal perlahan tergerus. Manusia menjadi asosial, sibuk mengkurasi kesuksesan di media sosial sambil memutus empati pada realitas sekitarnya.
Kerapuhan individu itu dibentuk melalui sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Pendidikan tidak lagi bertujuan membentuk kepribadian yang tangguh dengan akidah yang kuat, melainkan hanya mencetak tenaga kerja yang kompetitif, materialistis, dan miskin makna spiritual.
Sementara itu, masyarakat yang individualistik adalah produk dari sistem ekonomi Kapitalisme. Sistem ini menanamkan paradigma bahwa kebahagiaan diukur dari pencapaian materi pribadi, bukan dari kesejahteraan kolektif.
Setiap orang didorong untuk berjuang sendiri, bersaing satu sama lain, tanpa jaminan dan ikatan sosial yang kuat dari negara. Wajar jika pada akhirnya kesepian, kecemasan, dan kehampaan merajalela.
Islam Membangun Benteng jiwa dengan Akidah
Islam tidak menunggu seseorang rapuh dulu baru diobati, tetapi membangun bentengnya sejak awal yakni akidah. Sejak kecil, seorang Muslim ditanamkan mindset bahwa hidup ini memang tempatnya diuji. Kesulitan itu bukan tanda Allah benci, tapi tanda Allah perhatian. Lelah, gagal, ditinggalkan, semua ada hitungannya sebagai penghapus dosa.
Di saat yang sama, Islam menutup rapat pintu keputusasaan. Bunuh diri bukan pilihan, bukan solusi, tetapi sesuatu yang haram. Dengan dua keyakinan ini, bahwa di balik ujian ada pahala dan di balik bunuh diri ada azab yang kekal. Seorang Muslim punya alasan yang sangat kuat untuk tetap bertahan, seberat apapun hidupnya.
Dia tidak sendirian, karena dia tahu Allah bersamanya. Jika Sekularisme-Kapitalisme memutus ikatan, maka Islam justru membangun ikatan yang kuat antara keluarga dan masyarakat berdasarkan akidah yang satu.
Islam menjadikan hubungan sesama Muslim bukan sekedar hubungan sosial karena darah atau kepentingan, melainkan hubungan persaudaraan karena Allah (ukhuwah islamiyah).
Negara dalam Islam, Khilafah, menjaga ikatan ini melalui sistem sosialnya: memuliakan peran keluarga sebagai unit terkecil masyarakat, mewajibkan negara menjamin kebutuhan pokok rakyat, dan memerintahkan amar ma'ruf nahi munkar.
Dari Ikatan Umat Hingga Negara Khilafah yang Kaffah
Inilah yang membedakan, Negara Khilafah tidak mengambil Islam secara parsial, melainkan menerapkan sistem Islam secara kaffah. Di bidang pendidikan, negara menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam.
Tujuannya bukan sekedar mencetak pekerja yang siap bersaing, melainkan membentuk kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah), pola pikir dan pola sikap yang kokoh karena terikat pada kebenaran wahyu.
Di bidang ekonomi, negara menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan. Kekayaan alam yang melimpah dikelola negara untuk kepentingan rakyat, bukan diserahkan kepada korporasi. Negara menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu, sehingga tidak ada individu berjuang sendirian demi sekadar bertahan hidup.
Dengan dua pilar inilah, lahirlah individu yang kokoh jiwanya dan masyarakat yang saling peduli, bukan generasi yang rapuh, cemas, dan kesepian seperti yang dilahirkan oleh Sekularisme-Kapitalisme hari ini.[]
Oleh: Saufina
(Aktivis Muslimah)