Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

HILMI: Demokrasi Menyimpan Cacat Epistemologi yang Nyata

Sabtu, 07 November 2026 | 14:22 WIB Last Updated 2026-11-07T07:22:28Z

TintaSiyasi.id — Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa doktrin filosofis kedaulatan rakyat dalam sistem demokrasi menyimpan cacat epistemologis yang nyata karena menyamakan jumlah agregasi suara terbanyak dengan ukuran kebenaran moral dan keadilan hukum.

 

“Doktrin filosofis kedaulatan rakyat dalam sistem demokrasi menyimpan cacat epistemologis yang nyata karena menyamakan jumlah agregasi suara terbanyak dengan ukuran kebenaran moral dan keadilan hukum.,” tutur HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

“Jika seribu orang sepakat menyatakan dua ditambah dua sama dengan lima, kebenaran matematika tidak pernah berubah; demikian pula ketika parlemen mengesahkan aturan yang menyimpang, legalitas prosedural tidak serta-merta mengubah kezaliman menjadi keadilan,” tandas HILMI, Senin (02/11/2026).

 

“Secara praktis, negara demokratis sendiri membatasi kekuasaan parlemen dengan konstitusi dan mahkamah karena sadar adanya bahaya tirani mayoritas (tyranny of the majority),” paparnya dalam rilis Letter to Intellectuals No. 035 bertajuk Demokrasi dan Paradoks Kedaulatan: Ketika Suara Mayoritas Menjadi Ukuran Kebenaran.

 

Sebaliknya, HILMI menyoroti bahwa mekanisme pemilihan umum (one person, one vote) hanya mengukur preferensi politik sesaat yang sarat ketidaktahuan (political ignorance), bukan menguji pengetahuan dan kompetensi.

 

“Kemenangan elektoral di bilik suara sering kali dibeli melalui propaganda emosional, manipulasi citra, dan politik uang, bukan karena keunggulan gagasan,” lugas HILMI membongkar paradoks internal sistem demokrasi modern.

 

Lanjut dikatakaan, kondisi tersebut kian parah tatkala demokrasi kawin silang dengan ketimpangan ekonomi kapitalistik, sehingga bermutasi menjadi oligarki elektoral.

 

“Secara prosedural setiap warga memang memiliki satu suara, tetapi para pemilik modal, konglomerat media, dan pemodal kampanye memiliki daya beli untuk mengendalikan jutaan suara rakyat,” keluhnya.

 

Selain itu, HILMI mengkritik jebakan siklus pemilu lima tahunan yang memaksa politisi mengambil kebijakan populis jangka pendek dan mewariskan tumpukan utang kepada generasi mendatang yang belum lahir.

 

Oleh karena itu, HILMI mengingatkan masyarakat agar tidak lagi memuja kotak suara sebagai berhala pembuat hukum.

 

“Prosedur pemilu sekadar menentukan siapa yang memangku jabatan, tetapi tidak pernah menyediakan standar untuk menilai apakah substansi kebijakan itu benar atau zalim,” urai HILMI.

 

“Mempertahankan ilusi kedaulatan rakyat hanya akan melanggengkan hegemoni kaum oligarki yang terus membajak kekuasaan demi kepentingan materi mereka,” tandasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update