Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Proyek 1.000 Bioskop Desa, Jurnalis: Pembangunan Sistem Sekuler-Kapitalistik Lebih Sibuk Memperluas Hiburan

Senin, 01 Juni 2026 | 06:30 WIB Last Updated 2026-05-31T23:30:54Z

TintaSiyasi.id -- Menanggapi pernyataan Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Gerindra Rahmawati yang mengusulkan alokasi APBN 2027 untuk menghadirkan 1.000 bioskop desa demi mendukung industri perfilman daerah, Jurnalis Joko Prasetiyo menyebut pembangunan dalam sistem sekuler-kapitalistik sering kali lebih sibuk memperluas industri hiburan daripada menyelesaikan kebutuhan mendasar rakyat.

 

“Inilah yang menunjukkan bagaimana paradigma pembangunan dalam sistem sekuler-kapitalistik sering kali lebih sibuk memperluas industri hiburan daripada menyelesaikan kebutuhan mendasar rakyat,” lugasnya.

 

“Desa yang semestinya diperkuat dengan kemandirian ekonomi, pertanian, pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan, justru diarahkan menjadi pasar baru industri hiburan,” imbuhnya kepada TintaSiyasi.ID, Jumat (22/05/2026).

 

Ia mengkritik, masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya bioskop, tetapi arah prioritas negara dan cara pandang penguasa dalam mengelola anggaran rakyat.

 

Om Joy, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa selama negara masih dibangun dengan paradigma sekuler-kapitalistik, kebijakan yang lahir akan terus lebih dekat kepada industri hiburan daripada pengurusan umat.

 

Padahal dalam Islam, Om Joy menyebut, penguasa bukan sekadar pemegang jabatan, tetapi raa’in yang akan dihisab oleh Allah Swt. atas setiap rakyat yang diabaikan, setiap kemaslahatan yang ditelantarkan, dan setiap kebijakan yang tidak tunduk kepada syariat-Nya.

 

“Ironisnya lagi, industri hiburan hari ini banyak dipenuhi konten yang justru merusak moral generasi: pergaulan bebas, hedonisme, budaya konsumtif, hingga normalisasi gaya hidup sekuler yang menjauhkan manusia dari syariat Islam,” ungkapnya.

 

Maka Om Joy mengatakan, ketika negara mendorong perluasan bioskop hingga ke desa-desa, publik berhak bertanya, nilai apa yang sebenarnya sedang dibawa masuk ke tengah masyarakat.

 

“Kalaupun dibungkus dengan narasi “budaya” dan “kreativitas”, tetap saja hal itu tidak otomatis menyelesaikan problem utama rakyat. Sebab masalah desa bukan kurang hiburan, melainkan ketimpangan kesejahteraan, lemahnya pelayanan negara, dan sistem ekonomi yang lebih berpihak kepada kepentingan elite dibanding kebutuhan umat,” tambahnya.

 

Ia menegaskan, padahal dalam Islam, penguasa adalah raa’in (pengurus rakyat) yang wajib mengutamakan kemaslahatan umat, bukan sibuk membuka proyek-proyek yang tidak mendesak di tengah beratnya beban hidup masyarakat.

 

“APBN semestinya diprioritaskan untuk menjamin kebutuhan pokok rakyat, memperkuat pelayanan publik, serta memastikan distribusi kesejahteraan berjalan adil,” tandasnya.

 

“Islam tidak anti media dan teknologi, namun menempatkan media sebagai sarana pendidikan, dakwah, dan pembinaan masyarakat, bukan sekadar mesin industri hiburan yang menghabiskan anggaran di tengah banyaknya kebutuhan rakyat yang jauh lebih mendesak,” tegasnya.

 

Lanjut dikatakannya, dalam sistem Islam kaffah di bawah institusi khilafah, anggaran negara diprioritaskan untuk kemaslahatan riil umat, bukan perluasan industri hiburan di tengah problem rakyat yang masih menumpuk.

 

“Penguasa pun terikat dengan syariat Allah dalam setiap kebijakannya, karena kelak seluruh kekuasaan akan dihisab di akhirat, bukan sekadar dinilai oleh opini publik dan pencitraan dunia,” ulasnya.

 

Ia mengutip hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Tidaklah seorang hamba yang diberi amanah oleh Allah untuk mengurus rakyat, lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah haramkan baginya surga.”

 

“Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa kekuasaan bukan sekadar jabatan politik, melainkan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Penguasa yang lalai mengurus kebutuhan umat, atau lebih mengutamakan agenda yang jauh dari kemaslahatan rakyat, bukan hanya menghadapi kritik publik, tetapi juga ancaman hisab di hadapan Allah,” pungkasnya.[] Sri Nova Sagita

Opini

×
Berita Terbaru Update