TintaSiyasi.id -- Antara Fiqih Amanah dan Kesadaran Sufistik dalam Mengabdi kepada Allah
Hari Raya Idul Adha bukan sekadar momentum penyembelihan hewan qurban. Ia adalah sekolah tauhid, madrasah pengorbanan, dan latihan spiritual untuk membersihkan hati manusia dari cinta dunia yang berlebihan. Di balik ibadah qurban tersimpan ideologi pesan, moral, sosial, dan sufistik yang sangat dalam.
Di tengah kondisi bangsa yang penuh tantangan ekonomi, kemiskinan, dan krisis amanah, muncul pertanyaan penting dalam masyarakat:
apakah qurban seharusnya menggunakan harta pribadi atau menggunakan uang rakyat dan fasilitas negara?
Pertanyaan ini bukan hanya soal teknis administratif, tetapi menyangkut hakikat ibadah, amanah kekuasaan, dan kemurnian penghambaan kepada Allah SWT.
Qurban sebagai Simbol Tauhid dan Pengorbanan
Allah SWT berfirman:
> “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa qurban bukan tradisi budaya semata, melainkan ibadah yang berhubungan langsung dengan tauhid dan penghambaan kepada Allah. Qurban adalah warisan spiritual Nabi Ibrahim AS yang rela menyerahkan apa yang paling dicintainya demi ketaatan kepada Allah SWT.
Hakikat qurban bukan hanya menyembelih kambing atau sapi, melainkan menyembelih:
ego,
,
kerakusan,
cinta dunia,
dan ketergantungan kepada selain Allah.
Oleh karena itu, qurban sejatinya adalah latihan menjadi hamba yang merdeka secara ruhani.
Perspektif Fiqh Islam tentang Harta Qurban
Dalam fiqh Islam, mayoritas ulama menjelaskan bahwa hewan qurban idealnya berasal dari:
harta halal,
milik pribadi,
dan diperoleh dengan cara yang sah.
Qurban adalah ibadah taqarrub, yaitu bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, sumber harta mempunyai pengaruh yang besar terhadap nilai spiritual ibadah tersebut.
Rasulullah SAW dan para sahabat berqurban dengan harta mereka sendiri. Mereka memahami bahwa makna pengorbanan akan terasa ketika seseorang benar-benar mengeluarkan sesuatu yang dicintainya demi Allah.
Allah SWT berfirman:
“Kalian tidak akan memperoleh keindahan yang sempurna sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai.”
(QS. Ali Imran: 92)
Ayat ini menegaskan bahwa nilai ibadah terletak pada pengorbanan yang lahir dari keikhlasan, bukan sekadar formalitas.
Amanah Uang Rakyat dalam Islam
Islam memandang bahwa uang rakyat bukan milik pribadi penguasa atau pejabat. Harta negara adalah amanah besar yang harus digunakan untuk kemaslahatan umum:
pendidikan,
kesehatan,
kesejahteraan sosial,
keamanan,
dan kebutuhan rakyat.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa': 58)
Oleh karena itu, penggunaan uang rakyat harus sangat hati-hati, transparan, dan benar-benar berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Jika qurban dilakukan menggunakan fasilitas negara atau dana publik, maka harus dilihat:
tujuan dan manfaatnya,
legalitas dan transparansinya,
serta kondisi sosial masyarakat.
Namun secara moral dan spiritual, qurban dengan harta pribadi tetap lebih mencerminkan keteladanan, keikhlasan, dan tanggung jawab seorang Muslim.
Dimensi Ideologis: Islam Mengajarkan Kemandirian Pengorbanan
Islam adalah agama yang membangun pengorbanan mental, bukan kemandirian mental. Umat Islam dididik agar menjadi:
pemberi,
Pemberontak,
dan pengabdi, bukan hanya penikmat fasilitas.
Qurban dengan harta pribadi melatih manusia untuk:
bekerja keras,
ikhlas memberi,
dan rela berkorban demi kepentingan umat.
Sebaliknya, jika semua simbol ibadah selalu dibebankan kepada uang publik, maka lambat laun ruh pengorbanan akan memudar. Ibadah bisa berubah menjadi formalitas administratif tanpa kedalaman spiritual.
Islam tidak ingin melahirkan manusia besar dalam pencitraan tetapi kecil dalam pengorbanan.
Perspektif Sufistik: Qurban adalah Penyembelihan Nafsu
Dalam pandangan sufistik, hewan qurban hanyalah simbol lahiriah. Yang sesungguhnya diperintahkan untuk disembelih adalah:
hawa nafsu,
Keserakahan,
cinta jabatan,
Riya,
dan mengawasi diri.
Banyak orang yang mampu membeli hewan qurban, namun belum mampu menyumbangkan:
ego,
ambisi dunia,
dan kecintaan berlebihan terhadap kekuasaan.
Padahal Allah tidak melihat besarnya hewan qurban, melainkan ketakwaan hati manusia.
Allah SWT berfirman:
“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini mengingatkan bahwa inti qurban adalah transformasi jiwa.
Kaum sufi mengajarkan bahwa Idul Adha adalah momentum untuk membunuh “Fir'aun kecil” dalam diri manusia:
keakuan,
kerakusan,
dan sakral spiritual.
Sebab seseorang belum benar-benar dekat kepada Allah jika dirinya masih memenuhi hasrat duniawi.
Keteladanan Pemimpin dalam Islam
Pemimpin yang dicintai rakyat bukanlah yang pandai menampilkan simbol agama, tetapi yang rela berkorban untuk rakyatnya. Ketika seorang pemimpin:
hidup sederhana,
berqurban dari hartanya sendiri,
dan merasakan penderitaan masyarakat, maka di situlah lahir keberkahan kepemimpinan.
Rakyat tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga keteladanan moral dan spiritual.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa para pemimpin besar justru hidup sederhana meskipun memiliki kekuasaan besar. Mereka takut memakan hak rakyat dan sangat berhati-hati terhadap amanah publik.
Krisis Zaman Modern: Hilangnya Ruh Pengorbanan
Hari ini manusia banyak mengejar:
kehormatan tanpa perjuangan,
Kekayaan tanpa pengorbanan,
dan kemuliaan tanpa pengabdian.
Padahal seluruh sejarah para nabi dibangun di atas pengorbanan.
Nabi Ibrahim AS mencintai kecintaan dunia.
Nabi Ismail AS menyerahkan dirinya demi ketaatan.
Rasulullah SAW memberikan kenyamanan hidup demi menyelamatkan umat manusia.
Idul Adha datang setiap tahun untuk mengingatkan bahwa: tidak ada kebahagiaan tanpa pengorbanan
penutup
Qurban sejatinya bukan tentang daging, melainkan tentang hati. Bukan tentang kemewahan hewan, tetapi tentang keikhlasan penghambaan kepada Allah SWT.
Oleh karena itu, qurban dengan harta pribadi lebih mencerminkan:
ketakwaan,
amanah,
tanggung jawab,
dan kejujuran spiritual.
Ibadah qurban harus menjadi jalan untuk membersihkan jiwa dari cinta dunia dan melatih manusia agar lebih peduli kepada sesama.
Sebab pada akhirnya, yang sampai kepada Allah bukan darah dan dagingnya, melainkan hati yang ikhlas, jiwa yang pasrah, dan pengorbanan yang lahir dari ketakwaan.
Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)