TintaSiyasi.id -- Refleksi Dakwah Ideologis–Sufistik dari QS. Ali Imran : 19 dan Nasehat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani
Pendahuluan: Islam Bukan Sekadar Identitas,Tetapi Jalan Pulang.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِ سْلَا مُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ فَاِ نَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَا بِ
innad-diina 'ingdallohil-islaam, wa makhtalafallaziina uutul-kitaaba illaa mim ba'di maa jaaa-ahumul-'ilmu baghyam bainahum, wa semoga yakfur bi-aayaatillaahi fa innalloha sarii'ul-hisaab
"Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat menghitung-Nya."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 19)
“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali Imran : 19)
Ayat ini adalah fondasi akidah, sekaligus peta perjalanan ruhani manusia. Islam bukan sekedar nama agama, namun jalan hidup yang mengarahkan manusia menuju kepasrahan total kepada Allah.
Dalam kenyataan kehidupan, banyak orang yang memeluk Islam, namun belum sepenuhnya merasakan makna ketundukan dan pasrah. Islam masih berhenti di lisan dan simbol, belum dipahami kesadaran menjadi batin yang hidup.
Di sedikit nasehat agung Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam Jala'ul Khathir menjadi cahaya penuntun:
“Hakikat Islam adalah ketundukan dan kepasrahan. Wujudkan Islam, kemudian capailah hakikat kepasrahan. Bersihkan lahiriahmu dengan Islam, dan bersihkan batinmu dengan kepasrahan.”
Nasihat ini mengajarkan bahwa Islam adalah perjalanan bertahap:
Dari lahir ke batin
Dari syariat ke hakikat
Dari amal ke ma'rifat
I. Islam sebagai Syariat: Fondasi Lahiriah Kehidupan
Islam pada tahap awal adalah ketaatan lahiriah terhadap perintah Allah. Ia melihat ke dalam:
Shalat yang ditegakkan
Puasa yang dijalankan
Zakat yang ditunaikan
Lisan yang обитает
Akhlak yang diperindah
Syariat adalah disiplin lahiriah yang membentuk manusia menjadi hamba yang tertib dan taat.
Namun, perlu banyak:
Syariat bukan tujuan akhir, melainkan pintu gerbang menuju kedalaman ruhani.
Tanpa syariat, seseorang tersesat.
Tetapi tanpa hakikat, seseorang menjadi kering.
Banyak manusia yang rajin beribadah, tetapi:
Hatinya masih gemerlap
Mudah marah
Suka menghargai orang lain
Tidak ridha terhadap takdir
Ini tanda bahwa Islamnya masih di permukaan, belum menyentuh inti.
II. Hakikat Islam : Kepasrahan Total (Taslim) kepada Allah
Hakikat Islam adalah taslim—ketundukan total tanpa syarat.
Ini bukan sekedar ucapan, tetapi kondisi jiwa yang matang:
Saat diuji, ia ditahan
Saat diberi, ia bersyukur
Saat kehilangan, ia ridha
Saat gagal, ia tetap percaya kepada Allah
Kepasrahan sejati adalah ketika hati berkata:
“Ya Allah, aku menerima segala ketentuan-Mu, karena aku yakin Engkau Maha Bijaksana.”
Inilah maqam tinggi dalam perjalanan ruhani:
Tidak lagi mengeluh berlebihan
Tidak lagi menuntut takdir sesuai keinginan
Tidak lagi bergantung padamakhluk
Ia hidup dengan satu kesadaran:
Semua dari Allah, oleh Allah, dan kembali kepada Allah.
AKU AKU AKU. Menyatukan Syariat dan Hakikat: Jalan Para Wali
Kesalahan terbesar dalam memahami Islam adalah memisahkan syariat dan hakikat.
Ada yang hanya fokus pada syariah:
Rajin ibadah, tapi keras hati
Banyak amal, tapi minim keikhlasan
Ada pula yang mengaku mencapai hakikat:
Mengabaikan syariat
Menganggap ibadah tidak penting
Padahal, jalan yang benar adalah menggabungkan keduanya:
Syariat tanpa hakikat adalah kering.
Hakikat tanpa syariat adalah sesat.
Para ulama dan wali Allah menempuh jalan:
Lahirnya persetujuan pada hukum Allah
Batinya pasrah atas kehendak Allah
Inilah Islam yang utuh.
IV. Penyakit Batin yang Menghalangi Kepasrahan
Mengapa sulit mencapai kepasrahan?
Karena hati masih terbelenggu oleh penyakit:
1. Kesombongan (Kibr)
Merasa diri paling benar, sulit menerima kebenaran dari orang lain.
2. Cinta Dunia Berlebihan
Takut kehilangan harta, jabatan, dan pujian manusia.
3. Ketergantungan pada Makhluk
Menggantungkan harapan pada manusia, bukan pada Allah.
4. Kecemasan Berlebihan
Tidak percaya bahwa takdir Allah selalu terbaik.
5. Tidak Ridha terhadap Ketentuan Allah
Sering kali protes dalam hati: “Mengapa ini terjadi pada saya?”
Selama hati masih terpenuhi ini, maka kepasrahan sejati tidak akan lahir.
V. Jalan Menuju Kepasrahan Sejati
Untuk mencapai hakikat Islam, diperlukan proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa):
1. Ikhlas dalam Amal
Melakukan ibadah hanya karena Allah, bukan karena manusia.
2. Tawakal dalam Usaha
Berusaha maksimal, tetapi menyerahkan hasilnya kepada Allah.
3. Ridha terhadap Takdir
Menerima segala ketentuan dengan luas dada.
4. Dzikir dan Tafakur
Menghidupkan hati dengan mengingat Allah dan memikirkani ciptaan-Nya.
5. Mujahadah (Kesungguhan Melawan Nafsu)
Melatih diri untuk tidak mengikuti hawa nafsu.
Proses ini tidak instan. Ia adalah perjalanan seumur hidup.
VI. Buah dari Kepasrahan: Ketenangan dan Kedekatan dengan Allah
Ketika seseorang mencapai hakikat Islam, ia akan merasakan:
1. Sakinah (Ketenangan Jiwa)
Hatinya tenang, tidak mudah goyah oleh masalah dunia.
2. Qana'ah (Merasa Cukup)
Tidak tamak, selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri.
3. Husnuzan (Berbaik Sangka kepada Allah)
Yakin bahwa setiap takdir mengandung kebaikan.
4. Mahabbah (Cinta kepada Allah)
Hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah.
5. Kebebasan Sejati
Tidak diperbudak dunia, tidak terikat oleh penilaian manusia.
Ia menjadi manusia yang:
Kuat dalam ujian
Rendah hati dalam keberhasilan
Tenang dalam segala keadaan
VII. Refleksi Kehidupan: Sudahkah Kita Ber-Islam Secara Hakiki?
Pertanyaan penting untuk kita renungkan:
Apakah ritual Islam kita baru sebatas?
Apakah hati kita sudah benar-benar pasrah kepada Allah?
Apakah kita ridha terhadap semua ketentuan-Nya?
Jika belum, maka perjalanan kita masih panjang.
Namun kabar baik: Setiap langkah menuju Allah, sekecil apa pun, akan dibalas dengan rahmat-Nya.
Penutup: Islam sebagai Cahaya Kehidupan
Islam adalah cahaya.
Ia akhirnya lahir dengan syariat, dan akhirnya lahir dengan hakikat.
Dimulai dari yang tampak: Perbaiki shalatmu, jaga akhlakmu, luruskan amalmu.
Lalu masuk ke yang tersembunyi: Bersihkan hatimu, latih kepasrahanmu, kuatkan tawakalmu.
Hingga engkau sampai pada satu keadaan agung: Ridha kepada Allah dalam segala hal.
Itulah Islam yang sejati.
Islam yang tidak hanya terlihat di tubuh,
tapi hidup di dalam hati dan mancar dalam kehidupan.
Doa Penutup
Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba-Mu yang benar-benar tunduk kepada-Mu,
yang membersihkan lahir dengan syariat, dan menyucikan batin dengan kepasrahan.
Karuniakan kepada kami hati yang ridha, jiwa yang tenang, dan iman yang kokoh. Aamiin.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)