Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pemimpin yang Wafat Tidak Lagi Mengawasi, Sebaliknya Akan Dihisab

Rabu, 01 Juli 2026 | 18:21 WIB Last Updated 2026-07-01T11:21:08Z

TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menyatakan pemimpin yang wafat tidak lagi akan mengawasi, sebaliknya akan dihisab.

 

"Tidak ada manusia yang setelah wafat tetap mengendalikan jalannya pemerintahan dunia. Yang ada adalah alam kubur, hisab, dan pertanggungjawaban atas seluruh amanah yang pernah diemban selama hidup,” tegasnya kepada TintaSiyasi.ID, Rabu (13/06/ 2026).

 

Menurut Joko, persoalan utama bagi seorang pemimpin bukanlah terus dikenang atau memantau perjalanan negara selepas kematian, tetapi ada amal dan tanggung jawabnya dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt..

 

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya,” tekannya sembari memetik hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

 

Joko menjelaskan bahawa tidak ada sesuatu pun yang luput dari hisab Allah. “Pada hari kiamat kelak tidak ada jabatan, protokoler, pengawal, pencitraan, maupun kekuatan politik yang dapat menyelamatkan seseorang dari pertanyaan Allah Swt., tegasnya”

 

“Islam tidak pernah mengajarkan kultus individu” tegasnya lagi.

 

Ia turut menyatakan kelangsungan sebuah masyarakat yang tidak seharusnya disandarkan kepada individu tertentu, karena setiap manusia akhirnya akan meninggalkan dunia.

 

“Islam tidak menggantungkan pengawasan pada satu orang. Itulah letak perbedaan mendasar antara Islam dan banyak sistem politik hari ini,” katanya.

 

Joko menyebutkan bahwa pengawasan dalam Islam tidak bergantung kepada individu tertentu, sebaliknya disokong oleh sistem yang terus berfungsi walaupun berlaku pertukaran kepimpinan.

 

Tiga Pilar Pengawasan

 

Joko mengungkapkan, “Ada tiga pilar pengawasan dalam Islam. Pertama, individu yang bertakwa yang sentiasa merasakan dirinya diawasi Allah Swt.,” sebutnya

 

“Inilah pengawasan paling kuat. Bukan kamera, bukan algoritma, bukan atasan. Melainkan keyakinan bahwa Allah Swt. Maha Melihat segala sesuatu,” bebernya.

 

Kedua, kontrol dari masyarakat dengan melaksanakan amar makruf nahi mungkar.

 

“Umat tidak sekadar berhak, tetapi wajib melakukan muhasabah lil hukkam yaitu mengoreksi, menasihati, dan mengawasi para penguasa ketika terjadi penyimpangan dari syariat maupun kezaliman terhadap rakyat,” urainya.

 

Ketiga, peran negara menerapkan syariat secara menyeluruh.

 

“Khilafah tidak sekadar menjadi penonton yang menunggu masyarakat berbuat baik sendiri. Negara menerapkan syariat Islam secara kaffah. Negara mengedukasi rakyat dengan Islam agar bertakw,” bebernya.

 

Joko kemudian menegaskan bahawa ukuran kejayaan seorang pemimpin dalam Islam bukan terletak pada sejauh mana namanya terus dikenang selepas kematian, tetapi pada keadilan, Amanah, dan amal yang ditinggalkan untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt..

 

“Yang paling penting adalah apa yang ia tinggalkan di hadapan Allah Swt.. Apakah ia meninggalkan keadilan atau kezaliman. Apakah ia meninggalkan syariat atau sekadar slogan. Apakah ia menjaga amanah umat atau justru menyia-nyiakannya,” pungkasnya.[] Aliya Ab Aziz

Opini

×
Berita Terbaru Update