TintaSiyasi.id -- Ramadhan identik dengan suasana damai, sebagian di antara kita kaum Muslim yang mulai sibuk menyiapkan hati untuk menyambut Ramadhan, masjid dan mushola mula ramai dan suasana menjadi lebih damai. Tapi bagi sebagian orang lain seperti saudara kita yang menjadi korban bencana di Sumatra, terutama wilayah Aceh, kenyataannya jauh dari itu. Saat orang lain bersiap menyambut bulan suci, mereka masih sibuk memikirkan tempat tinggal, listrik yang belum menyala, dan makanan untuk esok hari.
Dilansir dari ugm.ac.id (20/02/2026), setelah dua bulan dilanda bencana banjir dan tanah longsor, berdasarkan data dari Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, terdapat sebanyak 91.663 jiwa dari 24.280 kepala keluarga (KK) di Aceh masih bertahan di pengungsian. Kondisi ini menandakan bahwa Aceh belum pulih dari dampak bencana dan banyak masyarakat masih terjebak dalam tenda pengungsian hingga dua bulan lamanya.
Hingga detik ini ribuan warga masih bertahan di pengungsian karena hunian sementara yang masih belum rampung. Mereka belum bisa kembali bekerja sebab akses ekonomi rusak dan fasilitas belum pulih. Akhirnya, bantuan masyarakat menjadi tumpuan utama bagi mereka.
Kondisi ini membuat ketahanan pangan mereka rapuh, apalagi jika bantuan masyarakat lain terlambat. Situasi seperti ini merupakan hal yang urgent, terutama menjelang bulan yang bagi umat Muslim sangat sakral (bulan Ramadhan).
Di sisi lain, pemerintah sering kali menyampaikan bahwa berbagai program rekonstruksi sudah berjalan. Akan tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak warga yang belum merasakan dampaknya.
Kini jelas terlihat jurang antara laporan yang dibuat pemerintah dengan kenyataan yang ada di lapangan. Ini yang membuat masyarakat menilai bahwa negara belum benar-benar menjalankan perannya sebagai pengurus rakyat.
Memang benar bahwa bencana merupakan musibah alam, akan tetapi lambatnya pemulihan adalah bentuk ketidak seriusan negara perihal kebijakan.
Seperti saat ini, di mana pola kepemimpinan lebih disibukkan untuk menjaga citra daripada memastikan solusi, hasilnya memang sering terlihat rapi di atas kertas akan tetapi lambat terasa di kehidupan nyata. Penanganan pascabencana menjadi terkesan administratif dan data saja, di mana ada program, dan dipublikasikan, namun perubahan di lapangan berjalan pelan. Padahal korban bencana tidak butuh janji panjang, masyarakat butuh tindakan cepat.
Tidak kaget mengingat semua permasalahan termasuk kebijakan yang dibuat pemerintah tidak berorientasi untuk rakyat, sebab saat ini sistem kapitalisme (sistem berbasis keuntungan) masih digunakan. Sehingga kebijakan untuk mengatasi pascabencana lamban direalisasikan, meskipun mendekati bulan Ramadhan.
Ramadhan mestinya jadi pengingat bahwa empati bukan cuma urusan pribadi, tapi juga tanggung jawab bersama termasuk bagi pemegang kekuasaan. Sebab ukuran nyata keberpihakan bukan pada seberapa bagus pidato disampaikan, melainkan pada seberapa cepat penderitaan rakyat bisa diringankan.
Kalau rakyat masih berjuang sendirian saat musibah, berarti ada yang belum selesai dalam cara negara mengurus mereka. Pada akhirnya, bencana memang tak selalu bisa dicegah. Tapi penderitaan panjang setelahnya seharusnya bisa dipersingkat kalau penanganan dilakukan sungguh-sungguh. Ramadhan datang setiap tahun, tapi kesempatan menunjukkan kepedulian nyata tidak selalu datang dua kali.
Oleh sebab itu, penderita masyarakat harus segera diakhiri. Ada satu sistem yang bisa mengatasi seluruh problematika masyarakat tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia, sistem itu ialah sistem Islam dalam bingkai Negara Islamiah.
Negara Islam akan menerapkan aturan dari Allah secara menyeluruh (kaffah). Rakyat adalah amanah yang harus dijaga. Artinya, seperti wilayah bencana akan langsung menjadi prioritas negara. Semua sumber daya negara, difokuskan untuk mempercepat pemulihan sampai masyarakat benar-benar bisa hidup normal seperti sebelumnya.
Itulah Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam seperti dalam firman Allah SWT:
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya ayat 107).
Wallahu a'lam.[]
Dewi Rohmah, S.Pd.
(Aktivis Muslimah)