Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kisah Ibrahim dan Ismail Menunjukkan Perintah Allah di Atas Segala-galanya

Kamis, 28 Mei 2026 | 22:05 WIB Last Updated 2026-05-28T15:05:45Z


 


Tintasiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menuturkan bahwa di balik ibadah kurban yang selalu dirayakan setiap tanggal 10 Zulhijah terdapat kisah luar biasa Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. yang menempatkan perintah Allah diatas segala-galanya.

 

"Terdapat pelajaran besar (Idulkurban) tentang bagaimana seorang manusia menempatkan perintah Allah Swt. di atas segala-galanya. Nabi Ibrahim as. diperintahkan menyembelih Ismail, putra yang begitu beliau cintai dan nantikan selama puluhan tahun, secara manusiawi, perintah itu sangat berat," ucapnya kepada TintaSiyasi.ID pada Selasa (26/05/2026).

 

Ia melanjutkan, meski sangat berat, Nabi Ibrahim as. tidak membantah, tidak menawar, serta tidak merekayasa perintah Allah agar terasa lebih ringan. "Di sinilah letak perbedaan besar antara keteladanan para nabi dan manusia modern hari ini," bebernya.

 

Ia menilai, manusia modern justru hidup di era yang serba ingin mudah, nyaman, cepat, dan minim pengorbanan. “Padahal saat ini teknologi tengah berkembang pesat serta AI mampu membantu manusia menulis, berbicara, mencari jawaban, bahkan mengambil Keputusan,” terangnya.

 

"Namun ironisnya, ketika teknologi semakin canggih, tidak sedikit manusia justru semakin sulit tunduk sepenuhnya kepada aturan Allah Swt.," keluhnya menjelaskan.

 

Adapun, ia memandang, Allah Swt. pun hingga saat ini tidak pernah memerintahkan manusia modern menyembelih anaknya sendiri sebagaimana ujian yang diberikan kepada Nabi Ibrahim as. “Namun, hari ini manusia terbiasa menimbang segala sesuatu berdasarkan tren, popularitas, keuntungan, opini publik, dan algoritma media sosial,” sesalnya.

 

"Akibatnya, ukuran benar dan salah perlahan bergeser dari wahyu menuju selera manusia. Padahal seorang Muslim sejati tidak menempatkan teknologi, algoritma, dan popularitas di atas syariat Allah Swt.," terangnya.

 

"AI boleh berkembang, media sosial boleh semakin canggih, namun ketika manusia mulai lebih takut kehilangan followers daripada kehilangan rida Allah Swt.. Di situlah masalah besar peradaban modern mulai terlihat," tambahnya.

 

Meski demikian, ia menerangkan bahwa hingga saat ini kemaksiatan sering tidak lagi tampil dalam bentuk kasar dan terang-terangan, melainkan dibungkus dengan estetika digital, hiburan, algoritma, dan pencitraan modern.

 

"Ada influencer yang sebenarnya memahami batas halal-haram, tetapi memilih mengikuti tren aurat terbuka demi engagement dan viewers. Ada konten kreator yang tahu suatu candaan merendahkan agama atau menormalisasi maksiat, tetapi tetap melakukannya karena takut kehilangan pasar. Ada selebgram yang awalnya menjaga syariat, lalu perlahan berubah karena tekanan industri digital dan tuntutan popularitas," ungkapnya.

 

Akibatnya, ia melihat ada juga orang yang takut berbicara jujur tentang Islam dengan alasan takut di cap sebagai radikal, kehilangan sponsor, kontrak bisnis atau terkait. "Bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya lebih sibuk menjaga citra digital daripada menjaga amalnya di hadapan Allah Swt.," bebernya.

 

Sehingga, pria yang akrab disapa Om Joy itu menekankan makna kurban sesungguhnya bukan hanya tentang hewan yang disembelih, tetapi tentang apa yang siap dikorbankan manusia demi mempertahankan ketaatan kepada Allah Swt..

 

"Di era AI, pertarungan terbesar bukan lagi antara manusia dan mesin, tetapi antara wahyu dan hawa nafsu manusia yang semakin dimanjakan teknologi. Karena itu, ibadah kurban seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Namun harus menjadi momentum apakah manusia hari ini lebih dekat kepada keteladanan Ibrahim as., atau justru semakin jauh dari ketaatan total kepada Allah Swt.?" pungkasnya.[] Taufan




Opini

×
Berita Terbaru Update