Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Yogyakarta: Kota Budaya dan Jejak Kesultanan Islam

Kamis, 02 Juli 2026 | 12:55 WIB Last Updated 2026-07-02T05:55:57Z

TintaSiyasi.id --
Yogyakarta: Kota Budaya dan Jejak Kesultanan Islam.

Merawat Warisan Sejarah, Meneguhkan Peradaban Umat.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd : 11)

Di antara sekian banyak kota yang menjadi saksi perjalanan sejarah bangsa Indonesia, Yogyakarta memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Kota ini tidak hanya dikenal sebagai Kota Pelajar atau Kota Budaya, tetapi juga sebagai salah satu pusat berkembangnya peradaban Islam di Nusantara. Di tanah inilah nilai-nilai Islam berpadu dengan kearifan budaya, melahirkan sebuah peradaban yang santun, berilmu, dan berakhlak.

Sejarah mengajarkan bahwa sebuah kota menjadi besar bukan semata-mata karena luas wilayahnya atau megah bangunannya, melainkan karena kualitas manusia yang hidup di dalamnya. Ketika ilmu dihormati, ulama dimuliakan, budaya dijaga, dan agama dijadikan pedoman hidup, maka lahirlah sebuah masyarakat yang kokoh dan berkeadaban.

Kesultanan Islam dan Semangat Membangun Peradaban

Lahirnya Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1755 merupakan salah satu babak penting dalam sejarah Islam di Jawa. Kesultanan tidak hanya menjalankan fungsi pemerintahan, tetapi juga memikul amanah sebagai penjaga agama, pelindung rakyat, pengembang pendidikan, dan pemelihara kebudayaan.

Para sultan menyadari bahwa kekuasaan hanyalah amanah dari Allah SWT. Oleh karena itu, kepemimpinan tidak boleh dibangun atas kesombongan, melainkan atas keadilan, kebijaksanaan, dan pelayanan kepada masyarakat. Dari lahirlah tradisi kepemimpinan yang menghargai ilmu, mengayomi rakyat, serta menjaga keharmonisan antara agama dan kehidupan sosial.

Pelajaran besar yang dapat dipetik adalah bahwa peradaban tidak dibangun dengan kekuatan senjata semata, tetapi dengan kekuatan ilmu, akhlak, dan keteladanan.

Islam yang Membimbing Budaya

Islam hadir di Nusantara bukan untuk menghapus seluruh tradisi masyarakat, melainkan untuk meluruskan, menyucikan, dan mengarahkannya kepada nilai-nilai tauhid. Budaya yang selaras dengan syariat dipelihara sebagai sarana membangun karakter masyarakat yang beradab.

Yogyakarta menjadi contoh bagaimana agama dan budaya dapat berjalan beriringan. Nilai kesopanan, penghormatan kepada orang tua, gotong royong, cinta ilmu, serta penghargaan terhadap sesama merupakan nilai-nilai yang sejalan dengan ajaran Islam.

Inilah wajah Islam yang membawa rahmat: tidak memutus akar budaya yang baik, tetapi menjadi media dakwah dan pembentukan akhlak mulia.

Masjid sebagai Pusat Perubahan

Dalam sejarah Islam, masjid bukan sekadar tempat melaksanakan salat. Masjid adalah pusat pendidikan, pembinaan umat, musyawarah, penyelesaian persoalan masyarakat, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Ketika masjid hidup dengan kajian ilmu, pembinaan akhlak, dan semangat persaudaraan, masyarakat akan tumbuh menjadi masyarakat yang kuat. Sebaliknya, apabila masjid hanya ramai pada waktu-waktu tertentu tanpa menjadi pusat pelatihan umat, maka salah satu pilar peradaban akan melemah.

Oleh karena itu, kebangkitan umat selalu dimulai dari kebangkitan ilmu dan kemakmuran masjid.

Kota Ilmu Melahirkan Generasi Berkualitas

Yogyakarta dikenal sebagai tujuan para pencari ilmu dari seluruh Indonesia. Ribuan pelajar dan mahasiswa datang dengan harapan membangun masa depan yang lebih baik.

Namun, ilmu tanpa iman dapat melahirkan kesombongan. Sebaliknya, semangat beragama tanpa ilmu dapat melahirkan sikap yang sempit. Islam mengajarkan keseimbangan antara keduanya sehingga lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, dan luhur dalam akhlaknya.

Inilah generasi yang membutuhkan bangsa: generasi yang mampu bersaing dalam ilmu pengetahuan tanpa kehilangan identitas keislaman dan kecintaan kepada tanah air.

Inspirasi bagi Indonesia

Bangsa yang besar tidak pernah melupakan sejarahnya. Umat ​​yang kuat tidak pernah memutus hubungan dengan warisan para ulama dan pendahulunya. Dari Yogyakarta, kita belajar bahwa kesuksesan lahir ketika agama menjadi sumber nilai, ilmu menjadi cahaya kehidupan, budaya menjadi perekat persaudaraan, dan kepemimpinan dijalankan sebagai amanah.

Di tengah derasnya arus globalisasi, kemajuan teknologi, dan perubahan zaman, kita membutuhkan lebih banyak manusia yang tidak hanya pandai berpikir, tetapi juga membersihkan hati; tidak hanya mampu membangun ekonomi, tetapi juga membangun moral; tidak hanya mengejar kemajuan dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal menuju akhirat.

Yogyakarta telah menunjukkan bahwa kemajuan dan tradisi tidak harus saling meniadakan. Agama dan budaya dapat saling memperkuat. Ilmu dan akhlak dapat tumbuh bersama. Kepemimpinan dan pengabdian dapat berjalan seiring.

Semoga semangat peradaban Islam yang tumbuh di Yogyakarta terus menginspirasi seluruh anak bangsa untuk membangun Indonesia yang maju, berkeadilan, berbudaya, dan diberkahi Allah SWT. Sebab, kejayaan suatu negeri tidak hanya diukur dari tingginya gedung-gedung atau besarnya kekayaan, tetapi dari kokohnya iman, luasnya ilmu, dan mulianya akhlak masyarakatnya.

“Membangun peradaban bukan sekedar mewariskan sejarah, namun melanjutkan perjuangan dengan ilmu, amal saleh, dan akhlak yang mulia.”

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa. Jogjakarta 26 Juni 2026, The Alana Hotel Malioboro Jogjakarta

Opini

×
Berita Terbaru Update