Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jeda Perang Iran versus Amerika: Dunia Islam Seharusnya Membaca Kekuatan Umat

Minggu, 12 April 2026 | 11:26 WIB Last Updated 2026-04-12T04:26:35Z

TintaSiyasi.id -- Menanggapi jeda perang (kesepakatan gencatan senjata) dalam perang antara Iran versus Amerika-Zionis Israel, Ulama Ustaz Arief B Iskandar, menjelaskan bahwa di sinilah dunia Islam seharusnya membaca momentum, kekuatan umat bukan terletak pada jumlah tetapi kesatuan arah politik. 

"Di sinilah Dunia Islam seharusnya membaca momentum. Kekuatan umat tidak terletak pada jumlah semata, tetapi pada kesatuan arah politik," ungkapnya di akun Telegram Arief B Iskandar, Rabu (8/6/2026).

Ia mengatakan, penghentian perang, meski hanya sementara antara Iran dan musuh Zionis-Amerika tidak boleh dibaca sebagai berakhirnya konflik. "Ia lebih tepat dipahami sebagai jeda dalam pertarungan panjang yang akar-akar ideologis, politik, militer dan strategisnya masih tetap menyala," tegasnya. 

Dalam sejarah politik internasional, lanjut dia, gencatan senjata sering bukan akhir. Ia adalah fase konsolidasi, penataan ulang kekuatan, pengukuran ulang strategi, sekaligus pengiriman pesan diam-diam kepada lawan: bahwa pertarungan berikutnya belum tentu lebih ringan.

Karena itu, tuturnya, jeda perang ini justru menyimpan banyak pelajaran penting, terutama bagi Dunia Islam yang selama ini lebih sering menjadi arena benturan ketimbang subjek penentu arah sejarah.

"Perang ini memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa Iran memiliki unsur-unsur kekuatan internal yang tidak lahir dalam semalam," katanya.

Apa yang tampak di permukaan hari ini, menurut dia, sesungguhnya merupakan hasil akumulasi panjang dari kerja bertahun-tahun: pembangunan industri strategis, penguatan riset ilmiah, pengembangan teknologi pertahanan, serta pembentukan daya tahan nasional yang relatif kokoh. Kekuatan semacam ini tidak dibangun dengan retorika, tetapi dengan kesabaran strategis.

"Puluhan tahun embargo justru memaksa Iran menumbuhkan kemampuan internal. Dalam banyak kasus sejarah, tekanan eksternal sering melahirkan bangsa yang tahan banting, selama kepemimpinan di dalam negeri mampu mengubah ancaman menjadi energi konsolidasi," paparnya. 

Yang menarik, kata dia, perang juga menunjukkan adanya ikatan psikologis antara rakyat dan rezim yang berkuasa. Ketika rakyat melihat pemimpinnya ikut memikul risiko, berdiri di depan dan menanggung konsekuensi, maka rakyat pun lebih mudah menerima beban pengorbanan. 

"Di sinilah pelajaran penting bagi seluruh negeri Muslim: kekuatan negara tidak hanya bertumpu pada senjata, tetapi juga pada legitimasi moral kepemimpinan. Ibnu Khaldun menegaskan dalam Al-Muqaddimah bahwa kekuasaan hanya kokoh saat ditopang antara lain oleh ikatan solidaritas sosial yang hidup. Tanpa keterikatan rakyat, kekuatan militer sering hanya tampak besar dari luar, tetapi rapuh dari dalam," jelasnya. 

Serta, ia memaparkan, perang ini juga membuka fakta lain: batas-batas kekuatan Amerika. Selama puluhan tahun, dunia digiring untuk mempercayai bahwa Amerika adalah kekuatan global yang nyaris tidak mungkin disentuh. 

"Akan tetapi, realitas mutakhir menunjukkan bahwa dominasi sebesar apa pun tetap memiliki titik rapuh. Amerika tetap kuat, tetapi tidak absolut. Kekuatan yang dibangun di atas rasa superioritas selalu membawa penyakit lama: kesombongan geopolitik," geramnya. 

Ia mengutip QS Fushshilat: 15

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً

Adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, "Siapakah yang lebih kuat daripada kami?"

"Inilah penyakit klasik semua imperium. Hari ini logika yang sama tampak dalam bahasa politik global: seolah tidak ada kekuatan yang boleh menolak kehendak Washington. Padahal sejarah selalu membuktikan: imperium paling besar pun dapat retak ketika kesombongannya melampaui batas rasional," jelasnya. 

Kemudian, ia bertanya, perang ini sesungguhnya memunculkan pertanyaan lebih besar: Mengapa Dunia Islam yang begitu luas sejak keruntuhan Khilafah Islam pada tahun 1924 tidak pernah tampil lagi sebagai satu kekuatan strategis?

"Andaikata ada satu proyek politik Islam bersama yang sungguh-sungguh hidup, maka peta kawasan akan sangat berbeda. Bayangkan jika seluruh potensi Dunia Islam kembali disatukan. Iran, Turki Saudi Arabia, Pakistan, Indonesia serta negeri-negeri Muslim lain bergerak dalam satu orientasi politik: membangun kembali satu institusi pemerintahan Islam global (khilafah)," jelasnya. 

Ia juga mengatakan, cadangan energi terbesar dunia ada di negeri-negeri Muslim. Jalur laut strategis dunia berada di wilayah mereka. Populasi besar ada di tangan mereka. Posisi geografis paling menentukan juga milik mereka. 

"Akan tetapi, semua potensi itu hingga kini masih tercerai-berai. Inilah akibat tidak ada pusat politik umat: menyatukan kembali negeri-negeri Muslim di bahwa institusi Khilafah Islam global," ungkapnya. 

Padahal Allah telah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Berpegangteguhlah kalian semuanya pada tali Allah dan janganlah bercerai-berai. (QS. Ali 'Imran: 103).

"Ayat ini bukan hanya seruan moral, tetapi juga fondasi politik umat," tegasnya. 

Kemudian, ia mengungkapkan, Turki memiliki potensi besar. Secara militer kuat. Secara geografis sangat strategis. Secara sejarah memiliki warisan kepemimpinan panjang. Akan tetapi, selama orientasi politiknya tetap bergerak dalam kerangka nasionalisme sekuler, negeri itu tetap sulit keluar dari orbit NATO. 

"Padahal kekuatan sejati bukan hanya kemampuan memproduksi drone, tank atau rudal. Kekuatan pertama justru keberanian melepaskan mentalitas keterikatan kepada Barat. Selama legitimasi strategis masih dicari dari Barat, maka kekuatan sebesar apa pun hanya akan menjadi instrumen dalam arsitektur global yang dirancang pihak lain," terangnya. 

Ia menjelaskan bahwa gencatan senjata dengan syarat-syarat kompromi sering dipuji sebagai keberhasilan diplomasi. Padahal, dalam banyak kasus, solusi semacam ini justru memperpanjang umur dominasi lama. Sebabnya, ia tidak menyelesaikan akar masalah. Hanya menunda benturan. 

"Hari ini bahkan dunia Barat sendiri mulai menunjukkan kejenuhan terhadap watak imperial Amerika. Kebijakan Donald Trump dalam banyak hal justru membuka wajah telanjang imperium itu: keras, transaksional dan sering sulit dipercaya bahkan oleh sekutu sendiri. Retaknya kepercayaan global terhadap Amerika adalah peluang sejarah. Akan tetapi, peluang hanya berguna jika ada subjek yang siap mengisinya," ungkapnya.

Ia mengutip, Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Al-Iqtishaad fii al-I'tiqaad menegaskan:

الدين أصل والسلطان حارس وما لا أصل له فمهدوم وما لا حارس له فضائع

Agama adalah fondasi, sedangkan kekuasaan adalah penjaganya. Apa yang tidak memiliki fondasi akan runtuh, sementara apa yang tidak memiliki penjaga akan hilang.

"Karena itu risalah Islam memerlukan institusi politik yang menjadi penjaganya. Bukan sekadar solidaritas emosional. Bukan sekadar pernyataan bersama. Akan tetapi, kesatuan riil dalam kepemimpinan," ungkapnya. 

Hari ini katanya, Dunia Islam sedang menghadapi hukum sejarah yang sama. Selama tetap tercerai dalam batas nasional, dominasi asing akan terus berulang. Akan tetapi, saat risalah Islam kembali menjadi poros politik utama, sejarah bisa berubah.

"Momentum global sedang bergerak. Dominasi lama mulai retak. Kepercayaan dunia bergeser. Pusat-pusat kekuatan baru muncul. Pertanyaannya: Apakah Dunia Islam hanya akan menjadi penonton? Ataukah justru mengambil kembali posisinya sebagai pembawa risalah bagi dunia?" Tanyanya. 

"Sebabnya, pada akhirnya, kekuatan terbesar umat bukan hanya minyak, bukan hanya jumlah manusia, bukan pula letak geografis. Kekuatan terbesar umat adalah Islam ketika dijadikan asas pemersatu politik. Selama itu belum diwujudkan, Dunia Islam akan terus memiliki potensi besar, namun belum menjadi kekuatan sejarah," pungkasnya.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update