Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Setiap Perjanjian dengan Mereka (Zionis Yahudi) Sejatinya bukan Harapan

Minggu, 12 April 2026 | 11:21 WIB Last Updated 2026-04-12T04:22:06Z

TintaSiyasi.id -- Ulama Ustaz Arief B Iskandar, menegaskan bahwa setiap perjanjian dengan Zionis Yahudi sejatinya bukan harapan melainkan pengulangan kesalahan.

"Maka dari itu setiap optimisme terhadap perjanjian dengan mereka, sejatinya bukan harapan, melainkan pengulangan kesalahan," paparnya di akun Telegram Arief B Iskandar, Jumat (10/4/2026).

Is mengatakan demikian, bukan tanpa alasan. Sebab perjanjian gencatan sejata antara AS-Zionis Israel dan Iran pada 7 April 2026 yang disepakati berlaku selama 2 pekan langsung dilanggar oleh Zionis Israel pada 8 April dengan melancarkan serangan ke Lebanon di sekitar 100 titik serangan rudal dan menewaskan ratusan penduduk sipil.

Peristiwa ini, kata dia bukan kejutan. Ia hanya pengulangan. Sejarah telah lama mencatat. Wahyu pun telah lebih dulu menegaskan, bahwa pengkhianatan bukanlah penyimpangan, melainkan karakter asli Yahudi.

Ia mengutip firman Allah SWT., yang artinya; "Sungguh, engkau akan mendapati manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah kaum Yahudi dan kaum musyrik". (QS al-Maidah: 82).

Allah SWT juga berfirman (yang artinya): Jika mereka memperoleh kemenangan atas kalian, mereka tidak akan memelihara hubungan kekerabatan dan tidak pula mengindahkan perjanjian. (QS at-Taubah: 8).

"Ayat-ayat ini bukan sekadar sejarah. Ia adalah kunci membaca realitas," tegasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, saat dunia sibuk menyusun kalimat diplomasi, Yahudi menyusun koordinat target. Ketika dunia berbicara tentang perdamaian, Yahudi menyiapkan pembantaian. Inilah ironi terbesar: dunia berharap pada kata, sementara Yahudi bergerak dengan senjata.

"Yang lebih menyayat, sebagian penguasa masih saja menggantungkan nasib rakyatnya pada meja perundingan. Seolah sejarah belum cukup memberikan pelajaran. Seolah darah yang tumpah belum cukup menyadarkan. Padahal satu kaidah sederhana telah terbukti secara berulang kali: penjajah tidak pernah berhenti karena diminta berhenti. Apalagi ketika ia didukung oleh kekuatan besar dunia," paparnya. 

"Ketika darah umat ditumpahkan di Lebanon oleh Zionis Yahudi, seorang pemimpin dunia bahkan dengan enteng menyebut hal itu sekadar “bentrokan kecil”. Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya menghina: bahwa nyawa kaum Muslim tidak lebih dari statistik yang bisa diabaikan," geramnya. 

Ia menekankan bahwa realitas ini menuntun pada satu kesimpulan yang tidak nyaman, tetapi tak bisa dihindari: bahwa entitas Yahudi ini tidak memahami kecuali satu bahasa: kekuatan. Kecaman tidak menakutkan Yahudi. Resolusi tidak menghentikan Yahudi. Perundingan tidak mengikat Yahudi. 

"Selama mereka ada, ketidakstabilan adalah keniscayaan. Mereka bukan sekadar aktor konflik. Mereka adalah sumber konflik itu sendiri," tegasnya. 

Ia menceritakan, dari Gaza hingga Lebanon. Dari reruntuhan rumah hingga tangisan anak-anak. Semuanya menyatu dalam satu kesaksian besar: tidak ada keamanan bersama mereka; tidak ada kepercayaan kepada mereka; tidak ada masa depan damai selama mereka tetap bercokol. Darah itu berbicara. Ia tidak pernah berdusta.

"Karena itu menghentikan tragedi ini tidak cukup dengan retorika. Masalah ini bukan sekadar konflik biasa. Ia adalah penyakit kronis. Penyakit ini tidak disembuhkan dengan menenangkan gejala, tetapi dengan menghilangkan sumbernya," cecarnya. 

Ia mengutip hadis Rasulullah ﷺ bersabda, “Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi, lalu kalian akan menguasai mereka…” (HR Muslim).

"Ini bukan sekadar narasi masa depan. Ini adalah arah perjuangan," tegasnya. 

Ia mengungkapkan bahwa sejarah Islam bukan sejarah kelemahan. Ketika umat ini bersatu sebagaimana dulu sepanjang era Kekhilafahan Islam selama berabad-abad, mereka bukan hanya bertahan. Mereka bahkan senantiasa memimpin pertandingan. Bukan hanya melawan. Mereka bahkan selalu memenangkan pertempuran.

"Jika potensi umat hari ini disatukan kembali, tentu dalam satu institusi pemerintahan Islam global (Khilafah), sebagaimana dulu, bukan mustahil: Al-Aqsha kembali; para tawanan dibebaskan; tanah yang diberkahi kembali ke tangan pemiliknya; dan ragam kezaliman dipaksa berhenti," jelasnya. 

Allah SWT berfirman (yang artinya): Pada hari itu bergembiralah kaum Mukmin (QS. Ar-Rum: 4).[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update