Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Syukur: Jalan Sunyi Menuju Cinta Ilahi

Kamis, 07 Mei 2026 | 11:00 WIB Last Updated 2026-05-07T04:00:47Z

TintaSiyasi.id -- 
(Maqam Ketiga dalam Samudera Yakin)

Pendahuluan: Ketika Hati Mulai Melihat

Di suatu titik dalam perjalanan hidup, manusia mulai bertanya:

Mengapa aku hidup?

Mengapa nikmat datang silih berganti?

Mengapa ujian tak pernah berhenti?

Pada saat itulah, hijab mulai terungkap…

Dan seorang hamba mulai memasuki jalan yaqin—jalan keyakinan yang tidak lagi sekadar diketahui, tetapi dirasakan.

Dalam maqam ini, syukur bukan lagi teori, tetapi sedikit yang membuat hati cemas.

Firman Ilahi: Undangan Tanpa Ancaman

Allah ﷻ berfirman: "Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.”
(QS. An-Nisa' ayat 147)

Ayat ini bukan sekedar informasi, melainkan seruan kasih sayang.

Seakan Allah berfirman: “Aku tidak ingin menghukummu. Aku hanya ingin kamu mengenal-Ku dan mensyukuri-Ku.”

Hakikat Syukur — Lebih dari Sekadar Ucapan

Menurut Imam Al-Ghazali: “Syukur adalah menikmati nikmat dalam ketaatan kepada Allah.”

Syukur memiliki tiga dimensi:

1. Syukur dengan Hati

Menyadari bahwa semua berasal dari Allah
Tidak ada yang kebetulan, semuanya diberikan

2. Syukur dengan Lisan

Mengucapkan Alhamdulillah
Tapi bukan sekedar kata, melainkan getaran jiwa

3. Syukur dengan Amal

Gunakan nikmat untuk kebaikan
 Ilmu untuk dakwah, harta untuk berbagi, waktu untuk beribadah

Syukur sebagai Maqam Yakin

Dalam perjalanan ruhani, para ulama membagi yakin menjadi tiga:

1. Ilmul Yaqin → tahu

2. Ainul Yaqin → lihat

3. Haqqul Yaqin → merasakan

Pada maqam ketiga inilah syukur menjadi:

spontan

murni

tanpa syarat

Seorang hamba tidak lagi bertanya:
“Kenapa aku diuji?”

Tetapi berkata:
“Ya Allah, pasti ada kasih sayang-Mu di balik ini.”

Cahaya Tafsir Ulama

Tafsir Ibnu Katsir

Menegaskan bahwa Allah tidak butuh menyiksa.
Syukur dan iman adalah jalan keselamatan.

Tafsir Al-Qurtubi

Menjelaskan bahwa syukur adalah bukti iman yang hidup.

Tafsir Fakhruddin Ar-Razi

Mengungkap bahwa Allah “mensyukuri” hamba dengan membalas amal kecil dengan pahala besar.

 Syukur dalam Perspektif Sufistik

Para ahli tasawuf melihat terima kasih sebagai:

> “Melihat Pemberi Nikmat, bukan sekedar menikmati itu sendiri.”

Ada tiga tingkatan syukur:

1. Syukur Awam → karena nikmat

2. Syukur Khawas → karena mengenal Allah

3. Syukur Khawasul Khawas → bersyukur bahkan dalam ujian

Mengapa Syukur Menghapus Azab?

Karena syukur:

Menghidupkan hati

Hindari…

Mendekatkan kepada Allah

Menjadikan nikmat sebagai jalan ibadah

Azab lahir dari:

kufur nikmat

kesombongan

kesalahan

Syukur adalah lawannya.

Praktik Syukur dalam Kehidupan

Setiap Pagi

Dimulai dengan kesadaran: “Aku masih hidup karena Allah”

Setiap Malam

minimal 10 kenikmatan yang diterima hari itu

Dalam Ujian

Latih diri berkata:
“Ini juga nikmat, hanya tampilannya yang berbeda”

Dalam Ibadah

Rasakan bahwa kita sedang “dipilih” untuk dekat dengan Allah

Syukur Melahirkan Cinta

Ketika syukur sudah matang, ia berubah menjadi:

Mahabbah (cinta kepada Allah)

Dan ketika cinta telah hadir:

ibadah menjadi ringan

doa menjadi nikmat

air mata menjadi saksi kerinduan

Penutup: Jalan Sunyi yang Penuh Cahaya

Syukur adalah jalan sunyi…

Tidak semua orang dapat melihat kenikmatan di balik ujian
Tidak semua orang mampu tersenyum dalam kesulitan

Namun bagi mereka yang sampai pada maqam ini…

Dunia bukan lagi tempat keluh kesah
Tetapi taman untuk mengenal Allah

Doa Penutup

“Ya Allah, jadikan kami hamba-Mu yang pandai bersyukur…
yang melihat kenikmatan dalam setiap keadaan…
dan yang Engkau jauhkan dari azab karena iman dan syukur kami.”

Dr.Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update