Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Engkau Tak Akan Pernah Mampu Menyenangkan Semua Orang

Minggu, 05 Juli 2026 | 12:52 WIB Last Updated 2026-07-05T06:24:24Z
TintaSiyasi.id -- Maka Perbaikilah Hubunganmu dengan Allah, Bukan Sibuk Mengejar Penilaian Manusia

"Ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai, sedangkan ridha Allah adalah tujuan yang akan menyelamatkan dunia dan akhirat."

Di zaman media sosial, manusia semakin haus akan pengakuan. Ukuran kebahagiaan sering kali ditentukan oleh jumlah pengikut, tanda suka, pujian, jabatan, dan popularitas. Tidak sedikit orang rela mengorbankan prinsip, harga diri, bahkan agamanya hanya agar diterima oleh manusia.

Padahal, kenyataan hidup mengajarkan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menyenangkan semua orang.

Nabi, para rasul, para sahabat, para ulama, bahkan orang-orang saleh sekalipun tidak pernah luput dari caci maki, fitnah, dan kebencian. Jika manusia terbaik sepanjang sejarah saja tetap memiliki penentang, bagaimana mungkin kita berharap seluruh manusia akan menyukai kita?

Ridha Allah Adalah Tujuan Seorang Mukmin

Seorang mukmin tidak hidup untuk mencari tepuk tangan manusia. Ia hidup untuk memenuhi amanah Allah sebagai hamba dan khalifah di muka bumi.

Allah SWT berfirman: "Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama." (QS. Al-Bayyinah: 5).

Keikhlasan adalah ruh seluruh amal. Amal yang besar akan menjadi kecil bila dikerjakan demi pujian manusia. Sebaliknya, amal yang tampak sederhana akan bernilai sangat agung jika dilakukan semata-mata karena Allah.

Oleh karena itu, orang yang mengenal Allah tidak akan menjadikan manusia sebagai pusat kehidupannya. Ia hanya menjadikan Allah sebagai tujuan, tempat bergantung, dan sumber ketenangan.

Penyakit Bernama Riya' dan Ketergantungan kepada Penilaian Manusia

Salah satu penyakit hati paling berbahaya adalah terlalu menggantungkan harga diri kepada penilaian manusia.

Hari ini dipuji, ia melambung tinggi.

Besok dicela, ia hancur berkeping-keping.

Mengapa?

Karena pusat kebahagiaannya bukan Allah, tetapi manusia.

Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa ketergantungan kepada makhluk adalah bentuk kemiskinan jiwa. Sebaliknya, ketergantungan kepada Allah adalah kekayaan hati.

Ketika hati telah dipenuhi makrifat kepada Allah, pujian tidak membuatnya sombong dan celaan tidak membuatnya putus asa.

Jalan Orang-Orang yang Dicintai Allah

Orang-orang yang dicintai Allah selalu menjaga hubungan dengan Rabb-nya sebelum menjaga citra di hadapan manusia.

Mereka lebih banyak memperbaiki:

- shalat daripada pencitraan,
- akhlak daripada penampilan,
- keikhlasan daripada popularitas,
- ilmu daripada sensasi,
- amal daripada pencitraan digital.

Mereka yakin bahwa hati manusia berada dalam genggaman Allah. Jika Allah meridhai seorang hamba, Allah mampu membukakan hati manusia untuk mencintainya tanpa harus meminta-minta penghargaan.

Ujian Pujian Lebih Berat daripada Ujian Celaan

Sebagian orang mampu bersabar ketika dihina, tetapi tidak sedikit yang justru hancur ketika dipuji.

Pujian dapat menumbuhkan kesombongan, ujub, merasa paling benar, dan lupa bahwa semua kelebihan hanyalah titipan Allah.

Karena itu para salaf sering berdoa:

"Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena pujian mereka. Ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui. Jadikanlah aku lebih baik daripada sangkaan mereka."

Doa ini menunjukkan bahwa orang beriman lebih takut kepada murka Allah daripada kehilangan pujian manusia.

Dakwah Bukan Mencari Popularitas

Dalam perjuangan dakwah, seorang dai, guru, pemimpin, maupun aktivis Islam akan selalu menghadapi kritik, fitnah, dan penolakan.

Selama dakwah berada di atas Al-Qur'an dan Sunnah dengan hikmah, kesabaran, dan akhlak mulia, maka jangan berhenti hanya karena cibiran.

Rasulullah ﷺ sendiri dicaci sebagai penyair, penyihir, bahkan pendusta. Namun beliau tetap istikamah karena tujuan beliau adalah menyampaikan risalah Allah, bukan mencari popularitas.

Dakwah yang benar bertujuan mengajak manusia kepada Allah, bukan mengajak manusia mengagungkan pribadi sang dai.

Tasawuf Mengajarkan Kemerdekaan Jiwa

Hakikat tasawuf adalah membebaskan hati dari penghambaan kepada selain Allah.

Orang yang benar-benar merdeka bukanlah yang memiliki kekayaan melimpah, melainkan yang tidak diperbudak oleh pujian, jabatan, harta, maupun sanjungan manusia.

Ketika hati telah mengenal Allah, ia akan berkata:

"Jika Allah bersamaku, apa yang perlu kutakutkan? Dan jika Allah murka kepadaku, apa manfaat pujian seluruh manusia?"

Inilah maqam tawakal, ikhlas, ridha, dan makrifat yang menjadi cita-cita para pencari jalan menuju Allah.

Jadilah Hamba Allah, Bukan Budak Penilaian Manusia

Hidup terlalu singkat jika dihabiskan untuk mengejar pengakuan yang tidak pernah selesai.

Hari ini seseorang memuji kita.

Besok orang yang sama mungkin mencela.

Hari ini kita dianggap benar.

Esok kita dianggap salah.

Begitulah tabiat manusia.

Namun Allah Maha Mengetahui isi hati, niat, perjuangan, dan air mata hamba-Nya. Tidak ada satu pun amal ikhlas yang luput dari pengetahuan-Nya.

Karena itu, jadikanlah ridha Allah sebagai kompas kehidupan. Perbaikilah shalatmu, luruskan niatmu, jaga akhlakmu, perbanyak istighfar, dan dekatkan dirimu kepada Al-Qur'an. Bila hubunganmu dengan Allah semakin kuat, maka badai penilaian manusia tidak akan mudah menggoyahkan hatimu.

Penutup

Jangan habiskan umur untuk mengejar pujian yang fana. Jadilah hamba yang ikhlas, teguh dalam kebenaran, dan istiqamah di jalan Allah.

Boleh jadi manusia tidak mengenal namamu, tetapi penduduk langit mengenang amalmu. Boleh jadi engkau tidak menjadi tokoh yang terkenal di bumi, tetapi menjadi hamba yang mulia di sisi Allah.

Sebab kemenangan sejati bukan ketika seluruh manusia memujimu, melainkan ketika Allah berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku mencintai hamba-Ku." Itulah kemuliaan yang tidak akan pernah pudar, baik di dunia maupun di akhirat.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa

Opini

×
Berita Terbaru Update