Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mengikuti Rasulullah saw: Jalan Menuju Cinta Allah

Kamis, 02 Juli 2026 | 12:53 WIB Last Updated 2026-07-02T05:53:32Z
TintaSiyasi.id -- Sebuah Renungan Dakwah Ideologis-Sufistik

“Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah menyayangi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali 'Imran : 31).

Pendahuluan
Cinta kepada Allah bukan sekadar pengakuan lisan, bukan pula sekadar getaran hati yang sesaat. Cinta sejati kepada Allah memiliki bukti nyata, yaitu mengikuti Rasulullah ﷺ dalam seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya mengucapkan, “Aku mencintai Allah.” Ia harus membuktikan cintanya dengan menaati Nabi Muhammad ﷺ.
Inilah Hakikat Islam. Tidak ada jalan menuju ridha Allah selain melalui jalan yang telah dilalui oleh Rasulullah ﷺ. Semua jalan yang menyelisihi sunnah beliau, walaupun tampak indah menurut akal manusia, tetap tidak akan mengantarkan kepada keridaan Allah.

Mengikuti Rasulullah Adalah Perintah Allah
Allah Ta'ala berfirman:
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." (QS. Al-Hasyr : 7).
Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ bukan hanya penyampai wahyu, tetapi juga pemimpin umat yang wajib ditaati. Setiap perintah beliau adalah petunjuk, sedangkan setiap larangan beliau adalah penjaga keselamatan.
Orang yang memilih ajaran lain di atas sunnah Rasul sebenarnya sedang buruk keselamatan agamanya.

Bahaya Menyelisihi Sunnah
Allah mengingatkan:
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nur : 63).
Para ulama menjelaskan bahwa fitnah yang dimaksud bukan hanya musibah lahiriah, tetapi juga penyimpangan hati. Betapa banyak orang yang awalnya meremehkan satu sunnah, kemudian sedikit demi sedikit kehilangan kecintaan pada agama, bahkan terjatuh dalam keraguan.
Hati yang tidak tunduk kepada Rasul akan mudah tunduk pada hawa nafsu.

Penyesalan yang Tidak Lagi Berguna
Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang mengabaikan Rasulullah ﷺ pada Hari Kiamat.
Mereka berkata: “Alangkah baiknya sekiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat kepada Rasul.” (QS. Al-Ahzab : 66).

Namun penyesalan di akhirat tidak lagi memiliki nilai. Kesempatan taat hanya ada di dunia. Hari ini adalah waktu untuk memilih: mengikuti Rasul atau mengikuti hawa nafsu.
Rasulullah ﷺ Sebagai Teladan Sempurna
Allah berfirman: “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS.Al-Ahzab : 21).
Beliau adalah teladan dalam ibadah, akhlak, kepemimpinan, keluarga, perdagangan, perjuangan, kesabaran, hingga cara menghadapi musuh dan sahabat.
Tidak ada satu sisi kehidupan pun yang tidak diberi contoh oleh Rasulullah ﷺ.

Iman Menuntut Ketundukan Total
Allah menegaskan: “Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap keputusanmu dan mereka menerima dengan sepenuh hati.” (QS. An-Nisa' : 65).

Ayat ini menunjukkan bahwa iman memiliki tiga tingkatan:
1. Menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai hakim dalam seluruh persoalan.
2. Tidak menyimpan sedikit keberatan pun terhadap keputusan beliau.
3. Menerima dengan penuh kerelaan dan ketundukan.
Ketiga-tiganya harus hadir agar iman menjadi sempurna.

Dimensi Sufistik: mengikuti Nabi dengan Cinta
Kaum sufi sejati memahami bahwa mengikuti Rasulullah ﷺ bukan hanya meniru gerakan lahiriah, tetapi juga meneladani keadaan batin beliau.
Mengikuti sunnah berarti:
• membersihkan hati dari riya',
• mengucapkan banyak syukur,
• memperhalus akhlak,
• memperbanyak dzikir,
• memperkuat tawakal,
• memperdalam keikhlasan,
• memperluas kasih sayang kepada sesama.
Semakin seseorang menyerupai akhlak Rasulullah ﷺ, semakin dekat ia kepada Allah.

Jangan Mendahulukan Pendapat Manusia
Seorang mukmin tidak boleh menolak hadis yang sahih hanya karena bertentangan dengan adat, budaya, tokoh, atau pendapat manusia.
Prinsip para ulama Ahlus Sunnah adalah:
Sunnah menjadi hakim atas seluruh pendapat manusia, sedangkan tidak ada seorangpun yang berhak menjadi hakim atas sunnah.
Karena manusia bisa salah mengira, tetapi Rasulullah ﷺ dibimbing oleh wahyu.

Penutup
Mencintai Allah memiliki harga yang harus dibayar, yaitu mengikuti Rasulullah ﷺ dengan penuh ketundukan. Tidak cukup memperingati beliau, tidak cukup memperingati kelahiran beliau, dan tidak cukup bershalawat tanpa mengamalkan ajaran beliau.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Rasulullah ﷺ, menghidupkan sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari, serta diwafatkan dalam keadaan istiqamah di atas petunjuknya.

Ya Allah, tanamkanlah kecintaan kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu di dalam hati kami. Jadikanlah sunnah Rasulullah ﷺ sebagai cahaya kehidupan kami, pemimpin langkah kami, penyejuk hati kami, dan sebab keselamatan kami di dunia, di alam kubur, dan di akhirat. Aamiin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)

Opini

×
Berita Terbaru Update