Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ironi Negeri: Ketika Dosen Digaji di Bawah UMR, Lalu Siapa yang Sedang Kita Bangun?

Senin, 29 Juni 2026 | 15:38 WIB Last Updated 2026-06-29T08:39:03Z
TintaSiyasi.id -- “Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang memiliki sumber daya alam yang berkelimpahan, namun bangsa yang memuliakan ilmu, menghormati guru, dan menyejahterakan para pendidiknya."

Merenungi Sebuah Ironi

Di tengah gencarnya slogan Indonesia Emas 2045, transformasi digital, hilirisasi industri, kecerdasan buatan (AI), dan pembangunan sumber daya manusia, terdapat sebuah kenyataan yang menyayat hati. Tidak sedikit dosen, khususnya di banyak perguruan tinggi swasta, masih menerima penghasilan yang berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Sebagian bahkan harus mencari pekerjaan tambahan agar dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, pertanyaan yang patut dilontarkan adalah: bagaimana mungkin bangsa berharap lahir ilmuwan kelas dunia jika kesejahteraan para pencetak ilmuwan masih jauh dari kata layak?

Permasalahan ini bukan sekedar persoalan ekonomi, tetapi menyangkut arah peradaban bangsa.

Dosen: Pilar Peradaban yang Sering Terlupakan

Di balik setiap dokter yang menyelamatkan nyawa, ada dosen kedokteran.

Di balik setiap insinyur yang membangun jembatan, ada dosen teknik.

Di balik setiap hakim yang menegakkan keadilan, ada dosen hukum.

Di balik setiap guru yang mendidik anak-anak Indonesia, ada dosen yang membentuknya.

Artinya, hampir seluruh profesi lahir dari ruang kuliah dan sentuhan para dosen. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan karakter, integritas, etika, dan tanggung jawab.

Ironisnya, profesi yang melahirkan hampir semua profesi justru sering kali belum memperoleh penghargaan yang setara.

Islam Memuliakan Orang Berilmu

Islam menempatkan ilmu pada kedudukan yang sangat tinggi. Allah SWT berfirman:

> "Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadilah: 11).

Rasulullah SAW juga bersabda:

> "Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi."

Pewarisan para nabi bukanlah harta, melainkan ilmu, hikmah, dan akhlak.

Oleh karena itu, ketika masyarakat mulai mengabaikan kesejahteraan para pendidik, sesungguhnya masyarakat sedang mengurangi penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.

Mengapa Hal Ini Berbahaya?

Rendahnya kesejahteraan dosen dapat menimbulkan berbagai dampak:

Dosen kehilangan kesempatan mengembangkan penelitian karena disibukkan mencari tambahan penghasilan.

Minat generasi muda menjadi dosen berkualitas semakin menurun.

Produktivitas penelitian dan inovasi melemah.

Perguruan tinggi kesulitan bersaing secara global.

Pada akhirnya, kualitas sumber daya manusia nasional ikut terdampak.

Peradaban besar tidak lahir dari bangunan megah, tetapi dari ruang-ruang kelas tempat terjadinya guru dan dosen yang konsekuensinya.

Menghargai Pendidikan Adalah Menghargai Masa Depan

Negara-negara maju memahami bahwa pendidikan bukan pengeluaran, melainkan investasi jangka panjang.

Mereka mengalokasikan anggaran besar untuk penelitian, laboratorium, beasiswa, serta kesejahteraan dosen dan peneliti.

Hasilnya bukan hanya kampus yang hebat, tapi juga ekonomi yang kuat, teknologi yang maju, dan masyarakat yang berdaya saing tinggi.

Sebaliknya, jika pendidikan dipandang sebagai beban, maka kemajuan hanya akan menjadi slogan.

Dakwah Sufistik: Ilmu Adalah Cahaya

Dalam perspektif tasawuf, ilmu bukan sekadar kumpulan teori, tetapi cahaya dari Allah yang memberikan hati dan kehidupan manusia.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu yang benar akan melahirkan amal, dan amal yang ikhlas akan menghadirkan keberkahan.

Namun cahaya ilmu memerlukan penjagaannya.

Para dosen adalah penjaga cahaya itu.

Jika menjaga cahaya hidup dalam kesulitan yang berkepanjangan, jangan heran jika cahaya ilmu perlahan meredup.

Saatnya Berbenah

Telah tiba saatnya pemerintah, yayasan penyelenggara perguruan tinggi, dunia usaha, alumni, dan masyarakat membangun ekosistem pendidikan yang lebih adil.

Kesejahteraan dosen bukan sekadar urusan pribadi dosen, melainkan investasi strategis bagi masa depan Indonesia.

Kampus harus menjadi tempat lahirnya inovasi, bukan tempat para akademisi sibuk memikirkan bagaimana membayar kebutuhan hidup bulan depan.

Penutup: Bangsa Besar Dimulai dari Menghormati Ilmu

Kita boleh membangun gedung pencakar langit.

Kita boleh membangun jalan tol, pelabuhan, dan kawasan industri.

Namun semua itu tidak akan bertahan lama tanpa manusia yang cerdas, berintegritas, dan berakhlak mulia.

Manusia seperti itu dibentuk oleh pendidikan.

Pendidikan dibangun oleh guru dan dosen.

Maka, memuliakan dosen sejatinya adalah memuliakan ilmu. Memuliakan ilmu adalah memuliakan masa depan bangsa.

Semoga para pemangku kebijakan diberi kebijaksanaan untuk menghadirkan sistem pendidikan yang lebih berkeadilan, sehingga para dosen dapat mengabdi dengan tenang, bersikap, dan penuh keberkahan. Sebab, ketika ilmu dimuliakan, Allah akan mengangkat derajat suatu bangsa. Namun ketika ilmu dan para pembawanya diabaikan, peradaban hanya tinggal menunggu waktu.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa

Opini

×
Berita Terbaru Update