Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Peradaban Modern: Ketika Kemajuan Melahirkan Kerusakan

Selasa, 10 Februari 2026 | 13:32 WIB Last Updated 2026-02-10T06:33:08Z
TintaSiyasi.id -- Peradaban modern kerap membanggakan dirinya sebagai puncak sejarah manusia. Ilmu pengetahuan melesat, teknologi menjangkau batas imajinasi, dan kemakmuran dipromosikan sebagai ukuran keberhasilan. Namun di balik gemerlap itu, manusia modern justru mengalami kemiskinan makna, krisis akhlak, dan keterasingan ruhani yang semakin dalam.

Islam tidak menolak kemajuan. Yang dikritik Islam adalah kemajuan tanpa petunjuk, pembangunan tanpa adab, dan kekuasaan tanpa pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.,. 

Fasād: Diagnosis Al-Qur’an atas Peradaban Modern
Allah Swt., berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rūm: 41).

Ayat ini bukan sekadar peringatan ekologis, melainkan diagnosis ideologis. Kerusakan bukan terjadi karena kurangnya teknologi, melainkan karena lepasnya kehidupan dari nilai tauhid. Ketika manusia menuhankan akal, pasar, dan kekuasaan, maka kerusakan menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.

Peradaban modern menjadikan manusia pusat segalanya (anthropocentrism), sementara Islam menempatkan Allah sebagai pusat nilai (theocentrism). Dari sinilah arah sejarah berbelok.

Netralitas Nilai: Mitos Peradaban Sekuler

Salah satu kebohongan terbesar peradaban modern adalah klaim “netral nilai”. Negara sekuler mengaku tidak memihak agama, padahal sesungguhnya ia memihak hawa nafsu kolektif yang dilembagakan.

Ketika:

Kebebasan dilepaskan dari akhlak

Hak dipisahkan dari kewajiban

Ekonomi dipisahkan dari keadilan

maka kerusakan tidak lagi dianggap dosa, tetapi hak individu.

Islam menolak netralitas semu ini. Dalam Islam, setiap sistem pasti berpihak kepada kebenaran atau kepada kebatilan.

Manusia Modern: Merdeka secara Politik, Terjajah secara Ruhani

Manusia modern sering merasa bebas karena tidak terikat pada hukum Tuhan. Padahal, kebebasan itu justru menjadikannya budak baru: budak pasar, citra, dan hasrat.

Allah Swt., berfirman:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jāthiyah: 23).

Inilah ironi peradaban modern: membebaskan manusia dari wahyu, tetapi mengikatnya pada nafsu. Tubuh dimuliakan, jiwa diabaikan. Kecepatan diagungkan, ketenangan dilupakan.

Negara Modern: Penjaga Sistem, Bukan Penjaga Nilai

Negara modern bangga dengan efisiensi birokrasi dan stabilitas ekonomi, tetapi sering absen dari tanggung jawab moral. Selama pertumbuhan berjalan, kerusakan dianggap harga yang wajar.

Padahal dalam Islam, negara adalah rā‘in, penggembala amanah. Negara wajib mencegah kerusakan, bukan mengelolanya agar tampak legal.

Ketika negara:

Melegalkan riba demi stabilitas ekonomi

Membiarkan eksploitasi alam demi pembangunan

Menormalisasi degradasi akhlak demi kebebasan

maka negara sedang menginstitusionalisasi fasād.

Sufisme sebagai Kritik Batin Peradaban

Tasawuf bukan pelarian dari dunia, tetapi kritik terdalam terhadap peradaban yang kehilangan ruh. Para sufi mengingatkan bahwa kerusakan lahiriyah adalah refleksi dari kerusakan batin.

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu tanpa tazkiyah melahirkan kesombongan, dan kekuasaan tanpa ma‘rifat melahirkan kezaliman.

Peradaban modern mengasah akal, tetapi melalaikan qalb. Padahal, qalb adalah kompas peradaban.

Islam sebagai Proyek Peradaban Alternatif

Islam tidak hanya menawarkan ibadah personal, tetapi visi peradaban:

Tauhid sebagai fondasi

Keadilan sebagai sistem

Akhlak sebagai tujuan

Akhirat sebagai orientasi

Peradaban yang sehat bukan yang paling maju teknologinya, tetapi yang paling selamat ruhnya.

Penutup: Kembali kepada Adab

Krisis terbesar manusia modern bukan krisis energi atau pangan, melainkan krisis adab. Sebagaimana ditegaskan Syed Muhammad Naquib al-Attas, hilangnya adab adalah awal kehancuran peradaban.

Islam mengajak manusia untuk kembali:

Dari keserakahan menuju qana‘ah

Dari kesombongan menuju tawadhu‘

Dari kekosongan makna menuju ma‘rifat

Tanpa itu, kemajuan hanya akan mempercepat kehancuran.

“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.”
(QS. Al-Baqarah: 205)


Dr. Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update