Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Petas Babi, Pestanya Oligarki

Kamis, 21 Mei 2026 | 22:40 WIB Last Updated 2026-05-21T15:41:02Z

TintaSiyasi.id -- Sebuah film dokumenter telah dirilis, menceritakan tentang luka yang menganga di belahan timur Indonesia. Lalu tiba-tiba... boom! Dilarang tayang. Diintimidasi. Bahkan dibubarkan secara paksa. Pola yang sudah kita kenal sebelumnya, bukan?

Nah, sekarang coba tebak apa yang terjadi selanjutnya? Publik justru dibuat semakin penasaran. Efek Streisand bekerja dengan sangat sempurna di sini. Semakin Anda berusaha menyembunyikan sesuatu, masyarakat justru akan semakin ingin mencari tahu. . Kita dipaksa melihat sebuah realitas yang bikin bulu kuduk merinding. 2,5 juta hektare hutan di Merauke dibabat habis atas nama Proyek Strategis Nasional. 

Atas nama food and energy estate. Tapi pertanyaannya adalah: food-nya untuk siapa? energy-nya untuk siapa? . Ketika masyarakat adat Papua kehilangan pohon sagunya, kehilangan sungai bersih tempat mereka mencari protein untuk kebutuhan dasar, dan kehilangan ruang hidup tempat leluhur mereka tinggal, mereka dipaksa menonton dari pinggir jalan bagaimana tanah mereka dikeruk oleh gurita modal yang kita sebut... oligarki. . Ironisnya, tanah itu dianggap tak berpenghuni. Para penduduk dianggap seperti jin yang menghuni tanah kosong. Seolah-olah tidak ada manusia satu pun yang bernapas di sana. . 

Masalah Sebenarnya: Napas Sosialis di Balik Layar

Kalau Anda menonton film ini, Anda akan merasakan atmosfer perlawanan yang sangat kental. Ada kemarahan, ada gugatan terhadap ketimpangan, dan ada juga tuntutan tentang redistribusi aset oleh negara. . Secara psikologis, ini sangat masuk akal. Anak-anak muda, para aktivis, dan para sineas hari ini merasa muak dengan praktik kapitalisme yang sangat brutal. Lalu apa pelarian mereka? Sosialisme. Land reform. Retorika bahwa negara harus merebut tanah dari korporasi dan membagikannya secara merata kepada rakyatnya. . Tapi di sinilah letak plot twist-nya. 

Dan jujur, ini adalah otokritik terbesar untuk para pendakwah hari ini, termasuk diri saya sendiri. Kita terlalu sibuk membahas Islam hanya di level ritual, seperti puasa, zakat, akhlak, atau urusan privat lainnya. . Kita telah abai selama ini. Kita membuat Islam terkesan impoten, tidak punya solusi, dan seolah-olah gagap ketika dihadapkan pada masalah agraria yang kompleks seperti hari ini. Akhirnya? Anak muda Muslim kasmaran dengan ideologi kiri karena mengira hanya sosialisme yang menenangkan hati dan punya jawaban atas keserakahan kapitalisme. Padahal? Itu adalah sebuah kekeliruan yang amat besar. .

Kacamata Penguasa yang Haq: Solusi dari Syaikh Taqiyuddin An Nabhani

Mari kita bedah masalah ini dari akarnya secara jernih, tanpa bias, menggunakan kacamata ideologi Islam yang dibawa oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. . Dalam Islam, tanah itu bukan komoditas monopoli tanpa batas seperti dalam kapitalisme, tetapi juga bukan milik kolektif mutlak yang dikebiri oleh negara seperti dalam sosialisme. Islam punya aturan main yang sangat elegan mengenai kepemilikan lahan (Milkiyah al-Aradhi) mendistribusikan lahan kepada rakyat jelata yang tidak punya modal agar mereka bisa hidup mandiri dan terpenuhi kebutuhan hidupnya. 

Dulu, Rasulullah saw. memberikan tanah yang sangat luas kepada Bilal bin al-Harits al-Muzani. Seluas apa? Seluas kuda berlari sampai capek. Tujuannya apa? Biar rakyat kecil punya modal produksi untuk menafkahi dirinya. . Gunakan atau Hilang (Use It or Lose It)

Di sinilah letak keadilan sistemik Islam. Tanah yang sudah diberikan oleh negara wajib hukumnya untuk dihidupkan (Ihya al-Mawat) dan diproduksikan. Jika tanah tersebut ditelantarkan, didiamkan, atau dijadikan alat spekulasi selama tiga tahun berturut-turut, maka negara berhak, atau bahkan wajib, untuk merampas tanah tersebut tanpa ganti rugi, untuk kemudian diberikan kepada orang lain yang mampu mengelolanya. . 

Bayangkan jika hukum ini diterapkan hari ini. Berapa banyak konglomerat dan oligarki yang menguasai ratusan ribu hektare lahan HGU (Hak Guna Usaha) yang terlantar, yang tanahnya akan langsung disita oleh negara dan dibagikan kepada para petani kecil di Papua dan seluruh Indonesia? Tidak perlu ada negosiasi berbelit-belit yang dilakukan di bawah meja. . 

Kesimpulan Akhir

Film Pesta Babi adalah alarm yang sangat baik untuk membangunkan kita dari tidur panjang. Film itu berhasil memotret penyakitnya dengan sangat akurat: kapitalisme melahirkan oligarki yang rakus. . Namun, mengobati penyakit kapitalisme dengan obat sosialisme adalah sebuah kesia-siaan. Itu seperti Anda mengobati keracunan dengan meminum racun jenis baru yang akan membuat Anda justru semakin menderita. . 

Solusi konkretnya ada di depan mata kita, tertulis rapi dalam kitab-kitab fikih muamalah yang selama ini teronggok dan berdebu di pojok-pojok pesantren kita. . Sistem ekonomi Islam bukan sekadar alternatif kosmetik. Ini adalah satu-satunya sistem yang memadukan keadilan distribusi tanah dengan kepemilikan yang berkah dan berlimpah. . Jadi, sampai kapan kita mau terus menonton pesta para oligarki ini? Sementara kita membiarkan solusi yang sejati tetap tersimpan di dalam buku yang terlantar di atas lemari? Wallahu a‘lam bi ash-shawab.

Oleh: Trisyuono Donapaste
(Aktivis Dakwah)

Opini

×
Berita Terbaru Update