TintaSiyasi.id -- Ulama Ustaz Arief B Iskandar, menjelaskan, tragedi terbesar umat hari ini bukan karena ketiadaan kekuatan akan tetapi karena ketiadaan pemimpin yang menyatukan.
"Inilah tragedi terbesar umat hari ini, bukan ketiadaan kekuatan, tetapi ketiadaan kepemimpinan yang menyatukan," ungkapnya di akun Telegram Arief B Iskandar, Sabtu (11/4/2026).
Dia mengatakan, potensi umat yang luar biasa militer, ekonomi, sumberdaya alam dan sebagainya tidak pernah benar-benar digunakan untuk membela Islam dan kaum Muslim. Sebaliknya, potensi itu justru dikooptasi untuk menjaga stabilitas sistem global yang didominasi oleh kekuatan kafir penjajah.
Ia menjelaskan, apa yang terjadi hari ini bukan sekadar diplomasi. Ini adalah potret telanjang tentang bagaimana para penguasa negeri-negeri Muslim justru tampil sebagai “penyelamat” bagi imperium yang mulai limbung.
"Saat Amerika mulai kelelahan menghadapi tekanan geopolitik, juga saat sekutunya terus terjebak dalam krisis berkepanjangan, tiba-tiba muncul “inisiatif damai” dari para penguasa negeri-negeri Muslim. Di antaranya dari rezim Pakistan. Bukan untuk menyelamatkan umat, tetapi untuk menyelamatkan musuh umat," ujarnya.
Ia mengatakan, ada permintaan penundaan perang. Ada ajakan membuka jalur strategis. Bahkan ada undangan perundingan. Semuanya tampak indah. Padahal realitasnya pahit. Ini bukan diplomasi untuk menghentikan kezaliman. Ini adalah evakuasi terhormat bagi kekuatan besar yang mulai terpojok.
"Sejarah Afganistan telah membuktikan itu. Ketika Amerika gagal secara militer, siapa yang membantu mereka keluar dengan wajah terjaga? Siapa yang mengemas kekalahan menjadi “kesepakatan damai”? Jawabannya jelas: para penguasa Muslim sendiri. Hari ini, skenario itu sedang diulang," contohnya.
"Ini bukan peristiwa insidental. Ini adalah pola. Sejak keruntuhan institusi politik Islam global (khilafah), umat ini tercerai-berai menjadi puluhan negara-bangsa yang lemah dan saling terikat kepentingan asing. Akibatnya, setiap negeri bergerak bukan atas dasar akidah, tetapi atas dasar tekanan geopolitik," tambahnya.
Ia menjelaskan, potensi umat yang luar biasa militer, ekonomi, sumberdaya alam, tidak pernah benar-benar digunakan untuk membela Islam dan kaum Muslim.
"Sebaliknya, potensi itu justru dikooptasi untuk menjaga stabilitas sistem global yang didominasi oleh kekuatan kafir penjajah. Inilah tragedi terbesar umat hari ini: bukan ketiadaan kekuatan, tetapi ketiadaan kepemimpinan yang menyatukan," tegasnya.
"Yang lebih menyakitkan bukan hanya pengkhianatan, tetapi diamnya kekuatan yang sebenarnya mampu mengubah keadaan. Pakistan bukan negeri kecil. Ia memiliki kekuatan militer besar. Ia memiliki senjata strategis yang mampu mengubah peta konflik dalam sekejap. Akan tetapi, kekuatan itu justru tidak pernah diarahkan untuk membela umat," tambahnya.
Di Palestina, lanjutnya, kehormatan diinjak-injak. Al-Aqsa dipasung berbulan-bulan, bahkan selama bulan Ramadhan. Darah kaum Muslim mengalir tanpa henti. Akan tetapi, di mana kekuatan itu? Mengapa yang muncul justru diplomasi untuk menyelamatkan Amerika, bukan langkah nyata untuk menyelamatkan kaum Muslim Palestina?
"Di sinilah kita menyaksikan paradoks terbesar. Kekuatan besar, tetapi kehendak lemah. Senjata dahsyat, tetapi keberpihakan lumpuh," ujarnya.
Jika demikian, ia menjelaskan, faktanya maka pertanyaan mendasarnya sederhana: para penguasa ini sebenarnya melindungi siapa? Apakah mereka berdiri di barisan umat? Ataukah mereka menjadi perisai bagi kepentingan asing?
"Fakta berbicara dengan sangat terang. Yang mereka lindungi adalah stabilitas hegemoni Amerika. Yang mereka selamatkan adalah wajah imperium yang mulai retak. Sebaliknya, umat sebagaimana biasa dibiarkan menanggung luka," ujarnya.
Ia mengutip QS at-Taubah: 67.
ٱلْمُنَافِقُونَ وَٱلْمُنَافِقَٰتُ بَعْضُهُم مِّنۢ بَعْضٍۢ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ ٱلْمُنَافِقِينَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
Kaum munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka dengan sebagian yang lain adalah sama. Mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (berbuat) yang makruf. Mereka menggenggam tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah sehingga Allah pun melupakan mereka. Sesungguhnya kaum munafik itulah kaum yang fasik.
"Ini bukan sekadar ayat tentang masa lalu, tetapi cermin yang memantulkan realitas hari ini," tegasnya.
Akan tetapi, ia mengingatkan, sejarah juga mengajarkan satu hal penting: kebangkitan tidak pernah lahir dari penguasa yang tunduk, tetapi dari umat yang sadar. Kekuatan umat Islam sejatinya bukan kecil. Ia tersebar di berbagai negeri, menguasai jalur-jalur strategis dunia dan memiliki potensi yang tidak tertandingi.
"Yang hilang bukan kekuatan, tetapi kesatuan arah. Bayangkan jika potensi itu bersatu. Bayangkan jika kekuatan militer, ekonomi dan politik umat berada di bawah satu kepemimpinan yang independen. Saat itulah peta dunia akan berubah secara fundamental. Bukan lagi umat yang menjadi objek permainan kekuatan global, tetapi menjadi subjek yang menentukan arah sejarah," ujarnya.
Karena itu, ia menyarankan, siklus lama harus diputus. Selama umat masih menyerahkan nasibnya kepada para penguasa yang terikat pada kepentingan asing, selama itu pula tragedi akan terus berulang. Sebaliknya, ketika umat mulai menyadari hakikat ini bahwa kemuliaan tidak akan pernah lahir dari ketergantungan maka saat itulah perubahan sejati akan dimulai.
Ia mengutip QS Muhammad: 7:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.
"Ini bukan sekadar janji. Ini adalah hukum sejarah," tegasnya.
Oleh karena itu, ia mengungkapkan, tanpa “junnah” (perisai) itu, umat menjadi sasaran empuk. Mudah dipecah. Mudah ditekan. Mudah dipermainkan. Inilah yang kita saksikan hari ini.
"Selama umat tetap terpecah dalam sekat-sekat nasionalisme, selama itu pula mereka tidak akan pernah menjadi kekuatan global. Sebaliknya, ketika umat sedunia disatukan di bawah satu kepemimpinan tunggal khilafah maka seluruh potensi akan terkonsolidasi. Kekuatan militer menjadi satu komando. Sumberdaya alam dikelola untuk kemaslahatan umat. Kebijakan luar negeri berdiri independen, bukan tunduk. Dunia akan kembali memperhitungkan umat Islam sebagai kekuatan besar. Sejarah telah membuktikan hal itu selama berabad-abad. Bukan karena jumlah semata, tetapi karena kesatuan kepemimpinan. Saat demikian umat Islam akan menjadi subjek: penentu arah politik global, penjaga stabilitas dunia, dan pelindung bagi seluruh manusia dari kezaliman imperium," paparnya.
Ia mengutip QS an-Nur: 55:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa...
"Ini adalah janji kekuasaan, janji keamanan dan janji kemuliaan yang bakal Allah SWT berikan kepada umat ini. Akan tetapi, semua itu terikat dengan satu syarat: iman dan amal yang bena, termasuk menegakkan sistem kehidupan yang Allah ridhai," terangnya.
Ia mengatakan, para ulama sepanjang sejarah telah menegaskan kewajiban adanya kepemimpinan global bagi kaum Muslim. Imam al-Mawardi berkata dalam Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah:
وَالإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا بِهِ
“Imamah (Khilafah) ditetapkan untuk menggantikan kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengan agama.
Demikian pula, ia mengutip perkataan, Imam an-Nawawi dalam Syarḥ Shahiih Muslim:
أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ نَصْبُ خَلِيفَةٍ
“Para ulama telah berijmak bahwa wajib atas kaum Muslim untuk mengangkat seorang khalifah.”
"Ini bukan sekadar konsep politik. Ini adalah kewajiban syar’i yang menentukan nasib umat. Selama umat tidak memiliki Khilafah, selama itu pula tragedi akan terus berulang: penguasa menjadi alat asing; potensi umat disia-siakan; darah kaum Muslim terus tertumpah," ungkapnya.
Akan tetapi, ia menjelaskan, ketika Khilafah tegak, semuanya akan berubah. Umat tidak lagi meminta-minta perlindungan, tetapi menjadi pelindung. Umat tidak lagi ditakut-takuti, tetapi justru disegani bahkan ditakuti oleh musuh-musuhnya.
"Inilah izzah yang telah lama hilang. Izzah yang hanya akan kembali dengan tegaknya kepemimpinan Islam global (khilafah) yang menaungi seluruh kaum Muslim di seluruh penjuru dunia," pungkasnya. [] Alfia