TintaSiyasi.id -- Telaah Ideologis-Sufistik Pemikiran Surahwadi dan Ibnu Sina.
Pendahuluan: Pendidikan yang Kehilangan Arah
Salah satu krisis terbesar umat hari ini bukan semata krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis pendidikan. Pendidikan modern telah tereduksi menjadi pabrik ijazah, mesin kompetisi, dan alat mobilitas sosial. Ia berhasil melahirkan manusia cerdas secara teknis, tetapi gagal melahirkan manusia beradab.
Dalam perspektif Islam, pendidikan bukan proyek dunia semata, melainkan amanah peradaban. Pendidikan adalah jalan untuk mengantarkan manusia mengenal dirinya, Tuhannya, dan tugas kekhalifahannya. Di sinilah pemikiran Surahwadi dan Ibnu Sina menjadi cermin kritis sekaligus lentera ruhani bagi pendidikan Islam.
Pendidikan Menurut Surahwadi: Ilmu yang Dibingkai Adab
Surahwadi memandang pendidikan sebagai proses penanaman adab sebelum pengetahuan. Sebab ilmu tanpa adab tidak melahirkan kemajuan, tetapi justru kerusakan.
Dalam pandangan sufistik-ideologis, adab adalah:
rem bagi nafsu kekuasaan
penjaga ilmu dari kesombongan
fondasi lahirnya keadilan sosial.
Pendidikan menurut Surahwadi bukan sekadar ta‘līm, melainkan ta’dīb, yaitu pembentukan kesadaran etis dan ruhani. Inilah pendidikan yang:
menghubungkan ilmu dengan tanggung jawab,
mengikat kecerdasan dengan akhlak,
menautkan kemajuan dengan ketakwaan.
Ketika adab dihilangkan dari pendidikan, maka lahirlah generasi yang pandai menghitung tetapi tidak tahu batas, cerdas berbicara, tetapi miskin hikmah.
Ibnu Sina: Pendidikan sebagai Jalan Penyempurnaan Jiwa
Jika Surahwadi menekankan adab, maka Ibnu Sina memperdalam fondasi rasional pendidikan Islam. Bagi Ibnu Sina, manusia adalah makhluk bertingkat, dan pendidikan adalah proses menyempurnakan jiwa rasional agar manusia mencapai as-sa‘ādah, yaitu kebahagiaan sejati.
Ibnu Sina memandang bahwa:
akal adalah cahaya Ilahi dalam diri manusia,
ilmu adalah sarana mendekat kepada kebenaran,
pendidikan harus berjalan bertahap sesuai fitrah dan perkembangan jiwa.
Namun, Ibnu Sina tidak memisahkan akal dari ruh. Justru akal harus dituntun oleh nilai ilahiyah agar tidak berubah menjadi alat pembenaran hawa nafsu. Inilah kritik halus Ibnu Sina terhadap rasionalisme kering yang kini mendominasi dunia pendidikan modern.
Sintesis Ideologis-Sufistik: Ilmu yang Menyelamatkan
Surahwadi dan Ibnu Sina bertemu pada satu titik agung: Pendidikan adalah jalan penyelamatan manusia dan peradaban.
Surahwadi mengingatkan: ilmu tanpa adab adalah fitnah.
Ibnu Sina menegaskan: akal tanpa bimbingan nilai akan tersesat.
Dari sini lahir filsafat pendidikan Islam yang utuh:
Pendidikan yang membersihkan jiwa, mencerahkan akal,
dan meluruskan arah hidup manusia.
Inilah pendidikan yang melahirkan insan ‘ārif, cerdas berpikir, halus rasa, dan kuat tanggung jawab sosialnya.
Kritik terhadap Pendidikan Modern
Pendidikan modern hari ini cenderung:
memuja prestasi angka
menyingkirkan dimensi ruhani
dan menjadikan manusia sebagai komoditas pasar.
Akibatnya, kita menyaksikan lahirnya generasi yang terasing dari makna hidup. Mereka tahu banyak hal, tetapi tidak tahu untuk apa hidup dijalani.
Dalam perspektif ideologis Islam, pendidikan seperti ini bukan kemajuan, melainkan kemunduran beradab.
Relevansi bagi Pendidikan Islam Hari Ini
Pemikiran Surahwadi dan Ibnu Sina mengajarkan bahwa pendidikan Islam harus:
1. Berbasis tauhid, bukan sekadar kompetensi,
2. Mengintegrasikan ilmu, iman, dan amal,
3. Melahirkan manusia yang siap memikul amanah peradaban.
Pendidikan Islam bukan hanya mencetak pekerja, tetapi membentuk hamba yang sadar akan tugas kekhalifahan.
Penutup: Pendidikan sebagai Jalan Pulang
Dalam perspektif sufistik, pendidikan sejati adalah jalan pulang manusia kepada fitrahnya. Ia mengajarkan bahwa ilmu bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengabdi kepada sesama.
Ilmu yang tidak membawa kepada ketundukan, hanyalah beban intelektual.
Surahwadi dan Ibnu Sina telah mengingatkan kita:
pendidikan adalah ibadah
ilmu adalah amanah
dan peradaban hanya akan tegak di atas adab.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo