Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Perebutan Kekuasaan di Sudan: Kepentingan Asing Berkelindan, Rakyat Jadi Korban

Selasa, 03 November 2026 | 12:37 WIB Last Updated 2026-11-03T05:37:10Z


TintaSiyasi.id — Sudan memiliki kekayaan alam melimpah dan posisi geografis strategis. Namun, negeri itu justru dilanda perang berkepanjangan. Dua kekuatan bersenjata saling memperebutkan kekuasaan, sementara sejumlah negara ikut bermain dengan kepentingannya masing-masing. Rakyat Sudan pun harus menanggung akibatnya: kehilangan rumah, kelaparan, mengungsi, bahkan kehilangan nyawa.

 

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan pada 28 Oktober 2026 bahwa 33,7 juta orang di Sudan membutuhkan bantuan kemanusiaan. Program Pangan Dunia (WFP) mencatat sekitar 19,5 juta orang mengalami kerawanan pangan akut, sementara 9 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Situasi semakin mengkhawatirkan karena kekeringan akibat El Niño memperburuk dampak perang dan meningkatkan risiko kelaparan di sejumlah wilayah.

 

Perang yang pecah sejak April 2023 itu memperhadapkan tentara Sudan (Sudan Armed Forces/SAF) dengan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Konflik ini bukan semata-mata pertikaian dalam negeri. Ada kepentingan regional dan kekuatan besar yang berkelindan di belakangnya.

 

Pengamat Hubungan Internasional Hasbi Aswar, Ph.D., dalam wawancara dengan penulis untuk tabloid Media Umat edisi 393 (pertengahan November 2025), menyebut konflik Sudan sebagai perang saudara yang berdimensi internasional. Berbagai negara mendukung faksi yang bertikai, sedangkan rakyat menjadi korban.

 

Perebutan Kekuasaan

 

SAF dipimpin Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, sedangkan RSF dipimpin Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti. Ironisnya, keduanya pernah menjadi sekutu. Pada April 2019, kedua kekuatan militer itu berkolaborasi menggulingkan Presiden Omar al-Bashir. Dua tahun kemudian, tepatnya 25 Oktober 2021, al-Burhan dan Hemedti kembali bersekutu dalam kudeta yang menggulingkan pemerintahan transisi dan menahan Perdana Menteri Abdallah Hamdok.

 

Hubungan itu retak ketika al-Burhan meminta RSF melebur ke dalam angkatan bersenjata resmi. Hemedti menolak. Perselisihan tersebut kemudian meledak menjadi perang terbuka pada 2023.

 

RSF juga bukan kelompok bersenjata yang baru muncul. Kelompok ini berakar pada milisi Janjaweed yang terbentuk pada 2003 dan dikenal karena pembantaian terhadap kelompok etnis non-Arab di Sudan. Dalam perang terbaru, kekerasannya juga menyasar masyarakat yang memiliki hubungan dengan SAF.

 

Menurut Hasbi, RSF menggunakan teror untuk menundukkan masyarakat agar menerima kekuasaannya. Kekerasan terhadap warga sipil memperlihatkan betapa mahalnya harga perebutan kekuasaan. Padahal, Rasulullah saw. mengingatkan bahwa pemimpin adalah pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Perebutan Pengaruh

 

Menurut Hasbi, RSF mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab (UEA), Sudan Selatan, Chad, Libya, dan Israel. Adapun SAF didukung Qatar, Arab Saudi, Turki, Iran, dan Mesir.

 

Hasbi menyebut UEA sebagai pemasok senjata bagi RSF sekaligus pengimpor emas Sudan hasil penyelundupan. UEA juga memfasilitasi pertemuan pihak Israel dan Sudan melalui Hemedti sejak 2019 untuk mendorong normalisasi hubungan kedua negara.

 

Hasbi juga menjelaskan bahwa Israel memiliki jejak keterlibatan lebih panjang. Sejak Sudan merdeka pada 1956, Israel telah mendukung dan memfasilitasi kelompok pemberontak di Sudan Selatan. Dukungan itu berlanjut melalui SPLA/M (Tentara/Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan), yang perjuangannya berujung pada pemisahan Sudan Selatan dan kemerdekaannya pada 2011.

 

Di kubu SAF, Mesir berkepentingan menjaga kerja sama dengan Sudan terkait Sungai Nil, sedangkan Arab Saudi memiliki kepentingan di kawasan Laut Merah. Qatar, Turki, dan Iran juga termasuk negara yang menurut Hasbi mendukung SAF.

 

Menurut Hasbi, Rusia memainkan peran ganda: mendukung pemerintahan SAF sekaligus RSF melalui kelompok Wagner. Ia juga menyebut China, bersama AS dan Rusia, memiliki ketertarikan terhadap Sudan karena kekayaan sumber daya alam dan posisi geografisnya yang strategis.

 

Peta dukungan ini menunjukkan bahwa perang Sudan telah menjadi arena perebutan pengaruh. Kepentingannya mencakup emas, jalur perdagangan Laut Merah, dan posisi strategis di kawasan Tanduk Afrika. Ketika negara-negara luar maupun sesama negara Muslim terus mendukung faksi masing-masing, rakyat Sudan semakin sulit keluar dari perang.

 

Manuver Washington

 

Amerika Serikat (AS) tampak netral dengan menonjolkan bantuan kemanusiaan dan mediasi. Namun, Hasbi menilai AS dapat memainkan pengaruhnya melalui UEA dan Israel yang membantu RSF dengan dukungan logistik untuk menghadapi SAF.

 

Hasbi mengaitkan penilaian itu dengan sejarah dukungan AS dan Israel terhadap gerakan separatis Sudan Selatan. Menurutnya, Israel dan UEA tidak mungkin bergerak sendiri tanpa persetujuan AS, mengingat keduanya merupakan sekutu dekat Washington dan AS menjadi pemasok senjata utama bagi mereka.

 

Sudan memang bernilai strategis bagi AS. Negeri ini kaya sumber daya alam, terutama emas, berbatasan dengan Laut Merah sebagai jalur perdagangan penting, serta berada di kawasan Tanduk Afrika yang menjadi pintu masuk menuju negara-negara Afrika lainnya.

 

Hasbi juga menjelaskan bahwa Sudan pernah menjadi jalur pengiriman bantuan persenjataan bagi kelompok perlawanan di Gaza. Logistik itu, menurutnya, dikirim melalui Sudan menuju Gunung Sinai untuk masuk ke Palestina atau melalui terowongan di perbatasan Mesir–Palestina.

 

Pada 2020, pemerintahan Donald Trump mendorong Sudan menormalisasi hubungan dengan Israel. Hasbi mengaitkan langkah tersebut dengan kepentingan agar Sudan lebih aman bagi eksistensi Israel.

 

Hasbi menilai UEA berperan besar dalam menjalankan kepentingan AS di Sudan. Kedekatannya dengan Hemedti dan perannya memfasilitasi normalisasi Sudan–Israel memperlihatkan bagaimana kepentingan Washington dapat dijalankan melalui sekutu regionalnya.

 

Manuver AS juga terlihat dalam proposal gencatan senjata nasional selama 90 hari yang diajukan utusan khusus Trump, Massad Boulos, pada 20 Juni 2026. Proposal tersebut dimaksudkan untuk membuka jalur bantuan kemanusiaan, dilanjutkan dengan perundingan gencatan senjata permanen dan transisi pemerintahan sipil.

 

Namun, proposal itu mendapat kritik dari Hizbut Tahrir Wilayah Sudan. Dalam pernyataan 24 Oktober 2026, mereka menilai rencana tersebut berpotensi mempertahankan RSF sebagai entitas politik dan militer, sekaligus mengukuhkan penguasaannya atas Darfur. Kondisi itu dikhawatirkan membuka jalan bagi pemerintahan paralel dan pemisahan Darfur dari Sudan.

 

Negeri Muslim

 

Keterlibatan negara-negara Muslim dalam konflik Sudan memperlihatkan lemahnya kesatuan politik umat. Mesir, Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Iran disebut mendukung SAF, sedangkan UEA mendukung RSF. Dukungan berdasarkan kepentingan masing-masing justru membuat negeri Muslim menjadi arena persaingan dan memperpanjang penderitaan rakyat.

 

Hasbi menilai pihak-pihak yang bertikai sebenarnya menyadari bahwa mereka dapat dimanfaatkan dan diadu domba oleh kekuatan luar untuk menguasai sumber daya serta posisi strategis Sudan. Namun, perang yang telanjur berlangsung membuat mereka bertindak pragmatis demi kepentingan masing-masing.

 

Masyarakat Sudan menjadi pihak yang paling dirugikan. Mereka saling berhadapan dan kehilangan kehidupan, sementara pihak luar berpeluang menikmati keuntungan dari sumber daya alam negeri itu. Hasbi juga menilai PBB gagal mengambil tindakan efektif untuk menghentikan perang dan pembantaian.

 

Inilah bahaya ketika hubungan antarnegara Muslim lebih ditentukan oleh kepentingan negara bangsa (nation state) daripada persaudaraan dan tanggung jawab bersama. Perpecahan membuka ruang bagi kekuatan luar seperti AS, Rusia, dan Cina untuk memperluas pengaruh.

 

Solusi Sistemik

 

Konflik Sudan menunjukkan bahwa perpecahan politik di negeri-negeri Muslim membuka jalan bagi kekuatan luar untuk menanamkan pengaruh dan mengeksploitasi sumber daya alam. Ketika setiap negara lebih mengutamakan kepentingan nasionalnya, persatuan umat dan perlindungan terhadap sesama Muslim mudah dikalahkan oleh kalkulasi politik.

 

Persoalan ini membutuhkan solusi sistemik, yakni menyatukan kaum Muslim dalam satu kepemimpinan politik, Khilafah. Islam sebagai mabda’ (ideologi) memiliki akidah sekaligus sistem aturan untuk mengatur kehidupan.


Islam juga menetapkan thariqah (metode) untuk mewujudkan dan menerapkan aturan tersebut.


Dalam kehidupan bernegara, Khilafah merupakan sistem pemerintahan Islam yang menjadi kepemimpinan umum bagi kaum Muslim dan menerapkan syariat secara kaffah.

 

Dengan kesatuan politik, kekayaan alam dan kekuatan militer umat dapat dikelola untuk melindungi rakyat serta menjaga kepentingan umat, bukan menjadi rebutan faksi atau sasaran intervensi negara lain.

 

Konflik Sudan menjadi pelajaran bahwa kekayaan alam dan kekuatan militer tidak cukup untuk melindungi rakyat jika sistem politiknya membuka jalan bagi perpecahan dan campur tangan pihak luar. Selama negeri-negeri Muslim terpecah dalam negara-negara bangsa dengan kepentingan masing-masing, mereka akan mudah menjadi arena perebutan pengaruh.

 

Karena itu, umat membutuhkan kesatuan politik yang kokoh, kepemimpinan yang bertanggung jawab, dan penerapan syariat Islam secara kaffah. Jangan sampai kekayaan negeri Muslim terus diperebutkan, sementara rakyatnya sendiri menjadi korban.[]

 

Depok, 22 Jumadil Awal 1448 H | 2 November 2026 M
— Joko Prasetyo | Jurnalis

 

 

Opini

×
Berita Terbaru Update