Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jurnalis: Film Saat Ini Adalah Alat Membentuk Citra, Opini, dan Cara Pandang Masyarakat

Senin, 01 Juni 2026 | 06:30 WIB Last Updated 2026-05-31T23:30:58Z

TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menuturkan bahwa dunia perfilman saat ini bukan hanya sekadar industri hiburan tontonan biasa, melainkan alat membentuk citra, memengaruhi opini, hingga cara pandang masyarakat.

‎‎"Di era modern, film bukan sekadar tontonan. Banyak negara menjadikan industri hiburan sebagai soft power, yakni alat untuk membentuk citra, memengaruhi opini, menanamkan gaya hidup, dan menyebarkan cara pandang tertentu kepada masyarakat," ucapnya kepada TintaSiyasi.ID pada Selasa (23/05/2026).

‎‎

Ia menilai, hiburan perfilman ini memberikan pengaruh nilai yang sangat luas, "Karena itu, perluasan industri tontonan juga berarti perluasan pengaruh nilai. Apa yang terus ditampilkan di layar perlahan akan dianggap normal dan layak ditiru,” tegasnya.

 

Ketika hiburan diproduksi dan disebarkan secara masif, Joko mengkhawatirkan dapat membentuk standar berpikir masyarakat tentang agama, keluarga, pergaulan, dan kebebasan.  

"Di sinilah persoalannya menjadi serius. Sebab industri hiburan hari ini banyak dipenuhi konten yang sarat liberalisme, hedonisme, sensualitas, kekerasan, mistik, dan gaya hidup sekuler. Semua itu diproduksi, dipasarkan, lalu dinormalisasi melalui budaya populer," ungkapnya.

‎‎"Persoalannya menjadi semakin berat ketika kerusakan moral, normalisasi maksiat, dan penyebaran gaya hidup sekuler justru difasilitasi secara sistematis melalui industri hiburan,” ulasnya.

 

“Sebab setiap tontonan yang mendorong kemaksiatan dan menjauhkan manusia dari syariat dapat menjadi dosa jariah yang terus mengalir selama pengaruh buruk itu masih ditiru masyarakat," imbuhnya.

 

Pria yang akrab disapa Om Joy itu menekankan, dalam sudut pandang Islam dengan gamblang bahwa Islam tidak anti media, film, teknologi, maupun kreativitas. “Namun Islam menempatkan media sebagai sarana dakwah, pendidikan, dan pembinaan masyarakat, bukan sekadar mesin industri hiburan yang memperluas budaya konsumtif dan gaya hidup sekuler,” bebernya.

‎‎"Dalam sistem pemerintahan khilafah yang menerapkan syariat Islam secara kaffah, media dan budaya diarahkan untuk membentuk masyarakat yang bertakwa dan berkepribadian Islam (berpola pikir dan berpola sikap Islam), bukan menjadi saluran normalisasi nilai-nilai yang bertentangan dengan syariat," pungkasnya.[] Asma Ridha

Opini

×
Berita Terbaru Update